Sepasang mata menilik tiap sudut ruangan tempat ia duduk. Menatap beberapa piala dan piagam penghargaan yang telah di peroleh sekolah ini, lalu tatapannya menemukan sebuah bingkai berukuran sedang di atas meja dengan foto yang menunjukan keluarga kecil dan anak gadis di tengah-tengah mereka tersenyum bahagia kearah kamera. “Selamat siang, pak. Maaf membuat anda menunggu.” Sapa seroang pria paruh baya yang baru saja masuk keruangan dan langsung duduk menatap pria tadi dengan raut cemas. Hendra menoleh, mengalihkan perhatiannya kepada pak Bayu selaku kepala sekolah SMA harapan bangsa di mana tempat anaknya mengenyam pendidikan dan juga mendapat perlakuan tak pantas. Dengan tatapan yang terlihat santai namun terkesan tegas dan tajam, tatapan yang selalu di takuti oleh pegawainya di kantor,

