Bagian 25

1076 Kata
Para prajurit Kerajaan Asytar menatap tak percaya pada ratusan lawan yang muncul secara tiba-tiba dari tengah kolam pancuran di taman istana. Mereka sempat terdiam beberapa saat sebelum menghunus pedang. Meskipun istana telah terkepung, jiwa kesatria menolak untuk menyerah. Derap langkah kaki dua kubu kesatria pun mengusik keheningan malam. Srat! Trang! Pedang, tombak, dan tameng saling beradu. Dentingnya terasa memekakkan telinga. Anak panah dilepaskan dengan brutal. Belasan tubuh tumbang bersimbah darah. Rumput di halaman istana kini dipenuhi bercak-bercak merah berbau anyir. “Usahakan tidak sampai membunuh lawan, cukup lumpuhkan saja!” seru Pangeran Fayruza. “Siap, Pangeran!” Perintah sang pangeran membuat Gulzar Heer terpaksa mengurangi keakuratan tusukan pedangnya. Dia tak lagi mengincar jantung ataupun leher lawan, cukup bagian kaki agar musuh tak bisa lagi berdiri. Beberapa kali sang kesatria wanita bahkan hanya memukul telak di tengkuk setelah membuat helm musuh terlepas. Sementara itu, Pangeran Fayruza lebih banyak menggunakan mananya untuk memulihkan prajurit yang terluka. Namun, dia kadang harus melakukan perlawanan juga. Pangeran Fayruza hanya akan mengurung lawan dengan bola air raksasa, hingga lemas. Sraaat! Seorang prajurit Kerajaan Asytar mendadak melompat dengan pedang terhunus ke arah Pangeran Fayruza. Gulzar Heer berlari dengan kecepatan tinggi. Tak ayal, punggung lawan langsung dihadiahkan goresan dalam memanjang hingga ke tulang ekor. Darah menyembur, membasahi wajahnya. Prajurit malang itu ambruk di lantai marmer. “Anda baik-baik saja, Pangeran?” Gulzar Heer menatap cemas Pangeran Fayruza. Sang pangeran tersenyum lembut. “Iya, berkatmu aku bisa selamat, terima kasih, Gulzar.” Gulzar Heer mengangguk dengan hormat. Dia kembali bergabung bersama Pangeran Heydar dan menari bersama pedang mereka, indah sekaligus meremangkan bulu kuduk. Keduanya terus merangsek. Pihak lawan semakin terdesak. Rumor kemampuan prajurit Kerajaan Asytar akan berkurang jauh tanpa Raja Atashanoush ternyata tidaklah salah. Ya, mereka benar-benar seperi anak ayam kehilangan induk. Teknik dan strategi serangan terlalu buruk, sehingga sangat menguras stamina. Semakin waktu berjalan, kekuatan pasukan Kerajaan Asytar berkurang sampai setengahnya. Tak ayal, mereka menjadi bulan-bulanan para kesatria Kerajaan Arion. Keadaan semakin genting. Tanpa disadari siapa pun, Panglima Kerajaan Asytar memisahkan diri, menyelinap masuk ke bagian dalam istana. *** Usapan lembut di kepala membuat Putri Arezha membuka mata. Senyuman lembut Raja Atashanoush tertangkap pandangan. Dia memang sedang terbaring di tempat tidur diapit oleh Raja Atashanoush dan mayat Ratu Daria. Untunglah, sang ratu tetap memesona meskipun sudah tidak bernyawa. Jika tidak pengalaman tidur di samping jasad yag telah mati tentu menyeramkan. “Sudah bangun, Farah?” Nama Farah menyentak kesadaran Putri Arezha. Kini, dia sudah mengerti apa yang terjadi. Sang raja bukan bermaksud menculik, tetapi salah mengiranya sebagai putri yang dibuang. Wajah Raja Atashanoush yang memancarkan kerinduan mendalam itu membuatnya teringat kepada Raja Faryzan. Dulu, Putri Arezha pernah tersesat di hutan. Ayahnya turun tangan mencari sendiri tak peduli bahaya yang mengancam dan langsung menangis haru begitu menemukan sang putri. Kejadian-kejadian aneh yang dialaminya selama dibawa Raja Atashanoush membuat pikiran sedikit kacau. Dia lupa perbuatan penguasa Kerajaan Asytar tersebut bisa memicu masalah besar dan konflik antar negara. Putri Arezha menggigit ujung kuku. Dia pun membatin, “Aduh, bagaimana kalau sampai Ayah mengira aku diculik dan beliau menyerang Kerajaan Asytar? Tidak, tidak! Ayah pasti akan memilih diplomasi lebih dulu. Beliau tidak suka perang. Yang penting sekarang aku harus menjelaskan semuanya pada Raja Atashanoush agar dia mengembalikanku. Mungkin nanti juga bisa berjanji mencarikan putrinya itu.” “Farah putriku, ada apa?” Suara berat yang khas milik Raja Atashanoush membuyarkan lamunan. Putri Arezha menguatkan hati untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia tak peduli jika nyawa menjadi taruhan. Kesalahpahaman harus segera diluruskan agar tidak memicu perang antar kerajaan. “Yang Mulia, Anda sudah salah sangka. Saya bukan putri Anda,” ucap Putri Arezha hati-hati. Sesekali dia melirik wajah Raja Atashanoush memastikan lelaki yang terkenal kejam itu tidak sedang murka. Namun, sang raja malah terlihat sedih. “Kau memang pasti sulit menerimanya, tapi perlahan akan bisa," bujuk Raja Atashanoush sambil mengusap lembut kepala Putri Arezha. Sorot mata yang tajam dan dingin terasa hangat, benar-benar memancarkan kerinduan seorang ayah, Putri Arezha menelan ludah, semakin tidak enak hati. Dia pun mencoba protes. “Bukan begitu, Yang Mulia, tapi saya buk–” Wusssh Angin kencang memporak-porandakan beberapa barang di kamar. Cahaya keemasan berpendar terang sebelum menjelma wanita cantik berambut keemasan. Putri Arezha sempat terpaku karena pesonanya. Wanita itu tak asing. Dialah Houri, peri kupu-kupu emas yang sebelumnya menemui Gulzar Heer. Namun, warna rambutnya berbeda karena telah memiliki kekuatan sejati peri kupu-kupu emas. Houri mendekat dan langsung mencengkeram kerah baju Raja Atashanoush. “Dasar bodoh! Kenapa kamu malah menculik putri orang, Atashanoush,” geramnya dengan mata melotot. Raja Atashanoush mendelik dan mendekap Putri Arezha erat. “Dia putriku! Aku tidak akan memberikannya kepada orang lain lagi!" Houri mendecakkan lidah. Rasa ingin mengubah seseorang menjadi kodok tiba-tiba menyeruak. Untunglah, dia bisa mengendalikan kemarahannya. "Dia bukan putrimu!" "Itu tidak mungkin! Bukankah Kau bilang dia mirip Daria, ‘kan? Putriku ini sangat mirip Daria.” “Mirip dari mananya?” sergah Houri dan Putri Arezha kompak. “Dia yang begitu ceria–” “Mirip wajahnya, Atashanoush, bukan mirip sifatnya! Kalau sifatnya, putrimu itu lebih mirip kamu, dingin, kaku, menyebalkan, dan hanya akan hangat pada orang yang dicintai," potong Houri cepat. Putri Arezha tercenung. Otaknya berpikir cepat, menghubungkan setiap peristiwa yang telah terjadi. Dia mencoba-coba mengingat sosok mirip Ratu Daria, tetapi memiliki warna rambut dan mata hitam pekat. Sikapnya dingin dan menyebalkan. Kejadian di Padang Bunga Merilion kembali melintas. Putri Arezha menepuk kening. “Ah, aku tahu siapa putri Anda, Yang Mulia!” serunya. “Gul–” Ketukan pintu memotong pembicaraan. Putri Arezha tak jadi melanjutkan ucapannya. Raja Atashanoush mendengkus. “Ada apa?” serunya menggelegar. “Maafkan hamba menganggu, Yang Mulia! Istana kita dikepung Kerajaan Arion! Kami kewalahan, ada kesatria wanita yang sangat kuat dan mengerikan.” Terdengar sahutan dari luar. Raja Atashanoush berdiri. Dia menatap Putri Arezha. Lengan kokoh kembali mengusap-usap rambut. “Ayah akan segera kembali, Farah.” Raja Atashanoush mengalihkan pandangan kepada Houri. “Adik ipar, jaga putriku baik-baik.” Raja Atashanoush mengambil pedangnya, lalu bergegas ke luar kamar. Dia sempat mengarahkan tangan ke pintu sebelum pergi. Putri Arezha dan Houri tercenung sejenak, saling memandang, lalu membelalakkan mata. “Kesatria wanita yang sangat kuat ... tidak, kutukannya!” seru mereka bersamaan. Keduanya berlari ke arah pintu. Namun, mereka terlempar ke belakang. Houri mendecakkan lidah. “Argh! Si bodoh Atashanoush menyegel kita.” Houri mengarahkan tangannya ke barrier tak kasat mata. Kilatan-kilatan cahaya terasa menyilaukan. Rasa sakit perlahan menjalar di lengan, tetapi dia tak peduli. “s**l, susah sekali dihancurkan!” umpatnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN