“Di tahan di mana Yura?”
“Di Kapolsek xxx,”
Andreas mengambil hp di atas meja kerja, dan bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya. Sesampainya di parkiran, ia menarik diri masuk ke dalam mobil sambil membanting pintu dengan kasar.
Andreas mulai melaju melewati jalanan beraspal dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan keselamatan dirinya, ia hanya ingin melihat Yura cepat bebas.
Tangannya memegang kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Geram dengan kelakuan saudara kembarnya yang licik, teganya dia memfitnah istrinya sendiri hingga masuk penjara. Ini sangat keterlaluan. Andreas tahu Adrian marah, kecewa dan terluka, tapi tidak sepatutnya ia berbuat kejahatan.
***
“Yura!” Seorang sipir penjara memanggil Yura sambil membuka pintu jeruji besi.
“Saya, Pak.” Yura berdiri dengan bingung saat namanya dipanggil, ia menatap Imelda dengan tatapan bertanya-tanya. Jelas ia takut akan dipindahkan dan dikumpulkan dengan penjahat kejam yang mungkin akan menyiksanya.
“Kau bebas sekarang.”
“Syukur’lah.” Yura tersenyum lebar, hatinya terasa lega seolah semua beban yang ada di pundak Yura lenyap begitu saja. Yura sangat senang setelah menunggu cukup lama akhirnya ia bisa menghirup udara bebas.
“Terimakasih banyak, Pak.”
“Ayo, cepat keluar.”
“Imelda, aku akan pergi, semoga kamu juga bisa cepat bebas. Semoga Tuhan selalu melindungimu.” Yura menyempatkan diri memeluk Imelda, sedih tidak bisa membawa Imelda pergi bersamanya.
"Aamiin, semoga kita masih bisa bertemu."
Yura sudah menganggap Imelda seperti saudaranya sendiri, wanita baik itu selalu menenangkan Yura di saat Yura bersedih. Imelda juga selalu membagikan makanan yang dikirim keluarganya pada Yura.
“Ayo, cepat keluar. Suamimu sudah menunggu.”
“Pak Adrian yang membebaskan saya.” Yura tidak menyangka, suaminya yang acuh ternyata masih peduli padanya.
Begitu Yura keluar dari ruang tahanan, ia melihat Andreas yang duduk berdampingan dengan pengacaranya. Yura menghampiri Andreas yang ia pikir adalah Adrian, suaminya. Ia menunduk, memandangi Andreas yang duduk di sampingnya.
“Terimakasih sudah bersedia membebaskan saya, Pak!” Yura tersenyum dengan tulus pada Andreas.
“Berterimakasih ‘lah pada Andrian. Dia yang menyuruhku untuk membebaskanmu.” Andreas berbohong karena tidak ingin Yura membenci Adrian, apalagi sampai mengetahui jika yang menjebak Yura adalah suaminya sendiri.
“Oh, iya.” Yura langsung salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia baru sadar jika pria di sisinya tidak duduk di kursi roda. “Nanti aku juga akan berterimakasih pada Pak Adrian.”
“Duduk ‘lah di sini.” Polisi menunjuk kursi di depannya, mempersilahkan Yura untuk duduk menghadapnya.
Setelah Yura duduk, polisi menyerahkan dokumen pada Yura. “Tanda tangan di sini, setelah itu anda bisa bebas.”
Usai menandatangani Dokumen Berita Acara Pengeluaran Tahanan Yura, Andreas dan pengacaranya keluar dari kantor polisi. Di halaman Kapolres, Andreas membukakan pintu mobil untuk Yura, kemudian mengitari mobil, lalu duduk di balik kemudi bersebelahan dengan Yura. Sementara sang pengacara pergi dengan mobil pribadinya.
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil terasa hening, Yura melirik Andreas yang sedari tadi diam membisu, hanya fokus mengemudikan mobil. Situasi ini membuat Yura merasa canggung.
Yura sangat malu, takut jika Andreas merasa direpotkan oleh dirinya. Entah apa yang Andreas pikirkan tentang dirinya, apakah pria itu membencinya karena menganggapnya seorang pencuri.
“Kamu suka makan apa?” tanya Andreas tiba-tiba.
“Kepiting asam manis,” jawab Yura spontan, ia sedikit terkejut karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Andreas hanya mengangguk. “Maaf, karena aku selalu merepotkan dan membawa masalah.” Yura menundukkan kepala sambil meremas jemarinya sendiri.
“Aku yang harus meminta maaf, karena tidak segera membebaskanmu.” Andreas merasa kasihan dengan gadis di sampingnya, nasibnya terlalu malang.
“Tapi, sumpah aku tidak mencuri.”
“Aku tahu.”
“Maksudmu apa?” tanya Yura dengan kening berkerut penasaran.
“Aku percaya kamu bukan pencurinya.”
“Oh, kupikir kamu tahu orang yang menjebakku.” Yura berpikir jika orang asing yang menabraknya 'lah pelaku yang menjebaknya.
“Lain kali kalau kamu dalam masalah, segera hubungi aku. Tidak perlu sungkan.” Andreas mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin terus menerus membohongi Yura untuk menutupi kebusukan saudaranya.
Yura merasa bingung ketika Andreas tiba-tiba memasukkan mobilnya ke basemen Mall. “Kita mau ke mana?” tanya Yura.
“Aku lapar, kita makan dulu.” Setelah memarkirkan mobilnya berjejer rapi dengan mobil lainnya, Andreas keluar dari mobil, kemudian kembali membukakan pintu mobil untuk Yura.
“Terimakasih.”
Andreas dan Yura memasuki Mall, mereka berjalan beriringan dalam kebisuan. Yura mendongak, melihat wajah tampan Andreas dari samping. Hidung pria itu sangat runcing, tubuhnya sangat tinggi. Yura saja hanya setinggi dadanya.
“Kenapa?” tanya Andreas seraya menuduk, sadar jika Yura memperhatikan dirinya.
“Kamu sangat tinggi, atau aku yang terlalu pendek.” jawab Yura yang langsung menundukkan kepalanya, malu membalas tatapan Andreas.
“Cuma 188 cm.”
“Bukan aku yang terlalu pendek, tapi kamu yang terlalu tinggi.” Yura mencebikkan bibir.
Andreas tersenyum, ternyata Yura bisa seasyik ini padahal baru saja keluar dari masalah. Ia tahu Yura masih galau atas peristiwa yang sudah menimpanya, tapi gadis ini masih bisa menyembunyikan luka di hatinya.
“Tinggimu sama seperti Liu Te,” sambung Yura. Ia merasa jika Andreas terlalu merendah, padahal sangat sempurna sebagai manusia.
“Siapa itu Liu Te?”
“Artis cina.” Yura mencoba terlihat biasa saja, karena tidak suka terlihat lemah di hadapan orang lain. Yang terpenting sekarang dirinya sudah bebas.
"Mau nonton film di bioskop?" Andreas menawarkan.
"Nggak." Yura menggeleng, ia hanya ingin cepat pulang dan beristirahat.
Andreas menaikkan kakinya ke atas eskalator, sedangkan Yura malah terpeleset saat kakinya berpijak di atas eskalator. Andreas reflek menarik Yura yang hampir terjerembab, hingga jatuh ke dalam pelukannya, keadaan mereka membuat suasana menjadi canggung.
“Maaf.” Andreas segera melepaskan Yura, setelah wanita itu berdiri dengan benar. Yura hanya mengangguk malu, sadar jika hal barusan sangat tidak pantas.
Keduanya kembali membisu hingga tiba di restauran seafood. Andreas langsung memesan Kepiting Asam Manis, makanan kesukaan Yura dan beberapa menu yang lainnya. Sementara Andreas hanya memesan kentang kerispi.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan menyajikan begitu banyak menu makanan di atas meja. Semua makanan terlihat sangat lezat, membuat air liur Yura mengucur dalam kerongkongan, apalagi dirinya sangat lapar. Makanan di penjara sangat sedikit, terlebih siang ini Yura belum makan.
