William Galau?

1617 Kata
William memandangi Larasita lamat-lamat. Dia hampir saja menyembur gadis yang ada di hadapannya itu. “Are you kidding me?” desisnya sambil menatap tajam Larasita. Larasita tak paham apa yang sedang dikatakan oleh Wiliam, dia pun berkata, “mereka meminta aku untuk memberikannya padamu. Saya hanya menyampaikan amanat saja.” Semakin mendengar penjelasan Larasita semakin membuat dirinya berang. Bagaimana bisa? “Lo pacar gue, kenapa lo harus terima itu sih? Lo enggak cemburu hah?” Nada bicara pria bermata sipit itu bahkan sudah naik satu level. Namun, Larasita tetaplah Larasita yang terbilang tak peduli soal pacar dan cemburu. Kalau bisa, dia bahkan tak mau menjadi pacar seorang William tentunya. Bukannya malah kini terikat dengan William. Bahkan Larasita masih saja mengangkat jinjingan berisi hadiah dari para perempuan. Dia tak mau repot-repot lebih lama bersama William. Membuang waktu dan juga semakin mengulur waktu untuk dirinya pulang ke rumah. Diambilnya tangan William dan diserahkannya jinjingan goodie bag itu di atas tangan William. William sendiri masih memandangi Larasita, semakin tak percaya dengan respon yang diberikan oleh gadis itu. “Lo mau ke mana?” tanyanya saat Larasita malah melewatinya. “Pulang.” “Cowok lo ada di sini!” sentak William. Larasita berbalik, dia merasa gerah namun takut. “Lalu? Saya tidak mau kena marah Kak Deri lagi.” Sungguh William merasa gemas sendiri dengan tingkah Larasita. Dirinya seperti tak dianggap pacar oleh gadis itu. Seharusnya gadis itu tahu kalau dirinya adalah pacar yang berpotensi. Kenapa juga malah diabaikan begini? Tidakkah dia sadari kalau William bisa menjadi pengubah hidupnya? “Gue yang antar lo pulang!” putusnya sambil berjalan mendahului Larasita. Larasita hanya bisa menghela napasnya. Dia lupa kalau cowok yang mengaku menjadi pacarnya itu benar-benar pengganggu yang tak bisa diganggu gugat lagi ucapannya. Sebenarnya William sudah merasa marah. Kalau bukan karena dirinya sedang taruhan, tak mungkin dia mau berlama-lama dengan Larasita. Namun, semakin dirinya tak dianggap oleh gadis itu, semakin dirinya kepikiran sampai kalang kabut.   Larasita hanya bisa mendesah napas sambil mengikuti langkah kaki William yang jangkanya panjang-panjang. Dia tak pernah bisa mendebat cowok itu. Matanya terus saja memandangi punggung tegap nan lebar milik William, kakinya yang juga panjang membuatnya tahu alasan kalau jalannya cowok itu benar-benar cepat. Tingginya? Bahkan dia hanya sebatas bahunya saja. Nampak pendek sekali. Wajar sajalah, dia kurus dengan tinggi badan hanya 157 sentimeter saja. Sedangkan WIlliam? Dia yang menjadi atlet basket dan juga futsal, tingginya sudah melebihi 175 sentimeter. Sungguh kombinasi angka cantik yang begitu jauh bedanya.   William sudah menunggu di motornya. Namun, saat melihat Larasita yang sudah berjalan mendekat ke arahnya. Saat itu juga dia menyeringai, mengangkat jinjingan hadiah para siswi dan kemudian melangkah menuju bak sampah. Pluk! Mata Larasita sampai membulat penuh begitu melihat bagaimana William dengan entengnya membuang semua bingkisan itu. “Kamu?! Kenapa dibuang?” Spontan Larasita bertanya kepada cowok itu. “Gue enggak butuh.” Larasita yang ingin mengomel pun tak jadi, dia bukan siapa-siapa dan tak berhak melarang cowok itu untuk menerima hadiah dari orang lain. Yang pasti, dia hanya harus siap terkena cercaan dari para siswi jika mereka tahu apa yang dilakukan William.   “Cepet naik.” “Saya naik angkot saja,” balas Larasita cepat. William menatap intens Larasita, kenapa cewek itu senang sekali mendebatnya saat ini? Tidak seharusnya cewek itu mendebatnya bukan? Tidak seharusnya cewek itu menolak. “Gue antar! Itu keputusan final gue! Lo enggak berhak menolak.” Larasita menghela napasnya kembali. Dia tak bisa mengelak, kenapa juga dirinya berurusan dengan cowok si pembuat onar di sekolah itu? Bahkan dia ingat, saat pelajaran matematika, gurunya sampai memperingatkannya agar tak terpengaruh oleh William. Itu saja sudah menjadi sebuah peringatan baginya. Benar-benar menyebalkan sekali kondisinya saat ini.   Seperti kemarin, dia duduk di belakang William. Tak ada percakapan yang terjadi sepanjang mereka menuju rumah Larasita. Bahkan sampai tiba pun, William sama sekali tak ditawari untuk mampir sebentar. Yang ada hanyalah ucapan terima kasih beserta Larasita yang malah berbalik pergi, masuk ke rumah dan menutup pintunya. “s**l*. kenapa gue harus pacaran sama cewek ini sih? Enggak bisa apa dapet yang agak enakan?” protesnya pada dirinya sendiri. Lantas William segera mengendarai motornya kembali untuk ke sekolah, karena dirinya akan latihan futsal.   Setibanya dia di ruang futsal pun, teman-teman geng Wolf Cave menyambutnya penuh senang. “Gimana bro? Laras udah kepincut sama lo?” tanya Yanuar masih dengan tatapan meremehkannya. “Sebentar lagi. Sebentar lagi pasti dia kepincut,” ujarnya membalas pertanyaan Yanuar. Yanuar hanya mengangkat bahunya, tanda dirinya membiarkan saja meskipun dia tahu kalau William akan kalah sebentar lagi. Dilihat dari ekspresi wajahnya yang begitu keruh. William segera mengganti seragam miliknya, dia pun segera menuju ke lapangan futsal dengan wajah yang terlihat begitu menahan emosinya. Semua orang sudah tahu bagaimana ekspresi yang ditunjukkan oleh William. Jelas-jelas William sedang tak dalam kondisi mood yang bagus saat ini.   Bahkan William memainkan bola tanpa mengoper, hanya bermain dengan dirinya sendiri bahkan dengan keadaan di mana semua orang tak mampu merebut bola di kakinya. Buk! “Gol!” William terus menerus mencetak gol dengan kakinya, sendirian. Yanuar bahkan menghadang William, bersama dengan Carol dan juga Hansel berkali-kali sudah beradu tubuh dengan William. Bug! Kali ini Hansel sampai terjatuh akibat bahunya ditabrak begitu kencang dengan William. “Will! Lo enggak gini dong mainnya!” teriak Yanuar yang menegur William. Cowok itu terus saja menggiring bola sampai ke depan gawang dan dengan satu tendangan dari kaki kanannya, dia kembali mencetak gol bahkan sampai bolanya memantul jauh. Napasnya sudah terengah-engah dan saat dirinya berbalik, Yanuar melayangkan satu pukulan ke wajahnya. “Lo mau buat teman-teman lo dirawat di RS semua hah? Main macem apa yang sampe tekel sana sini itu!” sembur Yanuar. William tak membalasnya. Dia baru menyadarinya begitu melihat Hansel yang terduduk di lapangan. Dia pun menghampirinya dan mengulurkan tangannya. “Lo enggak apa-apa? Sori,” ucapnya. Hansel meraih tangan William dan bangun. “Ya udahlah. Gue enggak apa-apa juga. Kayaknya lo yang malah kenapa-kenapa.” William segera pergi begitu saja menuju ruang ganti. Dia sudah tak mau bermain. Di dalam otaknya bahkan jelas nampak sekali sosok Larasita.   Brakkk! Dia menutup pintu loker dengan kencang, seolah seluruh tenaganya bisa membuat loker itu rusak. Dia benar-benar masih tak habis pikir, ditambah dengan emosinya yang terlihat sekali hari ini. Dia mengelap lehernya yang dipenuhi peluh bercucuran. “Kak Will.” Seseorang memanggilnya dari belakang. William yang belum berganti baju pun berbalik. Kedua alisnya bertautan satu sama lain begitu matanya menangkap sosok siswi yang berdiri tak jauh darinya. Dia memiringkan kepalanya, melihat pintu yang tertutup. “Lo tahu ini ruangan tim futsal kan? Sejak kapan lo bisa masuk?” tanyanya dingin. “Euhm … gue … gue suka sama Kakak!” aku siswi itu sambil terus memandangi William. Dia memunculkan keberaniannya demi menyatakan perasaannya pada William. William masih memandangi gadis itu, tanpa ada ekspresi apa pun di wajahnya. Gadis itu menunggu, menunggu jawaban dari mulut William. “Gue mau jadi pacar Kakak.” Kali ini William memandangi gadis itu, “gue udah punya pacar dan kayaknya satu sekolah sudah tahu deh.” “Tapi dia enggak pantes sama Kak William, gue … gue lebih cantik, lo mau apa pun, gue akan turuti permintaan lo.” William kesal, kenapa banyak sekali siswi yang begitu mau berpacaran dengannya bahkan sampai berkata akan melakukan apa pun demi dirinya. Ayolah …. Ah, dia sadar. Kalau wanita yang menarik atensi dirinya saat ini adalah Larasita. Gadis yang benar-benar tak mau melihatnya sama sekali bahkan terus saja menjauh darinya. Larasita yang mampu membuat naluri laki-laki miliknya beraksi. “Ck! Lo enggak usah aneh-aneh, gue enggak peduli. Lo suka sama gue, itu terserah lo. Tapi … gue nolak lo buat jadi pacar gue. Pacar gue cuma Larasita. Minggir,” pintanya yang berniat keluar dari ruangan. Tanpa diduga, yang terjadi malah siswi itu berdiri di depannya.   “Enggak mungkin Kak William enggak mau sama gue,” desis siswi itu sambil terus menatap tajam William. Tak pernah ada sejarah di mana dirinya ditolak oleh cowok-cowok yang melihatnya dan mengenalnya. William berdecak kesal, “ck! Lo enggak bisa dibilangin ya? Batu lo. Minggir!” sentaknya. Namun, kembali dia melihat gadis itu tak bergeming. Yang ada malah semakin maju. Tangannya mulai membuka kancing kemeja seragam miliknya satu per satu. William masih tak merespon. Reaksi yang dia munculkan hanyalah reaksi wajah datar dengan mata yang terus saja menatap dingin gadis itu. “Lo mau buka baju? Lo kira gue mau sama yang gampangan begini, makin jijik gue.” Ucapan menusuk dari bibir William membuat gadis itu pucat pasi. Dia baru saja membuka dua kancing bajunya dan tangannya bergetar saat William begitu jelas mengucapkan kata-kata dengan intonasi begitu dingin. “Minggir! Sebelum gue lakuin yang lebih parah dari sekadar tidur bareng gue!” ancamnya. Siswi itu sampai duduk meluruh ke lantai. Dia bergetar, menahan tangisnya. Dia benar-benar ditolak mentah-mentah oleh William. Dia terisak kecil dan William tak peduli.   Brak! Ditutupnya pintu ruangan dengan kencang oleh William. Lantas cowok itu segera turun ke bawah, di mana teman-teman gengnya sudah menunggu dirinya. “Lo mau ikut enggak?” tanya Carol yang sudah mengenakan helmet mahal miliknya. “Kalian aja. Gue mau balik.” “Tumben banget?” Bahkan Hansel sampai penasaran dengan perubahan William saat ini. “Lo galau?” Pertanyaan yang diucapkan oleh Yanuar mendapatkan reaksi tak biasa. Berupa tatapan tajam dari manik pekat William. “Oke, dia lagi galau urusan Larasita. Kenapa? Lo mengaku kalah?” Pertanyaan yang meremehkan sungguh sangat tak disukai oleh William. “Gue bisa. Lo cuma perlu tunggu tanggal mainnya aja. Dia pasti bakal bertekuk lutut sama gue kok. Tinggal taruhannya aja lo siapin.”   “Taruhan?” Baru saja William bertindak arogan, tak menyadari kalau di belakangnya ada Aruna, sepupunya. Semua mata memandang ke arah Aruna. Gadis itu sudah terlalu marah mendengar ucapan William.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN