2

1547 Kata
Di kamarnya Giovinno, laki-laki berumur 25 tahun yang merupakan keturunan dari laki-laki terkaya di Italia dengan mata berwarna biru, rambut gelap dan kulit yang juga sedikit gelap tak bisa berhenti memikirkan Nafa. Suara merdu gadis itu seolah menghipnotisnya dan senyum gadis itu membuatnya tak ingin mengejapkan matanya. Dia semakin tersenyum saat sadar jika gadis itu pasti berusaha mengusirnya dengan mengatakan kekurangannya tapi dia yang sudah terpesona pada gadis itu tak peduli sama sekali dengan kekurangannya. Dia tak sabar untuk bertemu dengan gadis itu lagi besok dan membuktikan jika dia memang serius padanya. Sejak beranjak dewasa tak pernah dia seserius ini di dalam hidupnya. Dia bertekad akan mendekati gadis itu dan menjadikannya istrinya, entah kenapa sejak pertama menatapnya, dia ingin Nafa menjadi istrinya bukan hanya sebagai kekasihnya saja. Kali ini dia bertekad akan mendapatkan apa yang dia mau. Dia dan kedua saudaranya sudah kehilangan kedua orang tua mereka sejak remaja dan sejak saat itu, dia dan kakaknya bahu menbahu mengembangkan perusahaan keluarga. Dia senang sekali sudah memilih tempat ini sebagai tujuan investasi perusahaan mereka selanjutnya sebab karena hal itu dia jadi bertemu dan berkenalan dengan Nafa. "Kamu akan jadi milikku, Nafandra," ujarnya sebelum terlelap. *** Nafa terbangun dengan senyuman di bibirnya, tak sabar memulai harinya seperti biasa yaitu melakukan tugasnya untuk mengantarkan sarapan kepada tamu-tamu ke kamar mereka. Walau hanya tiga orang tamu saja tapi ia sudah terbiasa bangun pagi. Saat sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, ia turun ke bawa menemui mamanya. "Nafa, ini antarkan kepada ketiga tamu itu," ujar Lizabeth menyerahkan tiga makanan yang sudah dikemas dengan rapi dan aman agar Nafa mudah membawanya. Ia kemudian menuju kamar pertama dan mengetuknya perlahan. Papanya sudah menyiapkan jalur khusus padanya jadi ia sudah tahu ke mana harus melangkah saat mamanya menyebutkan nomor kamar tempat ia harus mengantarkan makanan. "Selama pagi, Sir, ini makanan Anda," ujar Nafa sambil menyodorkan makanan yang dibawanya. "Terima kasih." Nafa menganggukkan kepala dan berlalu dari sana, kemudian menuju pintu ke dua dan melakukan hal yang sama. Saat sampai di pintu ketiga, ia sedikit ragu karena menyadari jika ini pasti kamar Vinno tapi ia tak punya pilihan dan kemudian mulai mengetuk. Saat tak ada jawaban ia kembali ingin mengetuk tapi dirinya malah menyentuh d**a seorang pria. Dengan cepat ia menarik tangannya dan melangkah mundur hingga tanpa sengaja kakinya menyenggol karpet dan hampir terjatuh tapi hal itu tidak terjadi saat tangan seorang laki-laki menangkap pinggangnya. "Hati-hati, bella mia, aku tak ingin kamu cedera karenaku." "Maaf, saya tak tahu jika Anda sudah membuka pintu," ujar Nafa dan berusaha melepaskan rangkulan laki-laki itu dan ia lega saat laki-laki itu melepaskannya. "Saya hanya ingin mengantarkan sarapan," sambungnya kembali. "Terima kasih." "Ya," ujar Nafa dan akan berbalik pergi. "Sampai jumpa nanti malam, aku tak sabar ingin berbincang-bincang lagi denganmu." "Ya, Sir," balas Nafa tersenyum. Vinno tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya dan merasa gembira saat gadis itu tak merasa takut padanya lagi. Hari ini mereka akan menelusuri Sungai Colorado terlebih dahulu dan kemudian melihat pemandangan dari tebing, lalu berjalan di atas kaca di mana dibawanya terdapat jurang setinggi 70km, setelah itu baru mereka akan kembali lagi ke tempat ini. Andai bisa memutar waktu maka dia ingin hari langsung malam saja agar dia bisa langsung bertemu dengan Nafa dan mendengarkan suaranya lagi. *** Selesai mengantarkan sarapan, Nafa kemudian membantu mamanya membersihkan kamar-kamar yang kemarin disewakan, saat selesai ia membantu Lizabeth di dapur atau apa saja yang bisa ia kerjakan. Walau ia melakukan semuanya dengan lambat tapi setidaknya ia sudah lancar mengerjakannya. Saat dirimu buta hampir seumur hidupmu, maka apapun akan bisa kamu kerjakan jika tak ingin bergantung pada orang lain. Ia tentu saja tak bisa pergi bersekolah tapi kedua orangtuanya membeli buku-buku untuk penderita tuna netra jadi setidaknya ia bisa membaca, mengikuti ujian dan berhasil menyelesaikan sekolah dari rumahnya. Walau ia buta tapi ia memiliki kecerdasan dan dengan mudah ia bisa mempelajarinya. Bahkan hanya menyentuh tulisan itu sekali saja maka ia akan langsung bisa menghapal semuanya seperti lagu-lagu yang selama ini dibawanya, ia menghapalnya di luar kepala. *** Tak terasa hari sudah malam dan ia kembali mandi serta bersiap menyanyi, kali ini ia membawa lagu yang sedikit sedih tentang cinta sepasang kekasih. Ia begitu menghayatinya hingga tanpa ia inginkan sebuah harapan timbul di dalam hatinya. Mungkin selama ini ia memang mendambakan cinta seperti itu untuknya nanti, walau tahu jika itu mustahil. Hanya saja kedatangan Vinno di dalam hidupnya membuat harapan itu kembali timbul. Jangan berharap Nafa atau kamu akan begitu kecewa karena hal itu. Nafa terus duduk di sana dan saat mendengarkan pintu yang tertutup, ia membiarkan air matanya mengalir di pipinya hingga dirinya tersentak kaget saat sebuah ibu jari mengusap air matanya. "Kamu belum pergi?" "Belum, bukankah sudah aku katakan jika aku sudah tak sabar ingin berbincang-bincang denganmu lagi." "Aku kira kamu tidak serius." "Aku sangat serius, Nafa. Bisakah kita pindah ke meja dan kursi di sana agar bisa lebih mudah berbicara." "Baiklah." Saat mereka sudah duduk, ia hanya bisa terdiam menunggu Vinno mulai bicara. "Apa kamu memiliki kekasih, Nafa?" "Apa kamu mengejekku, Vinno? Laki-laki mana yang ingin menjadikan gadis buta sebagai kekasihnya kecuali ia juga buta." Vinno tertawa mendengarnya dan kemudian berubah serius. "Aku tidak buta." Nafa berusaha mencerna apa maksud laki-laki itu. Dirinya berusaha menarik tangannya saat Vinno menggenggamnya. "Aku tidak buta, Nafa, dan aku ingin menjadi kekasihmu." Nafa tertawa mendengarnya, "Kamu pasti bercanda bukan? Atau kamu memasang taruhan dengan teman-temanmu kapan akan bisa meniduri aku? Sudah ada yang pernah mencobanya jadi aku harap kamu tidak melanjutkan semua ini lagi." "Aku ingin menjadikanmu istriku dan aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu menjadi istriku." Nafa tak bisa bicara mendengarnya. "Apa kamu kehabisan wanita, Sir? Karena tidak mungkin laki-laki kaya sepertimu akan ingin menjadikan gadis buta sebagai istrinya. Kamu bahkan bisa mendapatkan gadis manapun yang kamu inginkan jadi aku mohon jika ini hanya leluconmu saja, itu sama sekali tidak lucu. Aku bahkan tidak tahu wajahmu dan hanya tahu suaramu saja." Nafa mencoba menarik tangannya saat Vinno mengangkatnya dan meletakkan tangannya di wajah laki-laki itu. "Sentuhlah dan pelajari wajahku, aku ingin kamu bisa menggambarkan wajahku di dalam pikiranmu." Dengan perlahan akhirnya Nafa menyentuh wajah Vinno, ia bisa merasakan dagu yang tercukur rapi dengan rahang kokoh, tulang pipi tinggi, hidung mancung dan alis mata tebal. Kemudian ia menelusuri rambut Vinno yang terasa lebat di jari-jarinya. Nafa kembali turun ingin menyentuh bibir Vinno tapi ia menahan diri di detik-detik terakhir. "Sentuhlah, Nafa, aku ingin kamu mempelajari semua sudut wajahku." Nafa kemudian menelusuri bibir Vinno yang terasa tipis dengan ujung jarinya, saat ia menyentuh ujung bibir Vinno ia bisa merasakan garis tawa di sana dan ia tahu jika Vinno pasti sering tertawa. Tiba-tiba laki-laki itu menarik tangannya dan mengecupnya pelan. "Jadi apa kamu sudah tahu wajahku?" "Ya, sepertinya." "Kamu bisa mempelajarinya setiap hari selama aku di sini." "Baiklah." Vinno kemudian bercerita tentang petualangannya hari ini, bagaimana keindahan Sungai Colorado dan matahari terbenam yang ia lihat dari tebing. Ia menceritakan semuanya pada Nafa yang tak bisa melihat sendiri keindahan alam itu. "Kami dibawa menyusuri sungai hari ini dan diharuskan untuk memakai jaket pelampung, hal itu tentu saja terasa tak nyaman karena aku merasa jika sedang dimasukkan paksa ke dalam botol. Apa boleh buat jika aku tak ingin dilempar keluar oleh laki-laki seram itu tentu saja aku harus menurut padanya." Nafa tertawa mendengarnya. "Mike tak akan sejahat itu, paling dia hanya akan melemparmu ke dalam sungai saja." "Dan itu yang kamu katakan tak jahat?" tanya Vinno bergidik ngeri. Nafa kembali tertawa, "Aku hanya bercanda. Mike memang kadang terdengar menyeramkan tapi dia sangat baik dan selalu bersikap lembut padaku." "Dia tak jatuh cinta padamu bukan? Jika iya aku akan menenggelamkannya di sungai," geram Vinno. "Tidak, dia sudah punya kekasih, mereka akan segera menikah tidak lama lagi." "Syukurlah. Kenapa wisatawan harus mengenakan pelampung? Padahal aku lihat airnya sangat tenang," tanya Vinno. "Ya, tapi jika sampai jatuh kamu tak akan ingin tenggelam sebab kedalamannya mencapai 2 hingga 9 meter bahkan di titik tertentu mencapai 30 meter. Jadi tak akan ada yang bisa menemukan mayatmu jika sampai tubuhmu berada di dasar sungai. Apalagi airnya sangat dingin hingga bisa membekukan tulang." "Aku tahu itu, saat kami menyusurinya saja hawa dingin terasa menyergap tapi teman-temanku masih sanggup ber-selfie dengan latar belakang dinding lembah. Aku bahkan merasa hampir beku di sana." "Apa kalian melihat kambing gunung di sana?" "Tidak, apa ada yang istimewa dari kambing itu?" "Kambing-kambing itu bisa mendaki tebing-tebing cadas dengan cekatan dan kamu akan terpesona melihatnya. Walau aku tak akan pernah melihatnya tapi aku sering mendengarnya dari orang-orang yang pernah melihatnya." "Kamu bisa menjadi pemandu wisata yang baik, apalagi dengan suaramu yang merdu." "Ya dan mungkin aku yang akan berada di dasar sungai karena aku tak tahu ke mana harus melangkah." "Suatu hari kamu akan bisa melihat dan aku akan mengajakmu melihat semuanya." "Aku tak terlalu berharap lagi. Saat terlahir dalam keadaan seperti ini, maka kamu tak akan ingin berharap lagi. Setelah itu kalian pergi ke mana lagi?" "Kami pergi ke Eagle Point. Simon memaksaku untuk duduk di sebuah batu yang menonjol untuk mendapatkan background jurang dengan Rio Colorado di bawahnya dan yang aku pikirkan hanyalah aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi jika sampai terjatuh," ucap Vinno dan mengenggam tangan Nafa serta kembali mengecupnya. Nafa tak tahu harus menjawab apa jadi dia hanya membiarkan saja Vinno mengecup tangannya. "Maukah kamu berfoto bersamaku? Sebagai kenang-kenangan," ujar Vinno. "Ya, tentu." Vinno berpindah ke sisi tempat duduk Nafa dan merangkul bahunya kemudian Nafa bisa mendengar suara yang berasal dari jepretan ponsel beberapa kali. Tak terasa malam sudah larut dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah dan tidur. Sebab besok Vinno bersama rombongan akan melakukan hiking di puncak Grand Canyon dan mereka akan menginap di sana jika berhasil mencapainya. "Rindukan aku," ujarnya sambil mengecup tangan Nafa lagi sebelum melepaskannya. Belum apa-apa malam harinya ia memang sudah merindukan laki-laki itu. *** Jangan lupa klik love & komentya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN