Seminggu berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Defin dan Erik. Semenjak itu pula aku tidak pernah lagi mendapat telepon atau pesan dari Defin. Apakah lelaki itu marah dan kecewa? Kurasa itu hal yang wajar. Namun aku tidak menampik rasa rindu di hatiku. Kini aku tiba pada sebuah pilihan yang sulit setelah mempertimbangkan beberapa hal. Diriku tidak memungkiri pikiran untuk menggugurkan janin dalam kandunganku. Aku bahkan telah sampai di depan bangunan yang bersedia melakukannya, setelah aku mencari tahu lewat internet. Namun kakiku tidak mampu melangkah lebih dalam. Akhirnya aku pulang dengan tangisan yang merasa bahwa janin ini juga berhak untuk hidup. Aku membuat pilihan untuk meninggalkan Indonesia. Melahirkan dan membesarkan anak ini di luar negeri. Tepatnya di Amerika Serikat, di

