Dara kembali berlinang air mata, bak embun pagi yang perlahan luruh ke tanah, tersentuh oleh rangkaian kata yang meluncur dari bibir Daffa. Setiap suku kata yang terucap mengalun seperti simfoni yang menenangkan, menelusup lembut ke dalam relung hatinya yang rapuh. Hati Dara bergetar, terhanyut dalam arus ketulusan yang dipancarkan Daffa. Dengan jemari hangatnya, Daffa kembali menghapus butiran air mata yang mengalir di pipi Dara. Kulitnya yang dingin bertemu dengan sentuhan lembut pria itu, seakan memberi keteduhan di tengah badai emosi yang berkecamuk. Ibu hamil memang bagai kelopak bunga yang rentan diterpa angin, begitu sensitif terhadap setiap desiran perasaan. Daffa sadar, setiap kata yang ia lontarkan harus disusun dengan hati-hati, agar tak menyakiti perempuan yang begitu ia c

