Ide Cheryl

1275 Kata
Cheryl tengah merapikan buku untuk segera berangkat ke sekolah. Setelah semua rapi ia memastikan kembali, siapa tau ada barang bawaannya yang ketinggalan. Setelahnya, gadis itu berjalan ke luar kamar. Melangkahkan kakinya menuju dapur. Kemudian melihat sang papi yang tengah membuat kopi pagi. "Pagi Pi," sapa Cheryl. Yuga menoleh mendapati buah hatinya tepat berada di belakangnya. Yuga kemudian memeluk dan mencium Cheryl. "Pagi sayang." "Siapa sih Pi yang dipanggil mami sama Chelo?" tanya Cheryl penasaran. "Ada karyawan di Edelweis. Papi juga enggak tau awalnya gimana. Tapi, tau-tau Chelo manggil dia mami." Cheryl anggukan kepala. Ia tau sang adik memang sering kali random. "Aku kemarin kepikiran sesuatu Pi. Gimana kalau papi minta dia buat jagain Chelo di rumah. Jadi papi enggak usah bawa Chelo ke sana. Chelo kan anteng kalau udah dekat sama orang. Kalau Cheryl pulang sekolah, orang itu bisa balik ke Edelweis. Lagian jarak rumah kita ke Edelweis enggak jauh kan?" Yuga memikirkan apa yang dikatakan oleh putri sulungnya itu. Tentu saja apa yang dikatakan oleh Cheryl tadi bisa membantunya untuk melakukan pekerjaan dengan lebih nyaman karena si bungsu tak mengganggunya di kantor. Namun, tentu saja Yuga tak yakin apakah Rei akan menurutinya atau tidak. Terlihat dari pertemuan mereka saat di ruangannya Rei cukup keras dengan pendiriannya. "Kalau dia baik papi bisa bilang kalai Chelo sakit kalau kecapekan dan dia enggak bisa lepas dari papi. Dan papi enggak bohong kok kan Chelo emang kayak gitu," kata Cheryl mencoba memberikan saran pada sang ayah. "Iya, bener juga kamu, tapi papi enggak bisa janji. Karena kamu tau kan kita enggak boleh memaksa orang lain." Yuga coba menjelaskan pada Cheryl. "Jujur aku kesian kalau adek harus ikut papi terus ke kantor. Itu kan memang karena dia enggak bisa cocok sama banyak orang. Berapa banyak baby sitter yang papi pecat karena Chelo terus bertingkah. Jarang banget dia bisa dekat sama orang lain. Papi juga capek kan harus jagain Chelo sambil kerja?" Semua yang dikatakan oleh Cheryl adalah benar. Ia dan Chelo sama lelahnya karena harus terus berada di kantor. Yang lebih menyebalkan adalah sekolah si bungsu yang terhambat karena ia yang harus ikut ke kantor terus menerus. "Iya, kamu bener sayang," kata Yuga seraya mengusap lembut kepala Cheryl. "Kalau sama papi enggak mau gimana kalau aku yang ngomong nanti?" Cheryl menawarkan diri. "Oke," sahut Yuga. Cheryl tersenyum kemudian ia berjalan menuju meja makan untuk menunggu sarapan. Cheryl melakukan ini selain karena ingin membantu ayah dan sang adik, juga karena ia penasaran dengan sosok mami yang selalu dikatakan sang adik. tentu saja dalam hal ini ia yang lebih bisa menilai apakah oang itu benar-benar mirip sang mami atau tidak. Karena Cheryl jelas mengenal sang mami dengan lebih baik dibandingkan dnegan sang adik. Pagi ini Rei sudah rapi dan ia memang akan berangkat lebih awal karena harus menyiapkan properti. Setelah merapikan semua ia segera berjalan ke luar. Rumah sudah sepi, Iva sudah berangkat mengajar dan Jeno juga sudah berada di sekolah. Ia berjalan keluar membuka pintu sedikit terkejut karena menemukan Kuki yang kini berdiri di depan pagar. Pria dengan senyum manis itu melambaikan tangan. Dengan tatapan terkejut, Rei berjalan mendekat. "Kinan?" "Selamat pagi," sapa Kuki. "Pagi," sahut Rei kemudian ia membuka pagar dan jalan mendekat. "mau bareng?" tawar Kuki. Tentu saja Rei tak akan bisa menolak ajakan ppia itu. Mana tega ia menolak, setelah Kuki repot-repot melakui perjalanan cukup jauh dari rumahnya. "Tunggu, kenapa kamu bisa ada di sini, Pagi-pagi begini?" "Aku harus ketemu orang tadi." "Pagi-pagi gini?" tanya Rei lagi. Kuki mengangguk, seraya mengusap tengkuknya kikuk. "Masuk yuk," ajak Kuki. Pria itu dengan senagaja datang ke tempat Rei pagi begini tentu saja karena ingin menemu Rei. Hanya saja Rei terlalu naif untuk tak memikirkan itu. Tentu saja dalam pikirannya tak akan ada laki-laki yang mau repot-repot melakukan itu untuk perempuan gendut seperti dirinya. Kuki membukakan pintu mempersilahkan Rei untuk masuk ke dalam mobil. Perasaan pria itu tengah bahagia sekali