Anya masih berusaha menemukan seseorang yang bernama Alvaro Raihan Pranata. Berbagai sudut sekolah sudah ia datangi, tetapi sama sekali tidak pernah menemukan pemuda dengan nama itu. Beginilah akibatnya tidak memperhatikan perkenalan anggota OSIS kemarin, ia kelabakan sendiri. Gadis itu sudah mencoba untuk bertanya kepada siapa pun yang bisa ia berikan pertanyaan, tetapi tak ada yang mau memberitahu mengenai pemuda tersebut. Dalam posisi semacam ini, Anya jadi penasaran siapa itu Raihan? Kenapa ia satu-satunya anggota OSIS yang tak bisa ia temui keberadaannya?
Bel masuk berbunyi. Anya melirik arloji, lalu mendengus kesal karena ia gagal mendapatkan tanda tangan seorang Raihan.
Setelah para peserta didik baru mengumpulkan kertas yang berisi tanda tangan OSIS, mereka harus menunggu lebih lama lagi untuk mendengarkan pengumuman. Tidak ada hadiah, tetapi terdapat sanksi. Siapa saja yang memalsukan tanda tangan atau tidak bisa menyelesaikan tantangan harus siap-siap terkena hukuman.
Di antara semua orang yang hadir, Anya satu-satunya gadis yang tidak berpengaruh dengan keadaan. Ia sudah tahu akan terkena hukuman, jadi buat apa ia berharap sesuatu yang tidak bisa didapatkan? Lebih baik menerima dari awal bukan, daripada harus kecewa di akhir?
“Kenapa cemberut gitu sih?” Nara menyenggol lengan Anya dengan tak santai.
“Males banget gue. Pengen pergi aja dari sini. Gara-gara enggak dapet satu tanda tangan panitia, gue kayaknya bakal dapat sanksi.” Anya mencabuti rumput tempatnya duduk dengan sebal.
“Lo enggak mau nanya gue sih.”
“Gue aja enggak tahu tadi lo di mana. Bodo amatlah, intinya gue males. Daripada dapat hukuman, apa mending gue pura-pura pingsan aja kali, ya?”
Nara kontan menoyor kepala Anya dengan keras. “Kebanyakan nonton drama sih lo, jadi kayak gini. Siapa yang mau nolongin kalau lo pingsan?”
“Kak Dani. Kemarin dia yang nolongin gue.”
“Dih. Itu kebetulan aja kali pas dia lagi jadi petugas PMR. Sekarang, mana Kak Dani?” Nara mengedarkan pandangan ke seluruh kakak kelas yang memakai jas almamater dan korporet PMR. “Enggak ada.”
Hal yang sama dilakukan oleh Anya. Mukanya yang semula sedikit masam sekarang levelnya tambah dengan bibir yang mengerucut.
“Iya kok enggak ada, sih.”
“Makanya jangan kebanyakan halu.”
“Gapapa kali halu. Halu gue bisa nganterin gue ke hadapan Ji Chang Wook tahu.”
“Bener-bener nih anak. Gara-gara satu tanda tangan, otaknya agak miring.”
***
Tepat seperti dugaan. Anya sekarang harus memunguti sampah-sampah yang berserakan di lapangan basket karena tidak bisa mendapatkan tanda tangan Raihan. Seperti biasa, gadis berwajah imut itu menggumam banyak kalimat untuk meluapkan kekesalannya. Karena seorang Raihan, ia terpaksa melakukan pekerjaan Pak Bon.
Sebenarnya bukan hanya ia yang mendapat hukuman semacam ini. Sesuai dengan pengumuman yang gadis itu dengar, ada setidaknya 10 peserta yang harus menerima sanksi. Tiga diantaranya memalsukan tanda tangan, dan tujuh lainnya termasuk Anya tidak mendapatkan tanda tangan lengkap. Dan hebatnya, mereka hanya kurang tanda tangan dari Raihan. Sepuluh peserta tersebut mendapatkan bagiannya masing-masing untuk membersihkan tempat-tempat yang tampak penuh dengan sampah.
Sehingga untuk hari ini, Pak Bon bebas dari pekerjaannya.
“Hei, awas!”
Anya sontak menoleh. Matanya membelalak ketika bola basket datang ke arahnya.
Kejadiannya begitu cepat membuat Anya tak bisa menghindar hingga bola itu menghantam kepalanya cukup keras. Sampah yang susah payah ia pungut, sekarang berserakan kembali setelah tangannya refleks menjatuhkan tempat sampah.
“Aissh.”
Tak terima dengan bola nyasar mengenai kepala, gadis itu kontan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lapangan. Tepat matanya menangkap pemuda berseragam putih abu-abu berada di ambang pintu masuk lapangan. Emosi Anya semakin meningkat ketika tak menemukan rasa bersalah sedikit pun di wajah pemuda itu.
Seribu kali usapan yang ia lakukan pada kepalanya, tak memberikan efek baik sama sekali. Bukannya sedikit mereda, pening kepalanya justru semakin menjadi.
Persetan mengenai kepalanya berdenyut, Anya menghampiri pemuda itu dengan hentakan yang cukup keras.
“Jadi, Kakak yang lempar bola basket ke arah gue?!” tanya Anya keras. Tak peduli jika pemuda di depannya adalah panitia MOS, ia melemparkan tatapan setajam mungkin.
“Adik kelas enggak sopan. Manggilnya udah lo gue aja.”
“Gila hormat ternyata.”
“Bukan gila hormat. Saya hanya tidak suka ada adik kelas yang tak tahu aturan sepertimu. Perlu saya bacakan lagi aturan paling akhir? Di sana jelas tertulis, 'Dilarang manggil panitia MOS dengan sebutan lo gue’. Apa perlu saya tulis di jidatmu?”
Peraturan yang dibuat SMA Bima memang tidak gadis itu baca sampai akhir. Ia bahkan tidak tahu ada aturan MOS semacam itu.
“Kamu mendapat lima poin pelanggaran lagi.”
Anya meringis. Ia benar-benar salah jika harus berhadapan dengan pemuda menyebalkan seperti kakak kelasnya yang satu ini.
“Terserah Kakak aja deh. Yang terpenting sekarang, kepala saya sakit.”
“Urusannya sama saya?”
“Karena bola basket Kakak nyasar sampai menghantam kepala saya!” ucap Anya semakin tinggi.
“Oke saya minta maaf. Suruh siapa kamu masuk ke lapangan basket yang jelas-jelas digunakan untuk bermain?”
“Kak!”
Bruk!
“Aw, Mama ...,” rengek Anya keras. Hari kedua MOS memberikan kesialan lagi untuknya. Niatnya ingin memukul wajah pemuda di hadapannya, tetapi baru satu langkah, dirinya justru menginjak tali sepatu sendiri.
“Kalau orang punya niat jahat, bakal balik ke diri sendiri.”
Anya sudah tak peduli dengan kakak kelasnya. Fokus matanya kini pada lutut yang lecet hingga mengeluarkan darah. Belum mereda pening di kepala, sekarang lututnya ikut berdenyut perih.
Pemuda itu berjongkok. Terlalu tidak pantas rasanya jika ia meninggalkan seorang gadis terluka dan menangis sendirian di lapangan basket.
“Manja banget. Gitu aja nangis.”
Kakak kelasnya mengeluarkan sapu tangan, lantas membersihkan luka Anya dengan hati-hati. Barulah mengambil plester dari saku celana, lalu menempelkan ke lutut Anya yang terluka.
“Bodoh. Makanya hidup itu taat sama aturan. Nih contoh kecilnya, tali sepatu itu harus diikat, biar tidak melukai diri sendiri.”
Disiplin adalah hal mutlak bagi pemuda itu. Tak ada yang bisa negosiasi. Bahkan dalam kondisi tak ada pengawas sekali pun, ia tetap mematuhi aturan, yaitu tetap menggunakan bahasa formal selama MOS berlangsung.
Jika ia menjunjung tinggi aturan, maka Anya kebalikannya. Oleh karena itu, keduanya tampak tak bisa menyatu sejak pertama kali bertemu.
“Kalau Kakak enggak niat bantu, mending pergi aja dari sini. Kalau Kakak ngomel, rasa sakitnya makin bertambah tahu enggak.”
“Lain kali, jangan ceroboh. Enggak semua orang di dunia ini baik.”
Lagi dan lagi, bukan hanya mata Raihan yang familier, tetapi kalimat tersebut juga seperti pernah ia dengar. Jadi, siapa sebenarnya pemuda di depannya itu?
“Kakak siapa sih?”
“Alvaro Raihan Pranata,” jawabnya enteng.
Mata Anya seketika membelalak. Ia sempat tak percaya hingga memastikan pada name tag pemuda itu.
Benar.
Nama kakak kelasnya adalah Alvaro Raihan Pranata. Pemuda yang secara tidak langsung menyebabkan dirinya mendapat hukuman.
“Jadi Kakak yang namanya Alvaro Raihan Pranata?”
Raihan menaikkan sebelah alisnya bingung. Ia tak mengerti kenapa gadis itu menatapnya penuh permusuhan. Apa karena bola basket? Atau yang lainnya?
“Why?”
“Karena Kakak, saya sampai dihukum memunguti sampah di sini.”
“Hah?”
Lebih daripada TTS yang serba rumit, perkataan adik kelasnya membuat bingung Raihan.
“Saya saja tidak tahu jika kamu ada di sini. Bagaimana caranya saya yang menyebabkan kamu dihukum? Dasar gadis sinting!”
Tanpa basa-basi lebih lanjut, Raihan berdiri dari posisinya.
“Kita sudah impas.”
Setelah mengatakan itu, Raihan pergi. Meninggalkan Anya yang masih berkutat pada emosinya. Kakak kelas yang sudah membuat dirinya malu di awal MOS, sekarang juga menjadi alasan kenapa dirinya terlibat dalam hukuman.
“Takdir macam apa yang mempertemukan gue sama cowok ngeselin kayak gitu? Huh.”
Tbc.