Langkah kakiku terasa kurang seimbang saat bergerak bergantian untuk berjalan kembali menuju apartemen. Belum lagi kepalaku yang terasa berat untuk ditegakkan. Tetapi aku menepuk kedua pipiku agar tetap bisa sadar. Begitu berada di gedung apartemen, aku menuju lift dengan langkah cepat agar tidak merasa lemas dan bisa berakhir tidak sadarkan diri. Aku bertopang pada dinding dalam lift sambil mengatur napasku agar tetap terjaga. Pintu lift terbuka. Tanpa menunggu lagi aku segera menuju apartemen Erik. Aku memencet bel yang tidak lama kemudian Erik muncul dengan senyuman lebar. ''Kau terlihat berantakan Bella,'' katanya tersenyum tipis. Lebih tepatnya tersenyum nakal. Aku tersenyum membalasnya, mataku semakin berat saja. Erik merangkulku masuk ke dalam apartemen. Lampu belum dinyalakann

