Pangeran : Princessa Another Name For Disaster
Pangeran menatap dengan kejam pada gadis yang tengah meminta pertanggungjawaban padanya itu. Jelas mama Pangeran balas melihat tidak santai pada Pangeran, mama Pangeran seolah menuntut penjelasan sesegera mungkin darinya. Tapi apa yang mau dia jelaskan karena dia sendiri merasa tidak pernah melakukan apapun hingga dia perlu bertanggung jawab pada gadis itu.
"Cessa sayang, kenapa Pangeran harus tanggung jawab sama Cessa?" Tanya mama Pangeran akhirnya pada Cessa karena merasa tidak akan mendapatkan jawaban dari Pangeran.
Pangeran mendengus kesal ketika gadis itu bukannya menjawab mamanya, dia malah menunduk sambil memainkan ujung roknya. Kesal tidak mendapatkan jawaban segera, Pangeran berdeham keras menyadarkan gadis yang dipanggil mamanya Cessa itu untuk segera bicara.
Dengan terlihat takut-takut Cessa mengangkat kepalanya lalu tersenyum kaku kearah mama Pangeran. Cessa kemudian menampilkan raut segan miliknya kemudian menyengir karena takut untuk mengatakan apa maksudnya, sedangkan Pangeran sudah menunjukkan wajah muaknya diseberang sana.
"Pangeran nggak salah apa-apa tante, Cessa yang salah. Cessa pengen Pangeran bantuin Cessa, tapi Pangerannya nolak. Cessanya aja yang nggak tau diri tetap berharap bantuan dari Pangeran bahkan sampe ngikutin Pangeran kesini sampai akhirnya tersesat," Cessa mendramatisir kondisinya, berharap mendapatkan simpati dari mama Pangeran dan sepertinya cukup berhasil.
Berbeda dengan mamanya, Pangeran yang sudah berdiri bersiap untuk mengusir gadis yang menurutnya menyebalkan itu. Pangeran tidak akan mau merepotkan dirinya dengan membantu Cessa karena selain tidak tau malu, feelingnya bilang kalau gadis itu adalah gadis merepotkan. Lagipula setelah Pangeran pikir-pikir lagi, gadis dihadapannya ini sudah memenuhi kriteria cewek yang wajib dijauhinya.
"Memangnya Cessa mau minta tolong apa?" Tanya Anna lembut.
Pangeran memutarkan bolamata miliknya karena dia tau mamanya adalah tipe orang yang mudah tergugah. Pangeran yakin sebentar lagi dia akan dipaksa Anna untuk menolong gadis aneh dihadapannya ini. Jadi sebelum itu terjadi, dengan cepat Pangeran bergerak ke arah gadis yang diketahuinya bernama Cessa tersebut, Pangeran berniat menyuruhnya untuk pulang sebelum Anna akan menyuruhnya membantu gadis aneh itu.
"Lo sebaiknya pulang. Jawaban gue masih sama, gue nggak berniat buat nolongin elo." Usir Pangeran sadis.
Anna yang melihat itu langsung menjewer telinga Pangeran kuat, dia tidak suka kalau anaknya itu bertingkah tidak sopan dan kasar pada siapapun, apalagi kalau orang itu adalah perempuan.
"Au...au...mam lepasin sakit," ringis Pangeran sambil berusaha bebas dari jeweran mamanya.
Cessa yang melihat itu jelas merasa tidak enak, dengan cepat dia juga ikut memohon agar Anna melepaskan tangannya dari telinga Pangeran.
"Tante, tante tolong lepasin," Cessa memegang pergelangan tangan Anna. Barulah Anna mau melepaskan tangannya.
"Maaf ya sayang anak tante nggak sopan. Jadi kamu mau minta tolong apa sama Pangeran?" Tanya Anna, sambil menoleh lagi pada Cessa. Anna mengabaikan Pangeran yang meringis dan memasang wajah merengut kepada Anna.
"Emmm... itu tante, eum Cessa mau..." Cessa terlihat ragu-ragu mengatakannya, sungguh dia merasa tidak enak dengan Pangeran yang sudah memasang wajah masam.
"Ya?" Tanya Anna sabar.
"Cessa mau dibantuin belajar tante sama Pangeran," kata Cessa takut-takut.
Anna tersenyum, berbanding terbalik dengan Pangeran yang kini memandangnya sinis dengan satu alis terangkat. Melihat itu Cessa tidak yakin kalau Pangeran akan membantunya, membuat dia cemberut seketika. Pangeran itu tidak hanya jutek dan judes, tapi juga pelit sepertinya.
