Malam hari ini Cherry menemani sang adik yang belum terlelap. Seperti biasanya jika sedang tak enak badan Chelo jadi manja dengan kakak perempuannya. Cherry merebahkan diri di samping sang adik sambil membaca buku sekolahnya. Chelo memerhatikan sang kakak yang begitu serius belajar.
"Kak ceritain tentang mami," pinta Chelo.
Cherry memerhatikan sang adik. ia lalu merubah posisinya menjadi rebah tepat di samping adik laki-lakinya.
"Hmm, kan kakak udah sering cerita."
"Tapi Elo mau denger lagi," pintanya manja.
"Mami itu baik banget, mami selalu sayang sama kakak, sama Chelo juga. Waktu Chelo ada di dalam perut mami, mami selalu nyanyi."
"Nyanyiin kak," pinta anak itu.
"I have a dream ...." Cherry menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan sang mami saat sang adik berada di dalam perut.
Chelo memerhatikan sang kakak dengan kagum, matanya berbinar. Meskipun keduanya sering sekali bertengkar, tapi keduanya begitu saling menyayangi.
"Mami selalu bilang Cherry jangan main jauh-jauh nanti kalau Cherry ilang mami sedih lho. Mami juga selalu bilang Jangan menangis sayang kalau Cherry nangis nanti langitnya juga nangis."
Chelo sebenarnya sudah sering kali mendengarkan apa yang dikatakan sang kakak. Hanya saja memang anak itu tak pernah merasa bosan mendengarkan cerita sang kakak.
"Terus apa lagi kak?"
"Mami juga suka begini," ucapan Cherry terhenti ia menggenggam tangan sang adik dan mengecupnya lamat-lamat. "Habis itu mami bilang tangan kakak wangi," jelas Cherry.
Sementara di depan kamar Yuga berdiri, bersandar pada tembok dan ia bisa mendengar dengan jelas celotehan-celotehan yang dikatakan kedua buah hatinya. dalam hatinya ada rasa sedih juga haru melihat kebersamaan kedua buah hatinya. Dalam hati tentu saja ia memimpikan kebersamaan keluarga yang lengkap. Meski itu tak akan mungkin jadi nyata, istrinya tak mungkin lagi bisa bersama. Sementara ia kini menyukai wanita yang jelas tak bisa ia miliki.
Yuga berjalan menuju kamarnya, ia lalu duduk di tempat tidur seraya melepaskan dasi dari kemejanya. Tatapannya menatap pada bingkai foto pernikahannya yang masih terpasang di sana. Pria pucat itu hanya menghela napas merasakan sesak di dalam dadanya.
Ingin melepaskan diri dari sesak dan rindu, ia menghubungi Eri. "Hai," sapa Yuga.
"Hai Ga, udah sampai Edelweis?"
Yuga menggeleng meski wanita itu tak bisa melihat reaksinya. "Aku enggak jadi ke sana. Chelo sakit."
"Sakit lagi?" tanya Eri.
"Hmm, kamu tau kan dia gampang banget demam."
"Iya, terus di mana sekarang? Perlu aku ke sana?"
"Nope. dia cuma butuh istirahat dan lagi istirahat sama Cherry," jawab Yuga.
"Oke, kabarin aku kalau kamu butuh seseorang untuk bantu kamu ya sayang?"'
"Oke, aku akan hubungi kamu lagi kalau aku butuh. Kamu masih di apartemen?" tanya yuga kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Udah mau pulang, bisa bahaya kalau suami aku video call dan aku terima pas lagi di sini. Lagian aku kalau di sini mikirin kamu terus," ujar Eri lalu terkekeh.
"Kita bisa ketemu dan hmm, lebih lama lagi nanti."
"Oke, sampai ketemu. Dan semoga Chelo cepat ketemu," ucap Eri kemudian segera menutup teleponnya.
Yuga segera bangkit untuk mandi dan berganti pakaian. Ia akan menemani Chelo setelah membersihkan diri nanti. Sejak kecil si bungsu memang sering sekali sakit jika terlalu lelah. Dan akan lebih baik setelah beristirahat dan minum vitamin selama dua atau tiga hari.
