Ellen memperhatikan pria di depannya yang sedang bicara dengan ponselnya. Sepertinya pria itu benar-benar tidak mengenalinya.
“Terima kasih,” kata Alex sambil mengembalikan ponsel milik Ellen.
“Apa adikmu baik-baik saja?” tanya Ellen saat melihat wajah muram Alex.
“Semoga dia baik-baik saja. Eh, apa ponsel itu bisa dilacak manusia?” tanya Alex.
“Ponsel ini?” tanya Ellen sambil menunjuk ponselnya.
“Iya. Adikku bilang nanti akan ada yang menjemputku berdasarkan posisi ponsel itu,” kata Alex menjelaskan. Masalahnya, tadi Ellen bilang kalau ponselnya hanya bisa untuk menghubungi, tapi tidak bisa dihubungi. Nah, jaringannya dunia manusianya ada atau tidak?
Ellen saling melirik dengan si genderuwo, sebenarnya sekarang tempat ini belum boleh diketahui oleh orang luar.
“Suamiku,” panggil Ellen manis dan Alex menoleh sambil begidik.
“Hihihihi! Suamiku, cing! Aku sudah punya suami,” kata Ellen lagi sambil menyikut si genderuwo yang juga ikut tertawa karena geli akan panggilan Ellen pada tamu mereka.
“Aku sudah kayak Pai Su Cen loh. Hihihihi!” Ellen yang masih merasa geli dengan panggilannya sendiri masih terus tertawa.
“Sudah mirip, koq. Kan, Pai Su Cen juga bajunya putih mulu,” jawab genderuwo menimpali dan mereka berdua tertawa lagi. Hanya Alex yang menatap mereka dengan stres.
“Begini, suamiku. Hihihihi. Tempat kami ini terlarang untuk manusia hidup, tepatnya yang masih mau hidup. Hihihihi.” Ellen mulai bicara walau masih sambil terkikik.
“Maksudnya?” tanya Alex kembali merasa horor, bukankah sekarang dia ada disini?
“Jadi. Temanmu itu tidak boleh datang kesini,” jawab Ellen.
“Kalau tidak dijemput, bagaimana aku bisa keluar dari sini?” tanya Alex lagi.
“Ada motor,” jawab si genderuwo.
“Motor?” Alex semakin pusing. Mengapa makhluk-makhluk ini masih menggunakan peralatan manusia. Bukannya mereka bisa terbang dan berpindah tempat semaunya?
“Iya. Kau bisa menggunakan motor untuk turun dari gunung ini. Lalu taruh saja motornya di warung nasi ‘Janda Kekinian’ yang dekat pos ronda,” kata si Genderuwo menjelaskan.
“Katamu tadi tidak boleh ada manusia kesini?” tanya Alex bingung. Kalau dia taruh disana, berarti akan ada yang mengembalikan, bukan?
“Si janda kekinian itu pesugihan pada kami. Dia akan datang setiap kali kami menaruh motor disana, itu artinya kami meminta sesajen diluar waktu wajibnya.” si Genderuwo kembali menjelaskan.
“Lalu bagaimana aku bisa sampai di warung itu?” tanya Alex setelah mengerti penjelasan si Genderuwo.
“Pakai aplikasi peta di ponselku saja,” jawab Ellen.
“Ada aplikasi peta disana?” tanya Alex terbelalak.
“Eh, walau tuh ponsel jaman aku masih hidup, tetap sudah ada aplikasi itu!” omel Ellen tidak terima.
“Jadi, ponselnya nanti kutinggal di warung juga bersama motornya?” tanya Alex yang akhirnya iya iya saja dengan semua keanehan ini. Yang penting dia bisa segera bertemu Lisa dan memastikan adiknya itu baik-baik saja.
“Ponselnya kau bawa saja agar kau selalu ingat denganku dan perjanjian kita. Hihihihi!” kata Ellen genit.
“Bukannya dengan ponsel ini, kau bisa menghubungiku nanti,” tanya Alex bingung.
“Kau mau kuhubungi?” tanya Ellen tidak kalah bingung.
“Eh?” Alex semakin bingung. Benar juga? Untuk apa dia minta Ellen menghubunginya. Namun dia tidak bisa menarik kata-katanya karena sekarang Ellen sudah memegang kertas perjanjian dan penanya yang tadi dia berikan ke si Genderuwo.
“Berapa nomor ponselmu? Hihihihi!” tanya Ellen senang dan, antara terpaksa dan tidak, Alex menyebutkan deretan angka nomor ponselnya. Dia sebenarnya masih heran, mengapa juga tadi dia meminta dihubungi Ellen? Mungkin otaknya sudah bergerser karena terlalu bingung dengan semua yang tiba-tiba terjadi padaya dalam waktu beberapa jam ini.
“Wih, nomor cantik. Ini mah gak perlu dicatat juga langsung hafal!” seru Ellen senang saat membaca nomor ponsel Alex.
Setelahnya, Genderuwo itu pergi untuk mengambil motor dan Ellen membuka aplikasi peta untuk menandai warung nasi yang dia maksud agar Alex bisa tiba di warung itu tanpa nyasar.
Setelah mengirimkan titik lokasi ‘Janda Kekinian’ pada Lisa dan meminta orang suruhan adiknya menjemput disana, Alex mulai menaiki motor jadul dua tak yang dibawakan si Genderuwo. Untung dia dan Lisa suka balap liar, jadi mereka bisa mengendarai motor dan mobil berbagai model.
“Terima kasih banyak atas bantuan kalian,” kata Alex tulus. Apapun keajaiban yang sedang melandanya sekarang, kedua makhluk di depannya ini telah menyelamatkan dirinya dari dikubur hidup-hidup dan membuatnya bisa menghubungi Lisa.
“Kalian bisa menelponku jika membutuhkan bantuan di dunia manusia. Aku akan membantu sebisaku,” kata Alex menawarkan. Dia tidak akan melupakan budi orang lain, untuk kasus kali ini, budi makhluk lain.
“Kau serius?” tanya Ellen penasaran.
“Tentu saja. Apalagi membantu istriku,” jawab Alex sambil tersenyum manis yang membuat wajah pucat Ellen kembali merona.
“Aku kembali dulu saja,” kata si Genderuwo sambil berbalik dan berjalan menjauhi calon suami istri itu, dia tiba-tiba merasa menjadi nyamuk. Dalam hitungan detik, wujudnya sudah hilang ditelan kegelapan. Sedangkan Ellen, jantungnya yang harusnya sudah tidak berdetak, sekarang rasanya sedang menggedor rongga dadanya.
“Baiklah, Ellen. Sekarang aku pergi dulu. Sampai bertemu lagi setelah aku mati,” kata Alex pamit. Dia lalu menyalakan mesin motornya, namun lengan kemejanya ditarik Ellen saat dia mau menjalankan motor itu, yang membuatnya berhenti dan kembali menoleh pada Ellen.
Cup
Ciuman dari bibir dingin itu di pipinya membuat Alex terpaku.
"Aku akan menunggumu," kata Ellen malu-malu dan langsung berbalik, dengan cepat wujudnya menghilang di kegelapan malam, menyisahkan Alex yang tersenyum bodoh, lalu menggelengkan kepalanya dan melajukan motor pinjamannya itu.
Setelah tiba di depan warung ‘Janda Kekinian’, suasana disana sudah sepi. Mungkin karena ini di daerah perkampungan, jam delapan malam saja sudah sepi dan toko-toko sudah pada tutup, termasuk si warung yang menjadi tujuannya.
Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil Land Cruiser yang berhenti di depannya. Pria yang duduk di kursi penumpang depan keluar dan membukakan pintu untuknya.
“Silakan, Pak Alex,” kata pria yang berpakaian kemeja dan celana panjang hitam itu.
“Siapa kau?” tanya Alex curiga.
“Saya pengawal Tuan Darius,” jawab pria itu sopan sambil menunjukkan bukti kalau dia adalah pengawal khusus Volle Guard.
“Bisa pinjam ponselmu sebentar?” tanya Alex dan pria itu langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka sandi ponselnya, lalu mengulurkan ponselnya pada Alex tanpa bertanya.
“Terima kasih,” kata Alex. Dia mengirim salinan foto wajah cantik Ellen yang ada di layar ponsel Ellen, lalu mencatat nomor ponsel itu. Setelahnya diam meletakkan ponsel itu di atas motor yang tadi dia gunakan.
Alex naik ke Land Cruiser itu dan kemudian mobil langsung melaju, meninggalkan kepulan debu di belakangnya. Setelah mobil melaju cukup jauh, seorang wanita yang memakai daster putih dan berambut hitam legam panjang,membuka pintu warung dan berjalan mendekat pada motor yang tadi digunakan Alex.
Dia melirik ke arah mobil yang sudah hilang dari pandangan itu sebelum mengambil ponsel yang ada di atas dudukan motor itu. Wanita itu tersenyum miring dan membawa masuk ponsel Ellen ke dalam rumah.
****