"Ya udah, kamu tentuin kapan mau belajar sama Pangeran. Nanti Tante paksa Pangeran buat mau ngajarin kamu." Anna tersenyum senang kembali mengelus kepala Cessa. Anna terlihat menyukai Cessa yang memang terlihat imut dan polos.
Mendengar perkataan mamanya jelas Pangeran tidak suka. Pangeran mengerang menunjukkan penolakannya, namun erangannya berhenti ketika Anna melotot kepadanya. Jika Pangeran mengerang tidak suka, maka Cessa sangat senang. Cessa menepuk-nepuk tangannya kecil, tersenyum lebar dari telinga kiri ke telinga kanan.
"Terimakasih tante Anna," tanpa Cessa sadari dia sudah memeluk Anna saking senangnya.
"Eh maaf tante," kata Cessa sambil tersipu malu ketika sadar apa yang dilakukannya. Anna hanya menggeleng lalu senyum.
"Ya udah, besok Cessa kesini lagi buat belajar bareng Pangeran," kata Anna lagi yang langsung dapat penolakan dari Pangeran.
"Ma, Eran nggak mau ngajarin dia."
Tapi seolah tidak mendengarkan keluhan pangeran, Anna malah menyuruh Pangeran untuk mengatar pulang Anna.
"Cessa tadi kesini naik apa?"
Cessa menyengir lalu menjawab polos, "Naik bus tante, ngikutin Pangeran."
Anna sejujurnya terkejut karena melihat dari penampilan Cessa, gadis itu bukan type yang biasa dengan transportasi umum seperti bus ataupun KRL. Namun dia coba memakluminya karena seperti yang Cessa bilang, dia mengikuti Pangeran kesini. Sedang kedua putranya, walau memiliki kendaraan pribadi hadiah dari kakek mereka, Pangeran dan Dylan lebih memilih menggunakan kendaraan umum karena tidak suka sesuatu yang repot.
"Oh ya udah, biar Pangeran antar pulang. Mama papa Cessa nanti kecarian," kata Anna.
"Ma, Pangeran nggak mau." Tolak Pangeran.
"Ya udah sekarang kamu ikut Pangeran ya," Anna mengabaikan penolakan Pangeran
Dengan cepat Cessa mengangguk, jelas dia menerima tawaran Anna. Sekedar mengingatkan hape dia lowbat, uangnya nggak ada, lebih parahnya lagi dia tidak ingat jalan pulang. Sungguh sempurnakan kondisi menyedihkannya, jadi jangan salahkan dia jika dia langsung menyetujui tawaran itu.
❦❦❦
Pangeran berjalan menuju garasi rumahnya, ditariknya mantel yang menutup motor hitamnya. Sungguh sebenarnya dia tidak ikhlas untuk melakukan semua ini. Tapi dia tau apapun perintah mamanya adalah wajib, jadi dia harus mengantarkan gadis yang dianggapnya musibah ini sekarang.
"Nih pakai," Pangeran memberikan celana training berwarna biru pada Cessa.
Gadis itu tidak langsung menerimanya, dia tampak menimbang-nimbang apakah dia harus memakainya atau tidak. Pangeran menaikkan sebelah alisnya karena Cessa tidak menyambut pemberiannya. Kalau bukan mamanya yang menyuruh Pangeran untuk meminjamkan celananya karena mereka akan pulang dengan motor, dia akan bodo amat dengan kondisi gadis itu. Toh bukan dia yang kesusahan, tapi ini lagi-lagi karena mamanya menyuruh makanya dia harus patuh.
"Kenapa? Lo nggak mikir celana gue terlalu kotor buat lo pakekan?" Tanya Pangeran sadis.
"Oh tidak... tidak, hanya saja aku..." Pangeran melihat gadis itu terlihat ragu menjawabnya.
"Kenapa?" Tanya Pangeran lagi kali ini dengan tubuh bagian bawah yang telah bersandar di motornya.
Pangeran terus memandanggi Cessa, menunggu jawaban Cessa.
"Um, aku nggak bakal hamilkan make celana itu?" Tanya Cessa yang membuat mata Pangeran membulat besar.
