5. FWB

1326 Kata
Di kalangan masyarakat saat ini sudah menjadi hal umum tentang hubungan pertemanan yang saling menguntungkan secara fisik, seksual atau hal lain meski tanpa ikatan. Hubungan seperti itu juga disebut dengan Friends With Benefit atau biasa disebut FWB. Sama halnya dengan Yuga dan Eri sahabatnya sejak beberapa tahun yang lalu. Eri layaknya wanita muda pada umumnya membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Hanya saja semua itu tak bisa ia dapatkan secara penuh dari sang suami yang bekerja di pelayaran. Sementara disisi lain Yuga menjalani beberapa tahun yang sepi tanpa belaian seorang istri. Sampai akhirnya keduanya menjalin hubungan yang salah. Persahabatan mereka sejak SMA membuat mereka begitu dekat dan terikat. Kemudian membawa keduanya dalam hubungan panas yang penuh gairah setelah menjalani hidup dengan rasa kurang perhatian dan kasih sayang. Yuga sadar ia salah karena telah menjalin hubungan diam-diam dengan Eri yang sudah bersuami. Hanya saja di usianya yang menginjak tiga puluh tahunan awal, hasrat dan gairahnya masih menggelora. Sama halnya dengan Eri yang kadang tak mendapatkan belaian selama setahun penuh. meski setiap malam dirinya dan suami melakukan panggilan video dan saling memuaskan dengan kekuatan masing-masing. Tetap itu tak membuatnya puas, Eri butuh lebih dari itu dan Yuga memenuhi kebutuhan dan hilangkan dahaga yang ia rasakan. Seperti hari ini, alih-alih rapat seperti yang dikatakan pada kedua anaknya. Yuga malah berkunjung ke apartemen Eri. Apartemen yang sengaja wanita itu beli agar ia bisa bertemu Yuga disaat saling membutuhkan. Hingga saking leluasa untuk saling adu cumbu. Saat ini keduanya bergumul di dapur setelah makan siang. Entah ruangan mana yang belum terjamah oleh kelakuan keduanya. Dapur, ruang makan, kamar tidur dan juga kamar mandi yang paling menjadi tempat kesukaan mereka saat melakukan pergumulan. Wanita membiarkan rambut kepanjangannya tergerai memberikan kesan seksi yang memikat. Aroma musk, vanili dan wood menambah kesan seksi dan sensual Yuga jelas terpikat dan terjerat. Apalagi Eri begitu liar dalam setiap gerakan. Wanita itu bisa menjadi pemandu ataupun yang dikendalikan tergantung keinginan Yuga. Desahan, eluhan, serta sumpah serapah yang diucapkan oleh Eri terdengar dari balik punggungnya, menyebabkan Yuga semakin naik birahi dan menggerakkan tubuhnya semakin cepat. Yuga disirami telaga nikmat akibat lenguhan dan gerakan yang dilakukan wanita yang kini berada dalam kendalinya. Sementara wanita itu mencengkram erat sisi-sisi pegangan bufet dengan erat dengan yang terpejam akibat gerakan Yuga yang membawanya pada rasa candu yang nikmat. eri terus mengatakan hal-hal yang membuat ia ingin menuntaskan hasrat. Gerakan Yuga semakin kencang saat akhirnya ia sampai pada puncak nikmat dan rebah sebentar di atas punggung Mira. Eri membalik tubuh kemudian menatap pada Yuga yang kini mengecup pipinya. "tidur sini dulu kan?" tanya Eri. Yuga gelengkan kepala. "Masih ada kerjaan sebentar. Dan Chello minta ke Edelweis." "Hmm? Enggak capek emang?" tanya wanita itu yang kemudian mengambil outer sutra tipisnya yang bahkan tak bisa menutupi lekuk tubuhnya. "Capek? Sedikit aja. Aku mandi dulu ya." Yuga kemudian terkekeh lalu berjalan tanpa sehelai benang pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Yuga memiliki tubuh yang bisa dibilang sedang dan cenderung kurus sebagai laki-laki, tak memiliki banyak waktu untuk berolahraga juga membuat perutnya sedikit bulat tipis. Hanya saja tak bisa diragukan ia tampan dengan pesona dan kesan dingin yang melekat. Apalagi begitu lihai dalam memuaskan wanitanya. Contohnya saja Eri yang mengatakan kalau Yuga begitu menggoda dan menjadi candu seperti madu yang ingin ia nikmati setiap hari. Sementara itu Eri memakai kembali pakaiannya dan bergegas membersihkan diri seadanya agar bisa membuatkan teh manis hangat untuk memulihkan tenaga. Eri menunggu Yuga yang tengah membersihkan dirinya. Kemudian tak lama pria itu berjalan keluar dari dalam kamarnya sudah rapi dengan pakaian kerja miliknya. Ia lalu berjalan mendekat, mengecup kening dan segera duduk di samping Eri. Wanita itu memberikan secangkir teh untuk Yuga. "Ini buat kamu, udah aku kasih madu juga," ucap Eri kemudian berkedip dan mendekatkan wajahnya ke arah Yuga. "Biar makin hot.'' bisiknya menggoda. "Aku memang kurang hot?" Yuga bertanya kemudian menyeruput teh hangat miliknya. Eri mendekatkan kursinya. Menelusuri wajah Yuga hingga d**a dengan jarinya. Kemudian