karena pagi ini bisa bertemu lagi dengan Rei. "Temenin aku dulu ya," ucap Kuki sambil melirik ke arah Rei yang sudah mengenakan sabuk pengaman. Padahal ia ingin memakaikan pada Rei. "Boleh," sahut Rei. Kuki tersenyum lalu segera melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Rei terdiam seraya menatap ke luar jendela. Ia sedikit tak enak badan karena menjelang datang bulan buat seluruh tubuhnya terasa sakit. Mobil Kuki melaju ke suatu tempat, perjalanan hening tak ada yang dibicarakan. Rei tengah terdiam berharap ketika sampai di Edelweis tubuhnya sudah jauh lebih baik. Mobil Kuki melaju ke tempat yang Rei kenal, kantor Satya. Rei menatap Kuki, tentu saja ia cukup terkejut dengan itu. "Kita mau ke mana?" Tanya Rei. Kuki menunjuk kantor yang sangat Rei kenal. Rei melirik ke arah Kuki, cemas. Kuki melirik ke arah kursi penumpang ada sebuah paket di sana. "Aku cuma mau kirim paket. Kamu enggak masalah kan?" Rei melirik mengikuti arah pandang kuki, "oke enggak masalah." Tentu saja Rei gelengkan kepalanya. Tak ada masalah dengan apa yang dilakukan Kuki. Dan seharusnya jika ia bertemu dengan Satya juga tak akan menjadi masalah, toh mereka telah berpisah dan tak ada hal lagi yang bisa dibicarakan. Mobil Kuki terhenti tepat di depan kantor, ia segera turun juga Rei yang menemani. Tak enak jika ia tetap berada di dalam mobil. Kuki mengambil paket miliknya, setelahnya ia berjalan menghampirinya Rei yang menunggunya. Pria itu menggenggam tangan Rei sambil berjalan masuk. Di dalam sudah ada tangan kanannya Ibas yang menunggu. Iba menganggukkan kepala, kemudian berjalan menghampiri Kuki. "Sudah dikirim?" tanya Kuki. "Sudah Pak Kinan," jawab Ibas. Kuki menyerahkan satu paket yang tertinggal. "Penanggung jawab di sini siapa?" "Satya," seru Ibas memanggil Satya. Sementara itu mendengar nama Satya dipanggil buat Rei semakin tak keruan. Kuki tau kalau Rei menjadi cemas, tangannya menggenggam tangan Rei semakin erat. Terasa semakin dingin dan basah, Kuki menoleh ke belakang. Tersenyum pada Rei yang berusaha tetap tersenyum. Pria itu berjalan ke luar, Satya. Terkejut karena melihat Rei di sini. Satya menoleh pada Ibas yang menunjuk Kuki. Satya mengulurkan tangannya, Kuki hanya menatap tanpa menjabat buat Satya jadi kikuk kemudian menarik tangannya lagi. Ia menatap pada Rei yang mengalihkan pandangannya. "Ngapain kamu di sini?" tanya Satya ada Rei. Ia kemudian bergerak menghampiri Rei dengan sebelumnya membungkuk pada Kuki. Satya hendak menarik tangan Rei, tapi Kuki menahannya. "Mau apa kamu?" tanya Kuki kesal. "Maaf Pak, perempuan ini memang sering ganggu saya." Satya membela diri. Kuki mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Rei. "dia yang kamu maksud?" Tentu saja Satya terkejut dan jadi ketar-ketir sendiri karena apa yang ia lihat. Saat itu gadis berambut pendek keluar, dia adalah wanita yang hari itu asik b******u dengan Satya. Sama terkejutnya dengan Satya, ia menunjuk Rei. Rei tak suka dalam situasi ini. Ia mencoba menarik tangan Kuki, hanya saja Kuki menahan tangan Rei. "Kamu kenal sama dia sayang?" Tanya Kuki. Rei tau Kuki berniat membalaskan dendam. Dan ia jadi tau kenapa pria itu menawarkan untuk balas dendam. Ya, karena Kuki memang mempunyai kekuasaan untuk itu. Rei menggelengkan kepalanya. " Enggak, enggak tau juga dia siapa." Jawab Rei. Jawaban Rei buat Satya menatap dengan kesal. Bagaimana bisa Rei tak mengenal dirinya setelah banyak hal yang mereka lalui bersama? Satya menatap Rei yang menatapnya dengan dingin. "Pacar saya enggak kenal kamu. Berani banget kamu narik tangan dia." Kuki menghentikan ucapannya, ia lalu melirik pada Ibas. "Kamu urus ya Bas." "Baik Pak," ucap Ibas. Kuki kemudian mengajak Rei untuk kembali ke dalam mobil. Kuki ingin menunjukkan bahwa Satya telah salah orang untuk bermain-main dengannya. Dan agar Rei juga tau kalau selama ini Satya telah bersama gadis selingkuhannya itu sejak lama. Dan selalu bersama karena mereka satu kantor. "Maaf Satya dan kamu, saya minta surat pengunduran diri serahkan ke manajemen satu kali dua puluh empat jam," kata Ibas kemudian ia berjalan meninggalkan tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN