Pagi itu seperti biasa Lembayung tetap melakukan rutinitas merawat Pak Permana. Namun gadis itu sekarang lebih banyak diam dan murung, tawa canda yang selalu ia suguhkan setiap pagi kini hilang berganti wajah senduh yang menyimpan sejuta luka. Walau demukian Lembayung sudah tidak lagi untuk membersihkan rumah atau memasak di dapur. Semua di lakukan Mbok Minah dan para pelayan lainnya. Gadis itu tetap diam seribu bahasa sembari menterapi kaki Pak Perana mertuanya dengan wajah sembab dan bibir yang terluka akibat tamparan Arga tadi malam. "Apa kau baik.- baik saja nak? Beristirahat lah kalau tidak enak badan. Jangan paksakan diri merawat Papa. Maafkan atas segala kelemahan Papa yang tidak bisa membela dan melindungimu sehingga semua ini terjadi." Ucap Permana sayu dengan mata berkaca -