“Kenapa memesan makanan sebanyak ini, sedangkan kita cuma berdua?” tanya Yura yang merasa sayang jika harus membuang-buang makanan, karena sejak kecil Yura terbiasa berhemat.
“Hari ini ulang tahunku, jadi aku mentraktirmu. Makan saja apa yang kamu suka, aku akan sangat senang kalau kamu bersedia makan denganku.” Andreas tidak ingin Yura merasa canggung dan tak enak hati makan merasa dirinya.
“Oh, maaf ya, aku tidak punya kado untukmu,” jawab Yura dengan polosnya.
“Kapan-kapan saja. Ayo, makan!”
Yura mulai memakan makanan di hadapannya sedikit demi sedikit karena malu jika makan dengan lahap di hadapan Andreas yang sedari tadi hanya makan kentang krispi di cocol dengan saos. Memakan Kepiting malah akan membuat Yura belepotan. Yura tidak ingin terlihat rakus.
“Aku pergi dulu sebentar karena ada urusan, selesaikan saja makanmu, nanti aku akan kembali lagi.” Andreas menyadari jika Yura merasa canggung makan bersamanya, untuk itu ia memutuskan untuk pergi sejenak agar Yura bisa leluasa menikmati makanan favoritnya.
"Iya."
Andreas beranjak dari tempat duduknya, Yura memandangi Andreas hingga hilang dibalik pintu keluar restauran, barulah Yura bisa makan dengan sesuka hatinya. Rasanya sangat lezat, sudah lama Yura tidak makan makanan seenak ini.
Andreas mengintip Yura dari balik cermin transparan restauran seafood, ia tersenyum senang melihat Yura makan dengan lahap setelah tidak ada dirinya.
Yang tadinya makan sesuap dengan porsi kecil, sekarang makan dengan porsi besar. Beberapa kali Yura menyesap capit dan cangkang kepiting yang terasa memanjakan lidahnya hingga pipinya belepotan.
Setelah makan di restauran, Andreas membawa Yura ke toko baju. Ia ingin memanjakan Yura agar kesedihan gadis ini bisa berkurang, Andreas mengasihani nasib malang gadis ini dan ingin melindunginya.
Yura melihat bandrol yang tercantum di baju toko, semuanya mahal karena Andreas membawanya ke toko pakaian import. “Pak, ini terlalu mahal.”
“Pilih semua baju yang kamu suka, toko ini sedang diskon 50%.” Andreas lagi-lagi berbohong agar Yura tidak merasa sungkan padanya.
“Meski diskon 50%, tapi harganya masih jutaan.”
Andreas melipat tangannya di d**a, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. “Yura, aku tidak sedang menanyakan harganya padamu, aku menyuruhmu memilih baju yang kamu suka,” jelas Andreas dengan tegas.
Yura tak lagi berani menyanggah perkataan Adrian, ia mulai memilih baju yang terlihat sederhana mencari harga yang paling murah, sedangkan Andreas mengamati apa pun yang Yura lakukan sambil menerawang isi kepala gadis itu.
Setelah cukup lama memilih, Yura menunjukkan baju termurah pada Andreas. “Aku pilih yang ini saja."
Andreas menyerahkan baju di tangan Yura pada SPG yang sedari tadi membuntuti Yura. “Aku beli baju yang ini dan semua baju yang dia sentuh,” ujar Andreas sembari menunjuk Yura
Ini berlebihan, sontak saja Yura terbelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kenapa Andreas sangat baik padanya, jauh dibandingkan Adrian.
“Semuanya, Pak?” tanya SPG untuk memastikan agar dirinya tidak keliru.
“Iya.” Andreas mengangguk.
“Baik, Pak. Tunggu di kasir sebentar, ya!” SPG wanita itu sangat senang, karena ia akan mendapat banyak komisi di penjualan hari ini.
***
Andreas melempar arloji tepat di pangkuan Adrian yang asyik membaca sebuah buku di ranjang kamarnya, sementara Adrian merasa heran kenapa arloji itu bisa ada pada saudaranya.
“Kalau kau tidak menyukainya, dan muak hidup dengannya. Ceraikan dia, biar aku yang menjaganya.”