[8] Sepanjang Jogging Track

1962 Kata
Jogging track di taman kecil itu sedikit sepi. Mungkin karena waktu telah menjelang siang, atau orang-orang memang jarang berolah raga di sana. Padahal, tempat itu lumayan bersih dan sejuk. Pohon cemara yang begitu besar tepat berada di area taman. Terdapat pula tempat duduk melingkar yang tentu saja selalu rindang. “Sebenernya kita mau jogging atau nangkap maling, sih?” “Sttt!!” Ayesha berdesis kemudian menoleh ke belakang. “Udah, La. Ikutin aja.” Nala mengembuskan napas dengan kasar. Sejak tadi, dia berjalan mengendap-endap seperti akan menangkap maling. Jika, tahu seperti ini Nala lebih baik tidur saja di rumah. Bukan malah sok-sokan ikut Ayesha jogging. Sedangkan Ayesha terus berjalan mengendap sambil mengedarkan pandang. Dia belum melihat sosok Redo. Entah, cowok itu sedang berlari atau bahkan sudah pulang. Ayesha sengaja datang terlambat, takut cowok itu hanya mengerjainya saja. “Huh!!” Ayesha berdiri tegak kemudian mengusap dadanya naik turun. “Nggak ada maling, ya?” Ayesha menarik turun maskernya kemudian menatap Nala. Sahabatnya itu memakai jersey berwarna pink dan celana panjang berwarna pink neon. “Lo niat banget, ya, ikut jogging kali ini?” “Iyalah. Tapi ternyata kita cuma ngendap-endap doang!!” Nala seketika berdiri tegak dan menatap penampilannya yang cetar itu. “Jadi nggak, nih, jogging-nya? Kalau enggak mending pulang.” “Bentar! Lihat keadaan dulu.” “Yaelah! Keadaan apa lagi, sih?” Bukannya menjawab, Ayesha malah berjalan sambil mengendap-endap. Dia tidak ingin bertemu dengan Redo. Yah, kedatangannya ke mari hanya untuk memastikan saja cowok itu mengerjainya atau tidak. “Gimana komandan Ayesha? Udah aman?” sindir Nala. Ayesha menoleh dan menemukan Nala berjalan santai di belakangnya. Seketika, dia menarik Nala hingga gadis itu berjongkok. “Lo harus ikutin setiap gerak-gerik gue.” “Emang ini ada apaan, sih!!” Nala mulai bosan mengikuti keanehan temannya itu. “Nggak capek apa ngendap-endap kayak gitu?” Suara berat itu membuat tubuh Ayesha dan Nala langsung menegang. Perlahan mereka menoleh dan melihat seorang cowok dengan kaus putih dan celana panjang berwarna hitam. Nala yang lebih dulu menyadari Redo, seketika berdiri tegak dan pura-pura mengedarkan pandang. “Lo ada di sini juga ternyata.” “Iya. Lo di sini juga ternyata!” Ayesha ikutan berdiri dan mengedarkan pandang ke arah lain. Redo menatap Ayesha dengan satu alis terangkat. Dia yakin, tingkah Ayesha barusan hanya untuk menghindarinya. “Kalau nggak mau mending nggak usah ke sini.” Nala menoleh ke Ayesha menutut penjelasan. Sedangkan Ayesha mulai kebingungan harus menjawab apa. “Gue juga nggak maksa lo kok buat ke sini,” lanjut Redo. “Enggak-enggak! Gue mau jogging kok!” Ayesha berbalik dan mulai berlari pelan. “Jadi kalian?” Nala menunjuk Redo dan Ayesha bergantian. Dia sama sekali tidak tahu jika Ayesha janjian dengan Redo. “Kalau tahu kalian janjian, mending gue tadi nggak ikut.” “Temen lo aneh!” ucap Redo lalu berlari mengejar Ayesha. Bego banget, sih, sampai ketahuan! b**o!! Ayesha terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia malu sendiri ditangkap basah oleh Redo. Pasti cowok itu makin ngejek gue, pikirnya. “Gue dari tadi nungguin lo!” Redo berlari di samping Ayesha, sambil sesekali melirik gadis itu. “Kan, gue nggak janji bakal dateng.” “Tapi buktinya lo dateng,” jawab Redo. “Kenapa, sih, harus ngumpet kayak tadi?” Seketika Ayesha menoleh lalu menepis udara dengan tangan. “Siapa yang ngumpet? Lagi panas aja.” “Oh, ya?” “Udah, deh, jangan banyak omong! Udah mulai panas ini.” Redo mulai merasakan tubuhnya memanas. Bagaimana tidak, dia baru berlari pukul 09.30. Beruntung Ayesha datang, jika tidak mungkin sampai siang Redo akan menunggu gadis itu. “Kaki lo udah baik-baik aja, kan?” tanya Redo sambil melirik kaki putih Ayesha. “Kalau gue bisa lari berarti baik-baik aja.” “Biasa aja kali. Nggak usah sewot!” Ayesha seketika berhenti berlari dan bertolak pinggang. “Gue nggak