Satu minggu setelah operasi perbannya akan dibuka dan ia tak sabar lagi mencari tahu apakah akhirnya ia bisa melihat terang atau akan berada di kegelapan selamanya.
"Apa Anda sudah siap, Signora*?"
"Ya, Dok," ujar Nafa tersenyum.
Dengan perlahan dokter membuka lilitan perban pada matanya dan setiap putaran membuat d**a Nafa berdetak begitu kencang hingga akhirnya sampai di bagian terakhir kapas-kapas dilepaskan dari mata Nafa.
"Buka perlahan-lahan mata Anda."
Dengan pelan ia membuka matanya dan sesaat matanya tampak buram hingga kemudian menjadi terang dan ia bisa melihat wajah dokter dan suster yang berada di dekatnya.
"Aku bisa melihat!" jerit Nafa senang dan meloncat turun dari ranjang memeluk suster dan dokter itu dengan refleks.
"Terima kasih!"
"Apa kamu tak ingin memelukku, bella mia?"
Nafa seketika menghentikan dirinya dan menatap laki-laki yang berbicara padanya. Ia tahu jika laki-laki itu suaminya dari suaranya tapi saat melihat wajah laki-laki itu ternyata tak seperti bayangannya. Ia membayangkan jika wajah Vinno akan tampak kekanak-kanakkan karena sering tersenyum dan wajahnya akan tampak melembut atau ceria tapi laki-laki di hadapannya tampak dingin, tak tersentuh dan sesaat ia juga melihat sorot kejam dan kebencian di sana.
Dengan pelan ia menghampiri laki-laki itu dan mengangkat tangannya ke wajah laki-laki itu untuk menyentuhnya tapi sebelum sempat melakukannya Gio menariknya ke dalam pelukan dan memagut bibirnya dengan buas hingga ia kewalahan karenanya.
Saat laki-laki itu selesai menciumnya, ia menatap kedua mata hijau keemasan itu dan melihat tatapan yang membuat tubuhnya berdesir.
"Jadi kamu suamiku?"
"Ya."
"Wajahmu tak seperti gambaranku, aku berharap menemukan wajah yang selalu tersenyum, ceria dan kekanak-kanakan tapi kamu malah tampak kaku, tak tersentuh dan dingin."
"Apa kamu menyesal menikah denganku, bella mia?"
"Tentu saja tidak karena aku mencintaimu," ujar Nafa tersenyum. Ia bisa merasakan laki-laki itu langsung menjadi kaku dan dengan cepat melepaskannya.
"Kemasi barang-barangmu, kita akan pulang sebentar lagi dan ini kacamata untuk melindungi matamu."
"Terima kasih!" ucap Nafa menerima kacamata itu dan memakainya.
"Apa kamu akan membawaku menemui keluargamu?" tanya Nafa kemudian.
Nafa bisa melihat jika tubuhnya semakin kaku mendengar pertanyaannya.
"Kakakmu masih tak merestui kita bukan? Tapi kamu memaksa untuk tetap menikah denganku. Karena itu juga bukan keluargamu tak hadir di pernikahan kita, kemudian kakakmu marah padamu dan kamu menyesal menikah denganku jadi kamu membenciku dan menjauhiku sebab kamu menyadari jika sesungguhnya kamu tak mencintai aku," ujar Nafa sedih.
"Hampir benar tapi tak semuanya. Jangan pernah menebak apapun yang tak kamu ketahui."
Nafa ingin menangis mendengarnya tapi dia masih harus berhati-hati selama beberapa bulan lagi agar matanya bisa tetap dalam kondisi baik.
"Apa kamu tahu siapa pendonorku?"
Sesaat dia diam dan tak ingin menjawab pertanyaan Nafa.
"Tidak!"
Kemudian mereka berjalan dalam diam di lorong rumah sakit itu dan saat di dalam mobil mereka juga saling diam tak bicara. Nafa tak tahu apa yang akan terjadi dengan pernikahan mereka jika mereka terasa seperti orang asing. Ia tak tahu ke mana perginya laki-laki yang ia cintai. Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apa yang sudah kakaknya lakukan padanya hingga laki-laki itu berubah terhadapnya? Ia sungguh tak mengerti.
Nafa ingat hari di mana ia bertemu laki-laki kejam itu dan bahkan ia tak tahu namanya. Untuk apa mengetahui nama laki-laki yang bahkan langsung menghinanya saat baru bertemu.
Mungkin sebaiknya aku tidak bertemu dengannya lagi sebab aku merasa takut padanya.
Mereka akhirnya tiba di sebuah kastil yang merupakan milik keluarga Larvall yang sudah berdiri ratusan tahun di sana. Pintu gerbang terbuka dan Nafa bisa melihat istana di depannya. Saat mereka turun ia semakin gelisah melihat tempat itu hingga tanpa sadar ia menghampiri Gio dan merengkuh lengannya.
"Apa kakakmu ada di dalam?"
"Kenapa?"
"Aku takut padanya karena saat kami bertemu tanpa melihatnya saja aku merasa dia ingin memakanku hidup-hidup apalagi jika aku bisa melihatnya."
"Dia memiliki rumah di kota jadi dia lebih banyak menghabiskan waktunya di sana."
"Oh."
Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam di mana semua pelayan sudah menunggu kedatangannya dan membungkuk hormat bahkan takut saat bertemu dengan Gio.
"Ini Abriana yang mengurusi semua hal di kastil ini, kamu bisa meminta padanya jika membutuhkan apapun."
"Selamat datang, Signora," sapanya membungkuk hormat pada Nafa. Ia sangat senang saat mendengar jika wanita itu bisa berbahasa inggris.
"Panggil saja aku Nafa," ujarnya menangkup kedua tangan pelayan itu.
"Maaf, Signora, saya tidak berani," ujarnya menatap panik pada Gio.
"Tapi—"
"Ayo, aku tunjukkan kamarmu," ujar Gio memotong apapun protes Nafa dan menariknya menuju lantai atas.
"Ini kamarmu."
"Dan kamu akan tidur di mana?"
"Jika sedang berada di sini aku akan tidur di kamar sebelah."
"Kenapa kita tidak satu kamar? Bukankah aku sudah menjadi istrimu?" tanya Nafa bingung. "Dan apa maksudnya jika kamu sedang berada di sini? Apa kamu akan jarang ada di sini?"
"Ya, aku akan sering bepergian karena ada bisnis yang harus aku urus."
"Hal itu tidak menjelaskan kenapa kita tidak tidur satu kamar."
"Apa kamu begitu menginginkan sentuhanku hingga memaksa untuk satu kamar denganku? Ini hanya tradisi keluarga Larvall jika suami istri tidak sekamar. Ada pintu penghubung jika aku ingin menidurimu tapi sayangnya saat ini aku tidak ingin."
Nafa menatap Gio tak percaya akan kata-katanya. Dengan marah ia masuk ke kamar itu dan menghempaskan pintu di depan wajah Gio.
"Aku juga tidak sudi disentuh olehmu b******n!" jeritnya marah dari dalam.
"Jika kamu mendatangi kamarku akan aku bunuh dirimu," sambungnya lagi merasa semakin kesal dengan laki-laki itu.
Tiba-tiba pintu terpental terbuka dan tampaklah Gio dengan raut muka marah di sana. Nafa bisa melihat pipi laki-laki itu menggelap karena begitu marah. Gio berderap melangkah dengan cepat mendekat pada Nafa dan meraih pinggangnya.
"Jika kamu berani melakukan hal itu lagi padaku, kamu tahu akibatnya," bisiknya marah di telinga Nafa.
Nafa hanya bisa terbelalak tak berani bicara mendengarnya.
"Jika aku ingin menyentuhmu, maka kamu akan menerima sentuhanku dan jika aku tak ingin menyentuhmu, maka kamu juga tidak berhak memprotes. Di rumah ini aku tuannya, apa kamu mengerti?!"
Nafa menegak salivanya dengan susah payah.
"Ya," lirihnya pelan dan hanya terdiam saat Gio memagut bibirnya dan menguasainya. Nafa merasakan nyeri di bibirnya saat Gio terus menciumnya dan tak melepaskannya hingga ia merasakan jika ia mulai kesulitan bernapas. Dengan panik ia memukul d**a Gio agar melepaskannya.
Nafa menghirup udara dengan rakus saat laki-laki itu melepaskan ciumannya.
"Itu sebagai pengingat jika kamu lupa bahwa kamu sudah menjadi milikku," ujar Gio dan meninggalkan Nafa di sana.
"Aku tak tahu dia searogan itu," kesal Nafa saat laki-laki itu sudah keluar dari kamarnya.
Ia kemudian membereskan barang-barangnya dengan marah dan menghempaskannya dengan kasar.
"Oh, Tuhan, aku merasa sangat ingin membunuhnya kenapa sifat arogannya itu tak nampak dulu hingga aku bisa jatuh cinta padanya. Jika aku tahu dia searogan itu aku bahkan tak ingin berada di dekatnya."
"Apa?!" bentak Nafa saat pintu kamarnya terbuka dan ia merasa tak enak saat menemukan seorang wanita menatap shock padanya dan akan berbalik pergi.
"Tunggu!" panggil Nafa dan bergegas mengejarnya kemudian meraih tangannya.
"Maaf jika aku membentakmu, aku kira jika kamu Gio sebab aku masih sangat marah padanya. Aku tak tahu jika dia searogan itu saat kami pertama bertemu, mungkin karena aku buta jadi tak bisa melihat semuanya. Jika aku tahu, aku akan menghindarinya seperti wabah bukan malah jatuh cinta padanya," ujar Nafa mengungkapkan semua unek-uneknya.
"Oh. Apa kamu Nafa?"
"Ya, kamu siapa?"
"Aku Giovanni, adik perempuan Gio. Kamu bisa memanggilku Vanni."
"Oh, dia sama sekali tak memberitahuku jika kamu ada di sini."
“Aku sedang berlibur di sini.”
“Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Gio.”
“Aku juga senang karena akhirnya bisa bertemu dengan wanita yang kakakku cintai. Sesaat aku sangat ingin membencimu saat tahu kakakku mencintaimu dan rela berkorban menentang Kakak kami untuk menikahimu tapi sekarang aku tahu kenapa dia mencintaimu dan aku tak bisa menyalahkannya," ujar Vanni dan menangis tersedu-sedu di sana.
Nafa merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Tak tahu penyebab kenapa gadis itu begitu sedih hanya karena Gio mencintainya.
Apa mungkin dia memiliki perasaan lebih dari saudara pada Gio? Tapi itu tak mungkin.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^