Setelah membersihkan diri pria itu berjalan keluar hanya dengan menggunakan handuk abu-abu yang terlilit di pinggang seraya mengeringkan rambut dengan tangannya. Pria itu berjalan mencari pakaian yang bisa ia kenakan. Setelah menemukan t-shirt hitam dan juga celana tidur putih iya segera mengenakan dan berjalan ke luar kamar.
Melihat di ruang tengah sudah ada Cherry yang tengah duduk menonton tv seraya makan kudapan yang berada di hadapannya. yuga mendekat lalu mencium pucuk kepala si sulung.
"Gimana Kakak hari ini?" tanya Yuga.
"Enggak ada yang spesial. Papi udah tanya sama Bu Indah apa aku bisa dapat guru les? Aku enggak mau kalau les di luar," cicit Cherry gadis itu berbicara dengan cara yang menggemaskan sehingga buat kedua pipinya menggembung layaknya tupai.
Yuga tersenyum melihat Cherry. "Papi besok ngomong sama Bu Indah lagi. Sekarang Cherry ambil buku sana. Malam ini kakak belajar sama Papi. Nanti papi cek Adik Chelo dulu ya?"
Gadis cantik itu mengangguk senang ia segera berjalan ke kamar untuk mengambil buku pelajaran miliknya. Sementara sang papi kini berjalan menuju kamar sang adik untuk mengecek keadaan Chelo. Yuga berjalan mendekat, lalu duduk di tepian tempat tidur ia memegang kening Chelo yang masih terasa sedikit demam. Yuga kembali bangkit ia mengambil plester demam yang berada di atas lemari pakaian buah hatinya. Kemudian ia kembali duduk di samping Chelo dan memasangkan plester itu ke kening, setelahnya ia mengecup kening Chelo, merapikan selimut si bungsu dan kembali ke ruang tengah untuk menepati janjinya untuk belajar bersama Cherry.
Si cantik berambut panjang hitam lurus itu telah duduk menunggu sang papi. Yuga duduk di karpet bersama si sulung. Cherry segera menunjukan pembahasan yang ia tak bisa kerjakan.
"Yang ini pi," kata si cantik itu seraya mendekatkan buku pada Yuga.
Yuga menerima buku itu dan memerhatikan tugas faktor kelipatan yang berada di buku Cherry.
"Kamu diajarin guru ngerjainnya gimana?" tanya sang ayah.
"Pakai yang akar ke bawah itu Pi," jawab Cherry.
Yuga kemudian mengambil pensil merah muda milik buah hatinya, Cherry menyerahkan buku tulis pada sang papi. Yuga segera menuliskan cara lain dengan tabel seraya menjelaskan semua secara detail kepada putri sulungnya itu.
"Nah yang sama ini masuknya FPB, untuk KPK Cherry kalikan semuanya. Gampang yang mana?"
"yang papi ajarin. Cherry enggak ngerti yang pakai akar itu." sahut anak itu terlihat senang sekali karena telah berhasil mengetahui cara mengerjakan materi yang selama ini sulit untuk ia kerjakan.
"Sebenarnya sama saja, Cherry cari aja yang sama. Di lingkari setiap yang sama dan berhenti kalau udah enggak ada yang sama." Yuga menjelaskan lalu mengacak rambut putrinya itu.
"Papi coba kasih aku soal," kata Cherry sambil menyodorkan buku tulis meminta soal.
Yuga segera menerima buku pemberian Cherry dan segera menuliskan soal untuk buah hatinya yang kini tengah bersemangat itu.
***
Vhi sedang dalam perjalanan pulang bersama Kuki yang kini tengah sibuk dengan kemudian. Musik terdengar di dalam mobil membuat keduanya asik bersenandung dan menggerakkan kepalanya. Vhi teringat sesuatu. Ia kemudian mematikan musik buat Kuki menatapnya.
"BTW, lo tadi kenapa ngeliatin Rei gitu?" tanya Vhi.
Kuki menunjuk dirinya sendiri. "Gue?" tanyanya.
