KENANGAN MASA LALU

1314 Kata
“Tapi, saya tidak mencurinya, saya juga nggak tahu kenapa barang itu bisa ada di dalam tas saya. Anda bisa cek CCTV untuk membuktikan kalau saya nggak salah.” Yura membela diri dengan panik, dia sendiri bingung kenapa jam tangan itu ada dalam tasnya. Yura melihat Malik, pria itu memandangnya dengan tatapan jijik, merasa beruntung membatalkan pernikahannya dengan Yura. “Baik, mari ikut saya.” Yura, Malik dan pria asing itu berjalan mengekori sekuriti menuju ke kasir tempat monitor CCTV. Setelah memeriksa rekaman CCTV, Yura tidak dapat membuktikan jika dirinya tidak bersalah karena rekaman tertutupi rak. Pria tersebut juga mengenakan jas yang panjang lengannya melebihi pergelangan tangan, jadi tidak terlihat dia menggunakan jam tangan atau tidak. Yura juga sangat malu menjadi pusat perhatian dan tontonan para pengunjung supermarket. Beberapa dari pengunjung juga merekam kejadian itu dengan ponselnya. “Tapi, saya nggak mencurinya, Pak. Bapak ini yang menubruk saya.” Yura gemetar ketakutan, ketegangan menyelimuti hatinya dan membuatnya kalut takut akan dijebloskan ke dalam penjara. “Kok, kamu jadi menuduh saya. Jelas-jelas kamu yang nyolong jam tangan saya, bawa saja ke kantor polisi biar dia jera nggak nyolong lagi.” Pria itu berkelit. Semua ini dia lakukan atas perintah Adrian yang menyuruhnya untuk membuntuti Yura, kemudian memfitnahnya. “Jangan, Pak. Tolong, saya tidak bersalah.” Yura melambaikan tangan, tanda dia menyangkal dari semua tuduhan. “Kalau butuh duit itu kerja, jangan mencuri.” “Iya, lebih baik jadi pengemis daripada mencuri, kalau gini 'kan jadi merugikan orang lain.” “Orang jaman sekarang malas bekerja, tapi pengen kaya. Kamu tuh, masih muda. Apa nggak malu nyolong.” "Iya, apa nggak malu sama umur. Orang yang tua renta saja masih kerja, nggak nyolong kayak kamu." “Udah bawa saja ke kantor polisi, orang-orang kayak gini harus diberi pelajaran biar nggak mengulangi kejahatannya. Biar jadi pelajaran buat semua orang.” Yura diam membisu mengatur deru napasnya yang tidak beraturan, setiap cacian yang keluar dari mulut orang-orang terasa sangat menyayat hatinya. Tak satu pun dari mereka mau mempercayai perkataannya, begitu pun Malik yang melipir pergi karena malu dan takut dianggap bersekongkol dengan Yura. Yura mengepalkan tangan, air mata yang sejak tadi ia tahan kini terjun bebas membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak hingga rasanya sulit untuk bernapas. Entah dosa apa yang pernah dia lakukan hingga takdir buruk selalu menimpanya. “Saya nggak salah, saya difitnah, kenapa kalian nggak percaya,” ujar Yura dengan suara bergetar, dadanya terasa sesak bagai dihimpit tembok, lagi-lagi ia dipermalukan di muka umum. *** Sebuah mobil terjun bebas ke dalam laut setelah menabrak pembatas jalan jembatan, seorang gadis yang mengendarai sepeda ontel dengan seragam SMU tanpa pikir panjang menceburkan diri ke dalam laut untuk menyelamatkan pengemudi yang ada di dalamnya. Dari jendela mobil, gadis itu melihat sang pengemudi sudah tidak sadarkan diri, yaitu Adrian. Air laut sudah memasuki mobil karena jendelanya terbuka, mobil pun semakin tenggelam ke dasar. Gadis itu bergegas membuka pintu mobil, lalu melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuh Adrian. Gadis itu mengeluarkan mengeluarkan Adrian dari dalam mobil, susah payah menahan napas di dalam air sambil berenang membawa tubuh berat Adrian ke atas permukaan laut. “Haaahgg,” Gadis itu bernapas lega setelah menghirup udara segar, ia pun berenang ke tepi laut sambil menyeret Adrian yang masih tidak sadarkan diri. Gadis itu membawa Adrian ke atas bebatuan, kemudian menekan-nekan d**a Adrian berusaha mengeluarkan air yang memenuhi paru-parunya. “Kak, bangun, Kak.” Ujar sambil menepuk-nepuk pipi Adrian. “Dia masih hidup nggak ‘sih?” Gadis itu meletakkan telinganya ke d**a Adrian, untuk memeriksa detak jantungnya. “Syukurlah, dia masih hidup.” Beberapa saat kemudian, air menyembur dari mulut Adrian sambil terbatuk-batuk. Ia pun membuka mata, dengan pandangan yang kabur, tidak dapat melihat wajah gadis yang sudah menyelamatkan nyawanya dengan jelas. Namun, Adrian dapat melihat liontin yang menggantung di leher gadis itu dan juga darah yang mengalir dari lengan gadis itu karena tergores pecahan kaca jendela saat membuka kunci pintu mobil dari luar. “Syukurlah kamu sudah bangun, aku akan mencari bantuan, kamu tunggu di sini.” Adrian mengangguk, melihat gadis itu sudah berlari semakin menjauh dengan pandangan yang samar. “Sonya.” Adrian berteriak kemudian terbangun dari mimpinya. Hembusan napasnya memburu mengingat kejadian di masa lalu yang terbawa ke dalam mimpinya, saat Sonya menyelamatkan dirinya yang tenggelam di laut. Peluh mengalir membasahi wajah Adrian, air mata patah hati pun menetes dari matanya. Hatinya masih sakit setiap mengingat Sonya, padahal Adrian sudah mencurahkan seluruh hatinya untuk Sonya. Namun, dengan tega Sonya meninggalkannya, menghancurkan hatinya, sampai saat ini hatinya masih sakit kehilangan cintanya karena Yura. Apalagi pergerakan dan kebebasannya sudah hilang karena kakinya lumpuh, sebagai seorang pria dia sudah tidak berguna. Selama ini Adrian selalu memberikan apa pun yang Sonya inginkan, tapi semua itu tidak berguna jika dirinya cacat. “AAARRGGGGGHHH.” Adrian berteriak kemudian mengacak-acak barang-barang yang ada di atas laci, lalu melempar bantal dan guling ke sembarang tempat. Ia mengambil jam beker, lalu melemparnya ke arah foto yang terpajang di dinding hingga jatuh dan pecah berserakan di lantai. PRAAANK Jeni masuk ke dalam kamar Adrian karena mendengar suara keributan, ia terkejut melihat kamar putranya yang berantakan dan keadaan Adrian yang sangat menyedihkan. “Adrian, kamu kenapa, Nak.” Jeni kemudian berhambur memeluk Adrian dengan erat, ia dapat merasakan betapa putranya sangat terpuruk. “Aku sudah tidak berguna, Ma,” ujar Adrian lirih dengan tatapan mata yang kosong seperti tidak ada harapan untuk hidup. Ia masih belum bisa menerima keadaannya, masih tidak rela menjadi pria cacat. “Tidak, Nak. Kamu tetap istimewa bagiku. Kamu masih Adrian yang sama.” Jeni mengusap lembut punggung Adrian, agar pria itu bisa lebih tenang. *** Yura menangis sambil memeluk lututnya sendiri di balik jeruji besi penjara, rasanya ini tidak adil, Yura dihukum atas perbuatan yang tidak dia perbuat, wajahnya banjir dengan air mata, takut mendekam lama di penjara, sesekali Yura mengusap ingusnya dengan ujung lengan baju pendeknya. “Namaku Imelda, namamu siapa?” tanya seorang penghuni penjara yang masuk sel tahanan sebelum Yura. “Yura.” Imelda duduk di sebelah Yura, menyandarkan kepalanya di dinding penjara. “Kejahatan apa yang kamu perbuat sampai bisa masuk sini?” “A-aku nggak salah, aku difitnah mencuri,” jawab Yura sesenggukan. “Kita senasib, ya. Aku juga nggak salah, tapi di penjara." "Kok, bisa?" tanya Yura dengan kening berkerut, penasaran. "Aku masuk penjara karena mengejar maling yang merampas tasku, saat kukejar, malingnya nambrak terus mati dan aku jadi tersangka.” “Kok, bisa? Itu ‘kan nggak adil,” tanya Yura dengan heran, ia sampai menoleh menatap iba wanita di sampingnya. Ia semakin gemas dengan keadilan di dunia ini yang tidak berpihak pada kebenaran. “Katanya, maling itu ditangkap, bukan dikejar hingga tewas.” “Nggak masuk akal, di mana logikanya? Itu nggak adil.” Yura turut merasa prihatin mendengar kisah teman satu selnya. "Apa yang kamu alami juga nggak adil 'kan." "Iya, sih." Yura kembali mengusap ingus di hidungnya, lalu mengusap pipinya yang basah. Ia bertekad harus tegar seperti orang di sebelahnya, ia tidak boleh cengen dan harus mencari jalan keluar untuk bebas. “Itu bekas luka apa?” tanya Imelda saat melihat bekas luka yang cukup besar di lengan Yura yang tengah membersihkan ingusnya. “Kena kaca mobil saat menolong orang yang tenggelam di laut.” “Kamu nyebur ke laut gitu?” “Iya.” “Enak, ya, bisa renang.” “Aku selalu juara 1 tiap ikut lomba antar sekolah dulu.” Yura merasa sedikit lega mendapat teman mengobrol di penjara. “Wah, hebat. Cewek apa cowok yang tenggelam?” “Cowok." "Ganteng?" tanya Imelda. Dia gadis centil, ceria, usianya masih terbilang muda, seorang Mahasiswa berusia 21 tahun. "Nggak tahu, udah lupa, kejadiannya udah lama, waktu aku masih duduk di bangku SMU. Dulu 'tuh aku berangkat sekolah pakai sepeda ontel, terus ada mobil ngembut melewatiku, mobilnya nambrak pembatas jembatan terus nyebur laut. Aku mengayuh sepedaku lebih kenceng, terus lompat ke laut buat menolong orang itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN