Bagian 12

1082 Kata
Aroma rumput basah menyegarkan paru-paru. Arena kompetisi gegap-gempita. Sorakan-sorakan menaikkan tensi. Kemarin, babak penyisihan selesai menjelang malam. Namun, hujan lebat turun semalaman, sehingga pertandingan final akan dilaksanakan pagi ini. Kini, dua pemenang masing-masing grup telah berdiri berhadapan di arena. Grup pertama dimenangkan oleh Pangeran Ardavan. Sementara Pangeran Heydar menjadi sang juara di grup kedua. Putri Arezha tampak cemas di kursi kehormatan. Shirin bahkan sampai memucat. Gulzar Heer tak ikut menonton karena menjaga Pangeran Fayruza yang diharuskan kembali ke istana Kerajaan Khaz untuk memulihkan kondisi. “Pertandingan final antara Pangeran Ardavan dan Pangeran Heydar dimulai!” seru wasit. Sorakan-sorakan penonton membahana, lebih nyaring daipada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Beberapa dari mereka bahkan melakukan taruhan. Meskipun Pangeran Heydar yang namanya tersohor dalam peperangan, ternyata cukup banyak juga pendukung Pangeran Ardavan. Sementara itu, kedua pangeran saling menatap tajam di tengah lapangan. Pedang terhunus. Tak memerlukan waktu lama hingga besi dingin itu saling beradu, menimbulkan bunyi yang membuat gigi ngilu. Pangeran Ardavan menyeringai. Dia begitu yakin akan dapat memenangkan kompetisi. Kemarin, Pangeran Heydar menerima tawarannya. Sang adik harus berpura-pura kalah, maka dia berjanji akan berhenti menganggu hidupnya dan membantu agar bisa menikahi Shirin. Pangeran Heydar yang memang tidak ingin menikah dengan Putri Kheva tentu saja langsung setuju. Sebelumnya, Pangeran Ardavan juga telah menyogok wasit agar hasil undian menguntungkannya. Oleh karena itulah, petarung-petarung hebat ada di tim yang sama dengan Pangeran Heydar pada babak penyisihan. Srat! Trang! Kedua pangeran saling menebas. Ujung rambut Pangeran Ardavan terpotong sedikit. Sementara Pangeran Heydar harus merelakan hiasan pada gagang pedangnya. Pertempuran terlihat begitu sengit di mata penonton. Padahal, Pangeran Heydar hanya menurunkan kecepatan serangan agar sang kakak bisa mengimbangi. Dia juga begitu pandai bersandiwara seolah-olah terdesak. Puncaknya, Pangeran Heydar melakukan serangan dengan teknik buruk, hingga pedangnya terlempar. “Haaa!” seru Pangeran Ardavan dengan pedang terhunus. Pangeran Heydar menangkis dengan sarung pedang. Lalu, dia mengangkat tangan, tanda menyerah. Wasit langsung memberi isyarat bahwa kompetisi telah berakhir. Sayangnya, Pangeran Ardavan tak menepati janji. Dia mendadak merangkul Pangeran Heydar. Tingkahnya seolah bersahabat, tetapi sambil mengarahkan belati ke arah d**a sang adik, tepatnya jantung. Pangeran Heydar terperanjat. Untunglah, refleksnya cukup baik. Dia cepat menghindar, tusukan fatal gagal, belati Pangeran Ardavan hanya mengenai perut. “Ck! s**l!” umpat Pangeran Ardavan. Dia menarik kembali belati. Gerakannya sangat cepat hingga wasit tak sempat melihat perbuatan kotor tersebut. Pangeran Heydar menekan luka di perutnya agar tidak mengeluarkan darah. Wasit berseru, “Pangeran Heydar menyerah, Pangeran Ardavan memenangkan pertandingan!” Sorak-sorai membahana. Rakyat Kerajaan Khaz tentu bergembira. Putri Kheva akan mendapatkan suami terbaik, tampan, kuat, dan calon raja dari kerajaan besar. Meskipun para pangeran dari negeri lain merasa patah hati, mereka tetap memberikan ucapan selamat. Nama Pangeran Ardavan dielu-elukan. Dia segera diarak menuju tempat perayaan kemenangan. Namun, ada juga beberapa yang curiga, terutama lawan-lawan Pangeran Heydar pada babak penyisihan. “Kemampuan Pangeran Heydar terlihat buruk hari ini, bukankah itu aneh?” “Kau juga merasa begitu? Kemarin, dia sangat kuat sampai membuatku kewalahan.” “Ah, kalian ini hanya tidak mau mengakui kekalahan dari Kerajaan Arion.” “Tapi ....” “Sudahlah, kita harus segera mengikuti perayaan kemenangan Pangeran Ardavan.” Para pangeran pun ikut rombongan ke tempat