Pertanyaan dari sahabatnya it buat Vhi mengangguk. Tentu saja pikirnya, siapa lagi yang ada di mobil ini selain ia dan Kuki?
"Entah, gue cuma gemes aja," jawab Kuki sambil tersenyum menunjukkan senyum yang manis layaknya kelinci kecil, bahkan membuat sisi-sisi matanya terlihat imut dengan garis-garis sejajar yang membuat ia terlihat tak kalah menggemaskan.
Vhi terkekeh mendengar jawaban Kuki. "Gemes? Jangan salah dia galak banget sebenarnya apalagi sama orang yang baru dikenal. Cuma kalau udah kenal ya enggak gitu,0 dia baik banget. Zodiaknya pisces jadi jangan ragukan kesetiaannya; suka kopi dan anak kecil; dia enggak lulus SMA tapi dia pinter karena rajin belajar mandiri; dia enggak terlalu pinter masak, tapi kalau goreng-goreng bisa lah; suka warna pink; Dia suka sama kpop tapi enggak fanatik suka Kdrama juga; pekerja keras dan juga cengeng meski kelihatan kuat banget dia sering nangis sendirian sampai enggak bisa melek."
Kuki menatap dengan heran ke arah Vhi. "Lo kenapa cerita semua ke gue?"
"Ya, siapa tau lo mau tau," jawab Vhi kemudian menatap Kuki dan tersenyum.
Kuki berdehem, entah mengapa ia malah mencoba menyerap informasi yang diberikan Vhi barusan. Kuki terdiam seolah memutar kembali kata-kata Vhi barusan. Vhi menoleh jika ia bisa membaca reaksi yang diberikan Kuki. Vhi tersenyum sambil menatap ke arah jalan dalam hatinya ia berharap Rei bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dan buka laki-laki yang hanya bisa memanfaatkan untuk kebutuhannya saja.
Mobil itu melaju selama kurang lebih dua puluh menit menuju rumah Vhi. Kuki tak segera turun ia harus segera kembali ke apartemen miliknya.
"Gue langsung balik ya?" tanta Kuki.
"Oke ati-ati," sahut Vhi sambil berjalan ke dalam rumah.
Sementara Kuki melanjutkan perjalanan pulang seraya menyalakan kembali musik yang tadi sempat dimatikan oleh Vhi. Bibirnya ikut menyanyikan lagu dari radio yang diputar.
"Memory follow me left and right .... You take every corner of my mind." Kuki bersenandung seraya mengetukkan jemarinya di kemudi. "Suka kopi, suka anak kecil? Gemasnya." ia bergumam kemudian tersenyum, lalu mengacak rambutnya teringat saat tadi Rei meletakkan bulu matanya di sana.
Radio masih terputar selama perjalanan terdengar suara penyiar radio yang kini berbicara. Malam ini membicarakan tentang zodiak. Ia mendengarkan dengan seksama.
Selain scorpio, ada juga nih zodiak yang peletnya kuat banget yaitu, pisces dan gemini.
Mendengar kata pisces buat Kuki kembali tersenyum. "Pisces memang enggak ada lawan sih."
Mobil kemudian memasuki kawasan apartemen miliknya. Setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan masuk ke dalam. Meski di sini ada rumah utama Kuki memilih menghindari tinggal di rumah utama. ia sadar diri akan statusnya yang hanya sebagai anak angkat. Kedua orang tua Kuki kesulitan memiliki buah hati hingga mengangkatnya sebagai anak angkat sampai empat tahun kemudian mereka melahirkan seorang anak perempuan.
Pria itu segera menuju dapur dan meneguk air mineral. Ia masih menyanyikan lagu yang tadi ia dengar di dalam mobil rasanya saat ini begitu related dengan lirik lagu itu. Kalau ia bisa merasakan Rei di setiap sisi saat ini. Padahal ia tak banyak berinteraksi, tapi mengapa itu begitu berkesan?
"Ah, ikan." gumamnya lalu menatap ikan koi miliknya yang berada di atas meja dekat dengan ruang tengah. "Hei Rei," sapanya pada ikan koi berwarna putih merah miliknya yang memang gemuk dan menggemaskan.