Sungguh hal yang ingin Pangeran lakukan sekarang adalah mendamprat Cessa. Bagaimana mungkin gadis dihadapannya ini bisa berpikir kalau memakai celana laki-laki bisa mengakibatkan kehamilan. Apa dia pikir s****a bisa tetap berfungsi kalau sudah lama berada di luar tubuh manusia. Kalaupun iya ada spermanya keluar, Pangeran yakin itu tidak akan menempel dicelananya karena dia memakai sempak dan bokser untuk sekedar pemberitahuan saja dan celana itu juga sudah cuci. Tapi apa perlu Pangeran menjelaskan semua itu pada gadis yang menurut dia kelewat bodoh ini.
Keduanya terdiam sejenak hingga akhirnya Pangeran memecahkannya keheningan diantara mereka dengan desahan kesal darinya. Dia tidak akan mau menjelaskan hal bodoh seperti itu pada siapapuan. Lagipula menurut Pangeran, gadis bernama Cessa ini pastilah satu dari kumpulan cewek yang bodoh dan naif bercampur menjadi satu.
"Gue nggak ngerti lo itu b**o atau polos sebenarnya." Pangeran naik kemotornya agar tidak perlu melihat wajah bodoh Cessa. "Sekarang lo pakai celana ini. Kalau lo hamil, gue bakal tanggung jawab." Kata Pangeran malas berlama-lama berinteraksi dengan Cessa. Memilih mengalah dengan kebodohan Cessa karena menurutnya itu adalah pilihan terbaik agar semuanya cepat selesai.
❦❦❦
Pangeran menepikan motornya di depan sebuah rumah besar yang terlihat mewah dan asri karena dipenuhi oleh bunga. Setelah tadi mereka sempat berkeliling-keling tidak jelas, akhirnya Pangeran berhasil mengantarkan Cessa. Pangeran tidak bisa menggambarkan betapa kesalnya dia pada Cessa, Pangeran tidak percaya ada orang seperti Cessa masih eksis di dunia ini. 'Bagaimana mungkin ada yang tidak ingat jalan pulang?' Pikir Pangeran. Walau ini salahnya dia juga karena tidak membawa hp dari rumah tadi, jadi tidak bisa menggunakan google map.
Pangeran menumpukan kakinya saat Cessa bersiap turun dari motornya. Saat Cessa memegang bahunya dan terlihat berhati-hati turun dari motor miliknya, Pangeran baru menyadari kalau Cessa itu cukup pendek untuk gadis seumuran mereka. Celana Pangeran yang dikenakan oleh Cessa bahkan terlihat kedodoran ditubuh gadis itu. Pangeran tidak tau harus bagaimana mendeskripsikan penampilan Cessa karena yang Pangeran bisa gambarkan saat ini hanyalah seorang gadis mungil yang masih menggunakan seragam sekolahnya, mengenakan training berwarna hitam yang tergulung tebal hingga lututnya. Kalau mau penggambaran yang lebih simple, keadaan Cessa sekarang persis seperti orang terkena banjir atau seorang cleaning service.
"Terimakasih," ucap Cessa setelah berhasil turun dari motor Pangeran.
Pangeran tidak menyahut, dia memilih diam hingga bersiap untuk pergi lagi. Pangeran sempat memicingkan matanya saat Cessa menampilkan senyum lebar miliknya. Entah kenapa setiap kali gadis itu tersenyum kepadanya, Pangeran selalu merasa dia akan bertanggung jawab dengan segala masalah yang akan dibuat gadis itu. Dengan cepat Pangeran menghidupkan motornya dan berlalu dari rumah Cessa. Tapi dari kejauhan Pangeran masih sempat mendengar teriakan Cessa yang membuat dia hanya bisa mendesah pasrah.
"Hati-hati. Sampai bertemu lagi besok!!!"
Pangeran mengabaikan teriakan Cessa, dia malah memutar gas motornya agar cepat meninggalkan kawasan rumah Cessa. Takut semakin lama dia dekat dengan Cessa, maka semakin cepat juga kegilaan gadis itu menular kepadanya. Sejak dulu dia tidak pernah senang dekat dengan orang yang bodoh, riuh dan cerewet seperti Cessa. Jadi sebisanya Pangeran, dia selalu menjauhkan diri dari siapapun yang menurutnya akan menularkan sesuatu yang buruk kepadanya. Termasuk kebodohan yang menurut Pangeran bisa menular, saat kebodohan sendiri sebenarnya bukanlah penyakit.
Jadi tidak ada besok, lusa ataupun nanti, Pangeran mau mengajari Princessa Maouretti. Itu hanya ada dalam bayangan gadis itu saja.
❦❦❦