perayaan. Sementara itu, Pangeran Heydar sedikit oleng, tetapi tetap berusaha berdiri tegar. Dia segera menuju tenda pengobatan. Sebelumnya, dia sempat memberi isyarat kepada Shirin agar mengikuti. Namun, sosok yang mengekor justru Putri Kheva. Entah bagaimana caranya sang putri menyelinap. Kini, dia berdiri dengan tatapan nyalang di hadapan Pangeran Heydar. Jemari halus tampak terkepal kuat. “Kenapa Anda mengalah, Pangeran Heydar?” cecarnya. Dia bahkan seolah lupa dengan tata krama seorang tuan putri. Pangeran Heydar menaikkan alis. “Mengalah bagaimana, Tuan Putri?” “Anda seharusnya bisa menang melawan Pangeran Ardavan.” Pangeran Heydar tergelak. “Pangeran Ardavan memang sangat hebat. Saya tidak mungkin menang, Putri.” Putri Kheva mendengkus. Gemeletuk giginya terdengar samar. Sementara itu, Pangeran Heydar meringis. Luka di perutnya semakin terasa perih. “Tidak, Anda berbohong! Anda bisa menghadapi dua ekor hizkel seorang diri sedangkan Pangeran Ardavan kewalahan padahal sudah dibantu saya,” sergah Putri Kheva. “Ah, jadi karena itu, Anda menyimpulkannya. Itu hanya kebetulan, hizkel yang saya hadapi lebih lemah saja,” kilah Pangeran Heydar. Dia tersentak saat darah merembes di perut. "Sepertinya, saya harus segera beristirahat, Putri. Saya permisi.” Pangeran Heydar melakukan salam penghormatan sebelum berlalu dengan tergesa. Putri Kheva sempat terpaku, sebelum tergopoh-gopoh ke satu arah, tenda pengobatan. Sesampainya di sana, dia malah ragu hendak masuk, hanya mondar-mandir di sekitar tenda. Shirin tiba-tiba berlari ke arah tenda dan merangsek masuk. Pelayan cantik itu tampak panik, hingga tak menyadari keberadaan sang putri. Putri Kheva menjadi penasaran dan memutuskan untuk mengintip dari balik pintu tenda. Pangeran Heydar tampak terbaring di kasur darurat dengan darah terus merembes di bagian perut. Bajunya sudah dipenuhi bercak-bercak merah. Putri Kheva meremas ujung kain tenda. Sementara itu, melihat Shirin mendekat, Pangeran Heydar memaksakan diri untuk duduk. “Akhirnya, kamu datang juga, Sayang.” Pangeran Heydar langsung mengecup kening Shirin begitu gadis itu duduk di sebelahnya. Putri Kheva terperangah. Dadanya serasa terbakar. “Jangan banyak gerak dulu, Pangeran. Hamba akan melakukan pengobatan dengan manna,” cetus Shirin. “Hatiku ini juga perlu diobati,” goda Pangeran Heydar sembari mengedipkan mata, membuat Shirin mengerutkan bibir dan Putri Kheva mencengkeram kain tenda hingga robek. “Pangeran ....” Pangeran Heydar terkekeh. “Oke, baik-baik, aku akan bersikap baik, Nona Penyembuh.” Dia melepas baju. Tubuh atletis dengan enam otot perut yang basah oleh darah terpampang jelas. Putri Kheva di luar tenda refleks menutup mata dengan telapak tangan, tetapi dengan jari-jari direnggangkan. Shirin menyentuh luka menganga di perut pangeran Heydar. Cahaya biru berpendar. Darah yang tadi merembes, masuk kembali ke pembuluh darah. Sobekan perlahan menutup. “Cantik,” cetus Pangeran Heydar sembari menyelipkan poni Shirin ke belakang telinga. Putri Kheva seketika melotot. “Jangan menganggu konsentrasi saya, Pangeran!” ketus Shirin, lalu kembali fokus pada luka hingga tertutup sempurna. Tak lupa dia membersihkan sisa-sisa darah dengan kain bersih. Wajah serius Shirin membuat Pangeran Heydar menyeringai. Lengan kokoh menarik sang kekasih ke dalam pelukan. Tubuh mereka terbaring di atas kasur darurat. Putri Kheva menggigit bibirnya. “Jangan, Pangeran ...,” gumam Shirin dengan suara bergetar. “Tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Aku akan menikahimu dulu sebelum berbuat lebih jauh ha ha ha. Aku hanya ingin memelukmu, Shirin.” “Pangeran ....” Shirin menyadandarkan kepala di d**a bidang Pangeran Heydar. Tangan kokoh mengusap rambutnya dengan lembut. Mereka pun larut dalam kemesraan yang manis, tak menyadari Putri Kheva yang tengah menggemeletukkan gigi di luar tenda. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN