Kamar pengantin dipenuhi aroma bunga mawar merah. Di meja rias, perlengkapan make up tersusun rapi, sementara lampu sorot kecil menerangi wajah Nina yang sedang dirias. Tara yang sudah selesai dirias berdiri di samping Nina. Malam ini dia bertugas sebagai pendamping pengantin. Sesekali dia menepuk pundak calon sahabatnya itu sambil tersenyum. “Akhirnya hari ini datang juga, Mbak. Deg-degan, ya?” Nina tersenyum tipis, menatap bayangan dirinya di cermin. “Deg-degan banget, Dek. Rasanya campur aduk—senang, takut, haru… semua jadi satu.” “Tenang saja, Mbak. Acaranya akan berjalan lancar.” Tara lalu meraih tangan Nina, menggenggamnya erat. “Aamiin, semoga tidak ada masalah lagi.” Nina menarik napas panjang, berusaha menahan air mata agar tidak merusak riasannya. Make up artist yang sedang

