PART [45] . . . Nara masih menangis dalam pelukan Arka, tepukan pelan dan usapan lembut laki-laki itu ternyata tidak membuatnya tenang dengan cepat. Masih belum menerima semua cerita sang ibu. Nara seakan tidak bisa berpikir lagi. Sementara Arka, masih merengkuk tubuh Nara, mengajak wanita itu kembali berdiri. Walaupun tatapan matanya masih menatap sosok Clara dan Eric yang kini berada tak jauh dari posisi mereka. Saat Clara berusaha mendekati Nara, sang suami bergerak menghentikannya. Merasa bahwa aura yang dikeluarkan Arka sekarang sangat berbahaya. Bagaikan predator ganas. Wajah tanpa ekspresi menunjukkan seberapa besar amarah Arka. “Apa yang tante katakan tadi pada, Nara? Kalian sampai membuatnya menangis histeris.” Mengambil inisiatif untuk bertanya, Clara menundukkan wajah ra