sewot!!” Redo berlari mundur dan menatap wajah Ayesha yang memerah itu. “Kalau nggak sewot terus apa? Jutek?” “Nyebelin banget, sih, lo!!” Ayesha berlari mengejar dan Redo langsung berbalik dan berlari kencang. “Redo!! Sini lo!!” teriak Ayesha. “Kejar gue kalau bisa!!” Redo berlari sambil sesekali melompat. Sedangkan Ayesha mendengus melihat cowok banyak gaya itu. Setelah satu kali putaran, Redo langsung berhenti berlari dan memperhatikan Ayesha yang masih mengejarnya itu. “Mana Ayesha yang kemarin? Lari lo kurang cepet!” “Huh. Huh..” Akhirnya Ayesha sampai di depan Redo dengan napas memburu. Gadis itu menunduk sambil menyentuh perutnya yang terasa ditusuk-tusuk. “Lo curang lari duluan,” jawab Ayesha. “Gimana kalau kita tanding?” tantang Redo dengan senyum semringah. Ayesha mendongak, menatap Redo yang terlihat penuh muslihat itu. Gadis itu menarik napas panjang kemudian berdiri tegak di hadapan Redo. “Ayo! Siapa takut.” “Kalau gue menang, besok pulang sekolah lo harus ikut gue jalan!” ucap Redo membuat Ayesha terlihat keberatan. “Kalau gue menang. Lo harus ngejauh dari gue.” “Oke!!” jawab Redo tanpa keraguan sedikitipun. “Kita mulai lari dari sini. Satu putaran aja nanti lo capek!” tunjuknya tepat di mana dia berdiri. “Jangan banyak bacot, deh. Mending langsung buktiin.” “Oke!” Keduanya berdiri bersisian, lalu mulai membungkuk bersiap untuk berlari. Ayesha dan Redo saling melirik sambil mulai menghitung. “Tiga.. Dua.. Satu..” Redo berlari lebih kencang dan Ayesha berlari di belakangnya. Gadis itu mendengus melihat Redo yang larinya sangat cepat itu. Tidak ingin kalah, Ayesha mempercepat laju larinya, tapi tetap saja kakinya yang pendek tidak mampu mengalahkan Redo. Hingga akhirnya, Redo mencapai garis finish terlebih dahulu. Dia mengangkat kedua tangan kemudian berbalik menatap Ayesha yang masih berlari itu. “Semangat, Sha!!!” teriaknya. “Huh!! Capek!” Ayesha akhirnya sampai dan langsung menunduk. “Lo larinya cepet banget, sih.” “Iya dong. Redo!!” Redo menepuk dadanya seolah bangga. Meski lawan perempuan bukan hal yang cukup membanggakan. “Besok, lo harus jalan sama gue!” Ayesha mengusap peluh yang mulai menetes itu. Sial, dia besok harus pergi dengan Redo. “Itu biar jadi urusan besok. Sekarang gue haus banget!!” Redo melihat bibir Ayesha mulai mengering. Tanpa berpamitan, Redo berlari untuk mencari air mineral.   ***   Setelah berlari, Ayesha memilih berteduh di bawah pohon cemara. Nala yang seharusnya menemaninya jogging, malah enak-enakan selfie di bawah pohon rindang itu. “Huh. Huh!!” Ayesha masih saja ngos-ngosan. “Sha. Lo coba lihat ini, deh.” Nala memperlihatkan ponselnya dan memutar sebuah video. Ayesha mengerjab melihat dirinya dan Redo saat tanding lari barusan. “Ngapain lo videoin?” “Seru, tahu. Kapan lagi Ayesha deket sama cowok.” Nala mengedip genit. Sengaja dia tadi tidak ikut lari agar dua orang itu berduaan. “Hapus, deh! Nggak penting banget!” “Ye. Ini kan video gue. Terserah gue dong!” Nala menjauhkan ponselnya dari Ayesha, takut sahabatnya benar-benar menghapus video itu. “Oh, ya, gue punya satu lagi.” Ayesha melongok dan melihat foto Redo sedang bertolak pinggang dengan senyum semringah. Ayesha mendekatkan wajahnya ke ponsel dan melihat senyum manis Redo sekali lagi. “Tumben dia senyum.” Nala manggut-manggut, selama bertemu Redo cowok itu hanya memberi tatapan tajam. “Lo tahu nggak dia senyum pas kapan?” “Kapan?” Ayesha terlihat penasaran. “Waktu dia sampai finish dan nungguin lo,” jawab Nala dengan kerlingan. “Dia beneran suka lo kayaknya.” “Apaan, sih!!” Ayesha membuang pandang dan melihat Redo berlari dari kejauhan. Dia memperhatikan rambut Redo bergerak seirama. Lalu tatapannya jatuh ke mata Redo yang terlihat tajam, meski bibir cowok itu sedikit tersenyum. “Nih, buat kalian.” Redo berdiri di depan Ayesha dan mengulurkan dua air mineral untuk gadis di depannya. “Kebetulan gue haus!” Nala mengambil air mineral itu dan menegaknya hingga tandas. “Makasih!” Ayesha menegak minuman itu dan baru sadar Redo masih berdiri di depannya, tanpa air mineral di tangan. Ayesha seketika mendongak dan mengulurkan air mineral itu. “Gue udah minum tadi!” tolak Redo sambil mendorong air mineral itu. “Oh!” Redo duduk di samping Ayesha dan menatap matahari yang mengintip dari celah dahan. Matahari semakin terik dan mulai membakar. “Setelah ini kalian mau ke mana?” Nala seketika menoleh dan menangkap sebuah tanda-tanda. “Pulang. Lo mau nganterin Ayesha?” “La!!” Ayesha menyikut lengan sahabatnya itu. “Boleh-boleh aja. Lo mau nggak gue anter?” tanya Redo sambil menatap Ayesha. “Do, lo anter Ayesha, ya. Bensin gue mau abis. Nggak keburu kalau nganterin Ayesha dulu,” ucap Nala. “Bye!!” lanjutnya sambil berlari pergi. “Nala!!” Ayesha berdiri hendak mengejar Nala. Tapi, pergelangan tangannya langsung dicekal oleh tangan yang terasa panas itu. “Gue anter. Tapi naik taksi nggak apa-apa, ya?” tanya Redo. Ayesha terlihat menimbang-nimbang. Dia canggung jika hanya pergi berdua dengan Redo. “Gue balik sendiri, deh.” Seketika Redo berdiri dan menarik Ayesha. “Gue yang udah ngundang lo ke sini. Biarin sekarang gue anter lo.” Sepertinya Ayesha tidak bisa menolak, cowok itu lumayan keras kepala. “Oke. Tapi nggak usah pegang-pegang!!” Dia menarik tangannya lalu berjalan lebih dulu. Tangan Redo seketika terangkat, dia tidak sadar menggenggam tangan Ayesha. Cowok itu kemudian berjalan cepat menyusul Ayesha. “Karena lo kalah, besok lo harus pergi sama gue!” Mati gue! Ayesha menggigit ujung bibirnya. Dia tidak pernah jalan berdua dengan cowok, apalagi cowok ini baru dia kenal beberapa hari terakhir. “Gue boleh ajak Nala?” Redo mengernyit. “Ngapain ngajak dia?” “Ya gue, kan, butuh temen.” “Emang lo anggap gue bukan temen?” tanya Redo bingung. Ayesha menggeleng pelan, bingung sendiri harus menjawab apa. “Teman cewek maksudnya.” “Setakut itu lo sama gue?” Redo mengembuskan napas panjang. Dia merasa tidak terlalu nakal, tapi Ayesha justru takut kepadanya. “Gue cuma ngajak lo makan kok. Sebagai rasa terima kasih karena lo udah nolongin dua kali. Setelah makan, gue bakal anterin lo pulang.” Ayesha melirik, Redo terlihat santai dan tidak begitu menyeramkan. Salahkan pikiran Ayesha yang terus mengganggap cowok itu jahat. “Oke,” jawabnya kemudian. Redo tersenyum senang karena Ayesha mau menerima ajakannya.   ***   “Jangan lupa, langsung mandi dan rendam kaki lo sama air hangat.” “Lo bawel, deh!” Redo menggeleng pelan, baru pertama kali ini dia dikatai bawel. “Gue nggak mau aja lo ngeluh terus nyalahin gue.” Ayesha menoleh, melihat Redo yang duduk santai di sampingnya. Gadis itu tersenyum, Redo lagi-lagi perhatian kepadanya. “Ngapain senyum-senyum?” Tidak disangka, Redo tiba-tiba menoleh dan melihat Ayesha yang cengar-cengir sendiri itu. “Gue ganteng, ya? Makasih.” “Apaan, sih, lo?” Ayesha membuang pandangan menatap jalanan menuju arah rumahnya. “Sha. Gue boleh, kan, jadi temen lo?” Pertanyaan itu membuat Ayesha langsung menoleh. Dia melihat Redo menatapnya penuh harap. Entah, Redo tipikal cowok seperti apa. Sekilas, cowok itu terlihat supel dan pasti memilik banyak teman. Namun, raut wajah cowok itu justru sebaliknya. “Nggak ah, lo nyeremin!” jawab Ayesha. Redo menghela napas panjang. “Gue nyeremin gimana, sih, Sha?” “Tatapan sama aura lo, tuh!” “Aura gue emang seburuk itu?” Enggak! Tapi aura lo bikin cewek deg-degan, jawab Ayesha dalam hati. “Mana gue tahu!” ungkapnya. “Kalau soal aura gue nggak tahu gimana cara ngubahnya,” jawab Redo. “Soal mata gue yang tajam, gue juga nggak tahu. Tuhan ngasih mata gue kayak gini.” Ayesha tersenyum kemudian mengulurkan tangan ke Redo. “Gue bercanda kok.” Kalimat itu membuat Redo sangat lega. “Gue kira, lo nggak mau temenan sama gue,” ucapnya sambil menjabat tangan Ayesha. “Asal, lo coba natap biasa aja biar gue nggak ketakutan.” “Bakal gue coba.” Redo tersenyum semringah, apapun akan dia coba agar Ayesha tidak ketakutan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN