Bagian 14

1103 Kata
Buuuk! Tinju Gulzar Heer meninggalkan lebam di pipi bercodet pembunuh bayaran. Farzam langsung menjauhkan putrinya. Sebagai kesatria Pangeran Fayruza, tindakan anarkis Gulzar Heer bisa menjadikan tuduhan palsu semakin kuat. Aula istana mulai riuh. Seperti dugaan Farzam, bisikan-bisikan tak sedap mulai bersahutan. “Sepertinya, Pangeran Fayruza benar-benar membayar mereka.” “Rasanya tidak mungkin pangeran yang begitu lembut–” “Bisa saja Pangeran Fayruza dihasut Pangeran Heydar. Lihatlah, Nona Gulzar yang begitu bernafsu membunuh para penjahat itu untuk menutup mulut mereka!” Gulzar Heer menggeram. Dengkusan napas kasarnya terdengar samar. Ratu Azanie terkulai tak sadarkan diri. Pangeran Fayruza berusaha menenangkan Pangeran Heydar yang mulai terbakar amarah. Sementara itu, Putri Kheva mengepalkan tangan dan melirik curiga kepada suaminya. Perkataan si penjahat sangat tidak masuk akal. Orang bodoh mana yang menyewa pembunuh dengan menyebutkan identitas, apalagi seorang pangeran. Saat keributan mencapai puncaknya, Putri Arezha berseru, “Tenanglah! Kita bisa mencari tahu kebenarannya.” Kericuhan terhenti sejenak. Putri Arezha menghampiri lelaki bercodet diikuti Shirin. Dia meraih tangan yang terkulai dan menggenggamnya kuat. Cahaya berpendar, lalu perlahan membentuk potongan gambar di langit-langit aula. ... Suasana pasar tampak ramai. Dua sosok bertubuh kekar berjalan cepat diiringi pemuda tinggi langsing berpakaian serba hitam. Mereka berbelok ke sudut sepi. “Jadi, apa yang harus kami lakukan?” tanya lelaki kekar bercodet. “Tugas kalian adalah menyerang Pangeran Ardavan di hari pernikahannya.” “Penjagaan sangat ketat, tidak mungkin–” “Tenang saja, itu urusan kami untuk membuka jalan. Kalian juga tidak perlu khawatir jika tertangkap. Tuanku akan membebaskan kalian.” “Pekerjaan yang cukup menggiurkan, tapi–” Pemuda berpakaian serba hitam melemparkan kantung kulit. Si codet refleks menangkapnya. Mendengar gemerincing dari dalam kantung, dia langsung membukanya. Kemilau uang emas begitu menyilaukan. “Baiklah kami terima!” ucapnya mantap. “Kalian harus mengerjakan dengan baik karena ini adalah pekerjaan yang diberi langsung oleh Pangeran Heydar dan Pangeran Fayruza.” “Baik. Kami akan–” Belum habis ucapan si codet, pemuda berpakaian serba hitam menghilang, berbaur dengan keramaian pasar. “Aneh sekali, biasanya klien kita tidak menyebutkan nama, tapi kenapa yang tadi membawa-bawa nama Pangeran Heydar dan Pangeran Fayruza?” celetuk kawan si codet. “Dasar bodoh! Masa kau tidak mengerti? Sebenarnya, kita disuruh merusak nama baik kedua pangeran. Mungkin ada pangeran lain hendak menyingkirkan mereka.” “Wah, kehidupan istana ternyata sangat mengerikan,” cetus sang kawan sambil tertawa lepas. “Ah, kenapa harus memikirkan hal itu? Lebih baik kita minum-minum.” “Yeah, kita minum sampai muntah!” Keduanya kembali tergelak, lalu berjalan bersisian menuju bar di lorong tergelap pasar. ... Cahaya yang menampilkan ingatan masa lalu penjahat perlahan memudar. Putri Arezha merosot dengan darah mengalir dari hidung. Shirin menyangga tubuh tuannya dan melakukan teknik penyembuhan. Aula utama istana kembali ricuh. Para bangsawan yang tadi menuduh Pangeran Fayruza dan Pangeran Heydar saling menyalahkan. Mereka juga mulai menebak-nebak siapa dalang sebenarnya. “Arrrgh!” Teriakan kesakitan terdengar memilukan. Tubuh lelaki bercodet terkulai dengan bersimbah darah. Pangeran Ardavan menarik pedang yang tadi ditusukkan ke d**a si penjahat. “Kenapa kau bunuh dia, Ardavan?” seru Raja Faryzan. Pangeran Ardavan berpura-pura terperanjat. Dia langsung menjatuhkan pedang dengan dramatis, lalu berlutut di hadapan sang ayah. "Maafkan hamba, Yang Mulia. Saat mendengar dia mencoba mengadu domba kami bersaudara, saya tanpa sadar ...." Raja Faryzan menghela napas berat. “Sudahlah, dia tidak bisa dihidupkan lagi.” Dia langsung menghampiri Farzam. “Perketat penjagaan istana! Selidiki masalah ini!” titahnya. “Akan kami laksanakan, Yang Mulia!” Aula masih ricuh. Masalah itu tentu akan menjadi isu besar bagi para bangsawan. Raja Faryzan mengangkat tangan, lalu mengeluarkan beberapa titah untuk mengendalikan suasana. Setelah itu, dia menghampiri putri kesayangan yang tengah dipulihkan. Putri Arezha tampak masih lemas. *** “Gerakanmu semakin cepat saja, Gulzar.” “Anda yang melambat, Pangeran.” Suara-suara familiar itu membuat Putri Kheva yang tengah berjalan-jalan di taman istana menghentikan langkah. Dia pun mengintip. Pipinya seketika bersemu. Pangeran Heydar dan Gulzar Heer tengah beradu pedang di sana. Keduanya saling menebas dengan kecepatan tinggi. Teknik-teknik pedang yang sulit seolah hanya tampak seperti permainan bagi mereka. Kekaguman Putri Kheva semakin meluap-luap. Sraat! Traang! Gerakan Pangeran Heydar terkunci. Pedang Gulzar Heer mengarah ke lehernya. Latihan pun diakhiri. Sang kesatria pamit undur diri. Kini, Pangeran Heydar tertinggal sendiri. Dia memejamkan mata, menikmati semilir angin malam yang mempermainkan helaian rambut. Cahaya purnama menyirami tubuh atletisnya, menambah pesona. Putri Kheva meremas jemari. Kerinduan dan luapan rasa melesak dalam d**a. Tanpa sadar, dia menghampiri sang pangeran, lalu memeluk dengan erat. Pangeran Heydar tersentak. “Apa yang Anda lakukan, Putri?” Dia mencoba melepaskan pelukan. “Aku sudah lama ingin melakukan ini.” Putri Kheva mengeratkan pelukan. “Anda sudah gila!” “Iya, aku sudah gila karena jatuh cinta padamu! Hatiku ini hanya untukmu, Heydar. Kita bisa menjalin hubungan diam-diam.” Pangeran Heydar refleks mendorong Putri Kheva, membuatnya terduduk di tanah. Sorot mata elang menatap jijik, menggores hati sang putri. Pangeran Heydar hampir melangkah pergi. Namun, dia berbalik, lalu tersenyum sinis. “Jaga martabat Anda. Saya akan menganggap tidak mendengar apa pun.” “Kamu begini karena pelayan rendahan itu, ‘kan? Aku jauh lebih baik darinya!” seru Putri kheva. Tangan kokoh seketika terkepal. Gigi bergemeletuk. Sementara sudut bibir berdarah karena digigit terlalu kuat. Pangeran Heydar menggeram. “Rendahan? Bukankah tingkah Anda sekarang yang terlihat rendahan?” Pangeran Heydar beranjak pergi. Putri Kheva mencengkeram rumput, hingga kuku-kukunya kotor oleh tanah. Isakan menyayat terdengar samar. Harga dirinya benar-benar telah terkoyak. “Apa yang kamu lihat dari pelayan s**l–” Putri Kheva tersentak saat semak terlihat bergerak-gerak. Dia refleks menarik belati yang dari balik gaun. Namun, saat posisi telah siaga, justru wajah sang adik yang tertangkap pandangan. “Man-manvash?” Putri Kheva tergagap. “Jika sampai Manvash mendengar pembicaraanku dengan Pangeran Heydar tadi, bisa gawat!” jeritnya dalam hati. Namun, Putri Manvash tersenyum lembut. Dia menepuk pelan pundak kakaknya. “Tenang saja, Kak. Ini akan jadi rahasia. Aku mengerti perasaanmu karena mengalami hal yang sama.” Putri Kheva mengerutkan kening. Putri Manvash menghela napas berat sebelum memulai cerita cintanya yang bertepuk sebelah tangan kepada Pangeran Fayruza. Kakak beradik itu pun saling berpelukan, berbagi luka. “Seharusnya, kita beri saja mereka ramuan sihir cinta, ya,” celetuk Putri Kheva. Putri Manvash kembali menghela napas. “Pengendali mana tingkat tinggi seperti Pangeran Fayruza pasti memiliki perlindungan–” Putri Manvash tak melanjutkan ucapan. Pembicaraan tentang penyihir membuatnya tercenung. Wajahnya semringah begitu ide gila melintas. “Bagaimana kalau kita memberi pelajaran pada kesatria dan pelayan tidak tahu diri itu, Kak?” “Apa maksudmu, Manvash?” Putri Manvash menyeringai. Dia mendekatkan bibir ke telinga sang kakak, lalu berbisik. Putri Kheva terbelalak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN