Hanya itu reaksinya? Usai dirinya mengatakan putus, yang terjadi seorang Larasita hanya tersenyum, mengangguk dan kemudian pergi begitu saja?
William masih berdiri, mengamati. Dia masih menatap gadis yang sudah berjalan jauh itu dengan pandangan tak percaya. Dia masih mengamatinya, lambat namun dia menyadarinya dengan pasti kalau … dirinyalah yang dicampakkan oleh gadis itu.
“Sialannn!!!” desisnya merasa begitu marah. Ada yang tak terima di dalam sana. Harga dirinya yang diinjak-injak saat ini.
Tangannya terkepal erat bersamaan dengan wajah yang kini berubah ekspresinya, menjadi begitu marah.
Siapa dia harus berani mengabaikan seorang William?
Siapa dia yang berani-beraninya pergi begitu saja?
Siapa dia berani menentangnya?
William benar-benar merasa dipermalukan saat ini. Bagaimana dia yang mengajak untuk mengakhiri hubungan mereka di depan banyak orang. Bahkan sekarang para siswi yang tak sengaja mendengarnya pun saling berbisik.
Dia tahu, sangat tahu hal itu.
Tujuannya mengatakan di depan banyak orang adalah agar Larasita memohon padanya.
“s**l!!!” Lagi-lagi dia mengumpat.
Menatap sekelilingnya, banyak mata yang memandang ke arahnya namun segera beralih dan pergi menjauh ketika mata William memandangi mereka tajam, seolah siap mencari satu orang yang bisa dijadikan pelampiasan emosinya saat ini.
Matanya masih saja memandangi Larasita yang sudah hampir tak kelihatan wujudnya.
Dia benar-benar ingin menarik gadis itu dan mengatakan kalau dia yang meninggalkan dan mencampakannya.
Ini semua karena Aruna.
***
Buk!
Buk!
Drag!
Brak!
Berkali-kali William menendang samsak kayu dan juga mematahkan dua meja yang berada di sisinya. Namun, tetap saja, rasa marahnya belum bisa reda. Kembali tangannya mengepal dan melayangkan beberapa tinju pada samsak lainnya sampai samsak tersebut sudah melayang ke kiri dan ke kanan akibat pukulannya.
Hansel meringis nyeri melihatnya. Tangan William seolah tak merasakan sakit sama sekali setelah memukuli samsak sebesar dirinya dan menggantung itu. Masih saja William memaksakan tubuhnya untuk mengeluarkan banyak energi seolah tak ada habisnya.
Tak merasakan ngilu karena tangannya dipastikan sudah membiru dengan lebam di jari-jarinya, tapi tetap saja, cowok itu masih saja memukuli samsak yang tak bersalah.
Hansel menghela napasnya, dia sendiri tahu kejadiannya. Saat dirinya sedang menunggu pacarnya, dia tak sengaja melihat William dan Larasita yang tengah berdiri berhadapan.
Dan saat itulah bencana terjadi.
Bahkan seorang Hansel pun merasa tak percaya saat melihatnya, benar-benar langka. Seorang William yang diabaikan begitu saja seolah sosok itu bukanlah siapa-siapa yang berarti.
Bahkan dia juga ingin mengumpat namun dia sadar, harus mengontrol diri sebelum William menyadarinya.
Bahkan orang-orang pun sudah saling berbisik membicarakannya. Hansel tahu, ada harga diri yang baru saja diinjak-injak secara tak sengaja.
Hansel menghela napasnya, dia berdiri dan menghampiri William yang napasnya tergesa-gesa usai mengeluarkan ilmu bela dirinya.
“Lo harus berhenti,” tukasnya. Sembari tangannya menepuk bahu William.
Sayangnya, itu disalahartikan oleh William.
Menyadari ada yang menempel di bahunya, William segera menarik tangan Hansel, meraih tubuh besar sahabatnya dan membantingnya begitu saja.
Brug!
“Akh!!!” Hansel yang sudah berada di lantai mengaduh kesakitan.
Dia tak memakai persiapan apa pun saat William malah membantingnya. Tubuhnya ngilu bukan main.
“Hah … hah … siapa dia berani begitu?!” teriak William masih saja mengeluarkan amarahnya.
Hansel berusaha bangun sendiri, tak mau dirinya menjadi satu korban bantingan seorang William lagi.
“Lo boleh marah, Njing! Tapi bukan ke gue!” bentaknya tak terima, lantas segera meninggalkan William seorang diri saja.
Larasita mampu menggores harga diri William. William merasa tak terima, tidak boleh ada perempuan yang tak bisa dia taklukan. Sayangnya, Larasita menjadi pengecualian.
William hanya terduduk lemas setelah Hansel pergi.
Dia yang kelelahan pun sampai berbaring di lantai yang kotor. Persetan dengan kebersihan, dia benar-benar sedang marah besar. Ada yang benar-benar berani mengabaikan kehadirannya.
Larasita.
Satu nama yang kini terus menerus berputar di dalam otaknya bak kaset rusak yang masih saja menyebutkan satu bagian yang sangat tak ingin didengar olehnya.
***
Bahkan sampai malam William masih tak kunjung pulang. Sedangkan Aruna dan Matthew menunggu kepulangannya. Mereka memiliki agenda lainnya dan membutuhkan kehadiran William.
“Apa masih belum diangkat?” tanya Matthew yang berdiri dengan tongkat jati mahalnya.
Aruna menggeleng, lantas mendesah. Dia benar-benar baru kali ini menghubungi William berkali-kali tapi tak juga diangkat oleh sepupunya itu.
“Ke mana dia? Padahal kita sudah memberitahunya berkali-kali. Tak mungkin William lupa, apalagi ini menyangkut orang tuanya,” seloroh Matthew dengan menatap area taman.
“Ehm … Aruna nanti minta teman-temannya buat bawa William ya, Kek? Kita harusnya pergi terlebih dahulu saja,” usul Aruna yang merasa kesal, karena dia anti yang namanya datang terlambat.
Matthew mengangguk, lantas mereka berdua masuk ke dalam mobil.
William masih berbaring, mengabaikan ponselnya yang berdering nyaring berkali-kali. Dia sedang tak mau diganggu sama sekali. Masih membutuhkan waktu agar emosinya bisa reda malam ini. Padahal tubuhnya sudah luluh lantak, satu jam menendang dan memukul samsak bukanlah waktu yang sedikit.
“Arrrgh!!!” Kembali dia berteriak di ruang latihan, hanya seorang diri. Suaranya yang kencang menggema namun tak membuatnya takut sama sekali.
Brak!
Pintu yang terjeblak menampilkan sosok Yanuar yang sudah terengah-engah. Dia berjalan masuk dengan langkah yang besar. Sama sekali tak mengizinkan William untuk memiliki pertanyaan di dalam otaknya.
William bangun, masih dengan wajah datarnya, dia sama sekali tak terganggu dengan kehadiran Yanuar yang juga memasang wajah penuh emosi.
Yanuar merenggut kerah baju William, menatap sinis WIlliam.
“Lo masih aja kekanak-kanakan hah?” sentak cowok itu, masih dengan wajahnya yang mengeras.
“Apa sih? Lo dateng-dateng malah mencak-mencak?!” William berusaha melepaskan tangan Yanuar.
“Lo lupa apa emang mau cari masalah sih?! Aruna sampe nelpon gue, Njir! Lo bisa-bisanya masih anteng di sini sementara bokap lo dateng sama. Adik. Lo!” seru Yanuar
Perkataan Yanuar membuat William mematung. Kini memorinya memutar satu kejadian, di mana dirinya memastikan akan datang nanti.
“s**t!!!” makinya, segera menghentakkan tangan Yanuar, berlari keluar ruangan secepat mungkin. Berusaha untuk tak membuang-buang waktu lagi.
Larinya sudah sekuat tenaga, bahkan dia kini mengendarai motornya dengan speedometer yang sudah menunjukkan angka 100, jarumnya.
Namun dia masih tak puas, memutar gas berkali-kali agar motornya semakin cepat. Dia benar-benar harus tiba sebelum waktunya. Dia benar-benar sedang berjudi saat ini, hanya karena dia yang lupa dan lalai.
Hatinya masih merutuki kebodohannya. Hanya karena Larasita, dia malah bersiap membuang masa depannya.
Di sisi lain, Matthew dan Aruna sama-sama sedang memikirkannya.
“Apa dia akan datang?” Kembali Matthew bertanya di sela-sela dirinya yang harus meladeni sapaan para kolega bisnisnya saat ini.
Aruna mengangguk dengan pasti, “tenang saja Kek, dia pasti datang. Kalau dirinya tak mau mengalah, dia harus datang Kek.”
Ya memang. William adalah seseorang yang tak akan mau menerima kekalahan tentunya.
Mata Aruna membesar ketika melihat siapa yang tengah berjalan masuk ke dalam hall. “William?” Dia sampai tersenyum bangga melihat kehadiran sepupunya itu. Segera saja Aruna menyongsong kedatangannya.
“Akhirnya kamu datang,” serunya dengan pandangan berbinar.
William tak tersenyum sama sekali, dia hanya menatap datar Aruna. Ada satu hal yang benar-benar dia jadikan Aruna sebagai penyebabnya. Permintaan Aruna untuknya agar segera putus dengan Larasita.
“Ayo, Kakek sudah menunggu,” ajaknya sambil menggandeng tangan William tanpa canggung.
Matthew menatap sosok William, cucunya itu begitu tampan nan gagah dengan pakaian serba hitam, kemeja dengan dasinya dan juga jangan lupakan jas armani yang benar-benar membalut tubuh tingginya dengan begitu pas. Mencetak bagaimana tegap tubuh remaja itu.
Mata para tamu pun ikut memandang ke arahnya, penuh kekaguman, pujian dan juga terkesima. Wibawa seorang cucu Matthew Lee memanglah pantas tak dipandang sebelah mata.
“Maaf terlambat,” ucap William kepada kakeknya. Matanya memandangi sekeliling, berusaha untuk mencari sosok yang memang membuatnya datang ke sini.
Dia kehilangan rasa saat memikirkan bagaimana sosok yang menghancurkan hidupnya itu belum ada.
“Baguslah kamu belum terlambat, Will.”
Matthew memandang bangga pada cucu laki-lakinya itu.
***
Berbeda dengan Larasita, dia yang baru saja mendengar lonceng kebebasannya sama sekali tak meninggalkan reaksi menyesal setelah William mengatakan putus padanya. Dua minggu! Dia hanya perlu menahan diri dua minggu lamanya agar lepas dari William.
Sepanjang gadis itu mengepel lantai, senyumannya masih tak kunjung sirna.
“Apa dia sakit?” tanya salah satu pegawai cafe yang terus menerus memperhatikan Larasita.
“Sepertinya. Tak pernah gadis itu bisa tersenyum begitu.”
Timpalan itu diangguki oleh lawan bicaranya, merasa setuju.
Larasita masih benar-benar mengingat jelas, bagaimana wajah serius William. “Kita putus.”
Saat itu, Larasita memandangi lamat-lamat William, barangkali cowok itu sedang bercanda saja. Padahal hatinya sudah bersiap lompat dengan euforia kegembiraan.
Tak ada kata lainnya, pada akhirnya dia mengangguk sambil tersenyum. Lantas segera pulang dengan hati yang ringan.
Tak akan ada lagi yang memandanginya hanya karena dia bersama William. Dia akan menjadi sosoknya yang kembali tak terlihat wujudnya. Akan kembali damai dengan pelajaran-pelajaran yang masih harus dia pelajari agar prestasinya tak turun.
“Selesai.” Dia tersenyum senang karena pekerjaannya kini sudah selesai.
Matanya melihat ke arah jam dinding. Jam sebelas malam. Akhirnya dia bisa pulang juga. Sangat menyenangkan sekali malam ini.
“Eh? Kalian?!” Dia terkejut saat berbalik dan melihat kedua teman kerjanya sudah berdiri di depannya.
“Hm, ya, kami?”
“Kalian belum pulang?” tanyanya.
“Ada yang tak beres denganmu.” Kedua orang itu saling menatap Larasita intens, berusaha mencari hal yang salah pada Larasita.
“Apa sih kalian.”
Gadis itu memilih membawa ember ke dapur beserta alat pel. Dia mengabaikan kecurigaan teman-temannya itu.
“Kamu punya pacar ya?” Kembali salah satunya bertanya.
Larasita berbalik, menggeleng tegas. “Sudah putus,” ungkapnya sambil tersenyum.
“Kapan?”
“Tadi sore.”
Jawaban yang disertai senyuman bahagia itu malah membuat kedua orang itu ngeri seketika. “Tidak ada orang yang putus dari pacarnya akan sesenang ini. Kamu gila, Laras.”
“Laras, ada yang mencarimu.”
Seseorang berteriak, membuat Larasita bertanya-tanya sebelum akhirnya menghampiri sosok yang katanya mencarinya itu.
“William?”