kembali ke bibir dan mengecupnya. "udah hot banget sih. Cuma kurang aja, biasanya bisa tiga ronde." Yuga tersenyum, kemudian menyentuh bagian tengah tubuh Eri yang menerawang. "Kamu kan udah aku bikin KO berkali-kali. Kapan kapan kita lanjut ya?" Yuga kemudian mengecup bagian tubuh eri itu hinga buat Eri mendesis merasakan nikmat. Setelah cukup membuat Eri kembali merasakan napsunya. Yuga menghentikan kegiatannya. "Tuh jahat banget ih! jangan iseng dong Ga," kesal Eri kemudian memukul bahu selingkuhannya itu. Sang CEO hanya tertawa setelah membuat Eri merasa kesal. "Aku balik ya, mau jemput Chello dan Cherryl dan harus jalan ke Edelweis." Wanita berambut panjang itu mengangguk. "Aku besok main ke rumah deh. aku lama enggak mampir dan masak buat anak-anak kan?"" "Iya, aku tunggu kamu di rumah." Yuga berdiri ia kembali mengecup bibir Eri, melepaskan kecupannya, kemudian mengusap bibir eri dan berjalan meninggalkan tempat itu untuk kembali melanjutkan pekerjaan dan menuruti keinginan buah hatinya. *** "Jadi kamu enggak mau bayarin motor aku?" pertanyaan ke luar dari bibir Satya yang terlihat kesal. Sore ini pria itu menyusul Rei ke tempatnya bekerja karena ia terus ditagih untuk pembayaran kredit motornya. "Aku baru gajian minggu besok. Bukannya aku enggak mau bayarin kamu Sat," ucap Rei merasa bersalah karena tak bisa membantu kekasihnya. Satya melirik pada Jimmy yang sejak tadi memerhatikan keduanya dengan seksama. Pagi tadi Iva sudah memberitahu Jimmy perihal Satya yang lagi-lagi meminta uang pada Rei untuk membayarkan kredit motor yang sejak awal selalu Rei yang membayar. Pria itu sama sekali belum membayarkan apapun sejak pembayaran awal. "Aku cuma minta tolong kamu lho. Emangnya aku minta? nanti juga aku ganti." Satya berbicara setengah berbisik memastikan Jimmy tak mendengar apa yang keluar dari bibirnya. "Kamu bilang aja, aku akan bayar pas gaji aku keluar ya? jangan khawatir," ucap Rei meminta agar kekasihnya itu tak perlu terlalu khawatir dengan penagihan yang ia terima. Satya hela napas, seolah ia yang paling tersiksa dan korban di sini. "oke kalau kayak gitu aku tunggu kamu," ucapnya kemudian. Pria itu lalu merapikan tas dan jas miliknya. "Aku harus balik, kamu masih lama?" "Hmm, sebentar lagi. Aku harus beresin toko dulu." Rei menjawab. Satya menatap jam di tangannya. "Aku harus buru-buru karena besok masuk pagi." "yaudah kamu balik aja. Mau roti? Rei menawarkan roti yang akan kadaluarsa besok biasanya akan dibuang. Rei dan Jimmy biasanya membawa pulang untuk dibagikan dan sebagian dimakan sendiri. Satya gelengkan kepala. "Enggak, aku pulang ya." Pria itu kemudian berdiri dan mengecup kening Rei sebelum akhirnya berjalan ke luar toko. Rei memerhatikan sampai kekasihnya itu melaju menghilang dari pandangan. rei kembali ke belakang etalase kue bersama Jimmy mulai merapikan roti dan kue karena hari ini jam kerja mereka sudah selesai. "Sampai kapan mau terus dimanfaatin gitu?" tanya Jimmy tanpa menatap Rei ia masih sibk dengan pekerjaannya. "Dia cuma minta tolong Jim," sahut Rei yang kini ikut membantu merapikan kue. Sang sahabat hanya bisa menghela naps mengetahui betapa bodohnya sahabatnya itu yang terus saja dimanfaatkan oleh Satya. Jimmy bukannya tak pernah memberitahu, tapi ia sudah bosan dan lelah memberitahu Rei yang masih saja keras kepala hingga saat ini dengan perilaku Satya yang menurutnya tak salah. Biasanya cinta memang membuat buta. Namun, menurutnya yang terjadi pada Rei bukan hanya membuat buta tapi juga hilang kewarasan dan kesadaran. Jimmy menatap sahabatnya itu yang tengah sibuk merapikan ke di lemari pendingin. Seentara ia memilah kue yang tak layak yang sebelumnya juga telah dipilih oleh rekan dapur yang sudah pulang lebih dulu. Pria itu membagi kue untuk Rei dan dirinya untuk dibawa pulang. Jimmy membagi bagian Rei lebih banyak karena biasanya gadi itu akan memberikan pada teman-temannya di rumah hantu. "Gue kasih banyak rasa keju krim nih." Teriak Jimmy. "MAMACIH!" Seru Rei senang karena ia begitu menyukai keju. "Udah belum rapihinnya?" tanya Jimmy. Rei berjalan mendekat dan mengangguk. "udah," jawab Rei riang. Sepertinya perasaannya sedikit lebih baik setelah mendengar akan banyak membawa roti krim keju yang jadi kesukaannya. "Ayo balik, gue anterin," jimmy mengajak Rei pulan menggunakan vespa tua milik mendiang ayahnya. Rei anggukan kepala ia kemudian mengambil tas miliknya dan segera melangkahkan kaki ke luar bersama Jimmy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN