Aku hanya Mencintai Kamu

1004 Kata

Daffa mengusap rambut perempuan itu dengan kelembutan yang menyerupai belaian angin senja, sehalus desir ombak yang menyentuh bibir pantai. "Udaah, jangan dibahas lagi. Sekarang tidur. Besok bangun pagi-pagi, olahraga, sarapan, minum vitamin, kemudian melakukan aktivitas seperti biasa." "Eeeuumm … kerja di kafe Mas Daffa?" suara Dara mengalun lirih, hampir seperti hembusan angin yang takut merusak keheningan malam. "No! Kamu nggak boleh kerja lagi. Di rumah aja. Aku nggak mau kamu pingsan lagi." Suara Daffa tegas, namun ada kelembutan yang terselip di dalamnya, seperti matahari pagi yang menyentuh kelopak bunga. "Besok aku mau ke kampus dulu. Mau ikut?" "Haah? Nggak ah, Mas. Malu. Lulus SMA aja nggak," ujarnya, seolah ada awan kelabu yang menggantung di balik matanya. Daffa terkekeh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN