"Jika agama menjadi masalahnya, kita tidak bisa apa-apa."
*****
Setiap orang mempunyai satu kepercayaan yang tidak akan mampu untuk meninggalkannya. Kepercayaan itu adalah agama yang dimilikinya. Seseorang bisa saja lupa akan dunia, tapi ia akan mengingat Tuhan saat membutuhkannya. Seperti yang dilakukan Katrina saat ini. Hari minggu, ia beribadah di gereja. Sesuai perkataannya sebelum meninggalkan rumahnya, Katrina akan menemui mamanya di gereja setiap ibadah. Itu artinya, mau tidak mau ia akan bertemu keluarga besarnya. Sanggupkah ia menghadapi semua itu? Dulu saat keluarga besarnya berkumpul, ada Aldi yang menguatkannya, tapi sekarang? Ia merasa sendiri. Bukan berarti Katrina ingin ditemani Aldi, ia hanya membutuhkan teman sehingga tidak merasa sendiri lagi.
Karena meninggalkan semua fasilitas keluarganua kecuali apartemen, Katrina naik ojek online ke gereja. Ia tidak mau membuang uang banyak untuk naik taksi. Entahlah, sejak tinggal di apartemen, ia sudah memangkas gaya hedonnya. Katrina baru sadar kalau mencari uang tidak semudah yang ia bayangkan. Menjadi putri dari pemilik rumah sakit ternama di Jakarta membuatnya tidak pernah berpikir sampai sana. Tapi sekarang, ia akan beepikir dua kali untuk membelanjakan sesuatu.
Ia tidak bisa meminta menemani ketiga sahabatnya karena Katrina merasa ia akan membuat mereka tidak nyaman. Ini gereja, tempatnya ibadah, ia tidak bisa mengajak mereka dan menyuruh mereka masuk tanpa melakukan apa-apa di dalam. Akan lebih baik jika mereka tetap di rumah.
Turun dari motor yang ditumpanginya, Katrina langsung masuk ke halaman gereja. Sudah banyak mobil yang ia tau itu milik keluarganya berjajar di luar hampir memenuhi pelataran gereja. Ia memantapkan langkahnya dan berusaha tidak memedulikan tatapan orang di halaman gereja yang terkejut karena ia memakai motor bukan bersama keluarganya.
Di pintu masuk, ia disambut dua orang yang membagikan permen untuk jamaah gereja. Ketika melangkah ke dalam, semua kursi hampir penuh, kecuali di barisan depan tempat keluarganya. Haruskah ia benar-benar ke sana? Katrina hanya ingin menemui mamanya karena ia hanya satu-satunya orang yang mempercayai Katrina.
Dengan perlahan, Katrina melangkahkan kakinya ke barisan paling depan. Raut terkejut tertera sekali di wajah keluarganya. Seperti melihat orang mati hidup kembali. Yah, mungkin mereka menganggap Katrina telah tiada. Hanya mamanya yang tampak senang dan antusias karena Katrina benar-benar datang sesuai janjinya.
"Sayang, Mama kira kamu nggak datang." Mamanya memeluk dan menumpahkan rasa rindunya. Baru seminggu tapi rasanya sudah lama sekali Katrina tidak bertemu mamanya.
"Katrina kangen sama Mama."
"Kalau begitu, kembalilah ke rumah. Kamu bisa ketemu mama setiap hari sayang."
Katrina menggeleng masih dalam pelukan mamanya. "Cuma Mama yang mau menerima Katrina. Tidak dengan yang lainnya. Mereka tidak menginginkan kehadiran Katrina."
Katrina merasakan pelukan mamanya semakin kuat. Bahkan beliau tidak membantah kalau hanya ia yang menerima Katrina.
"Ma, Katrina bukan anak Mama?" Pertanyaan Katrina membuat pelukan mamanya terlepas.
Mamanya menggeleng lembut dan berbicara penuh penekanan. "Kamu anak Mama sayang, siapa bilang kamu bukan anak Mama sama Papa?"
Katrina tersenyum mencoba menutupo kejanggalan yang ingin ia tanyakan sedari dulu. Ia merasa perlakuan yang ia dapatkan berbeda. "Mama lupain tadi ya. Maaf Katrina tanya yang enggak seharusnya."
Mamanya menuntun Katrina untuk bergabung bersama keluarganya. Tapi baru saja bergabung, Ber langsung menyambutnya sinis.
"Masih punya muka buat muncul lagi?"
Perlukah Katrina menyumpal mulut Ber dengan kaos kakinya? Sebentar saja ia tidak ingin ada perdebatan. Katrina sudah lelah selama ini.
"Lo bisa liat kan muka gue masih ada?" tanya Katrina sarkastik.
Ber menggeram kesal. Ia bergelayut manja di lengan suaminya untuk mengadu. Namun respon kakak iparnya itu malah di luar perkiraannya.
"Ber, Katrina datang baik-baik ke sini. Kamu seharusnya menyambutnya dengan baik."
Katrina lega, Setidaknya ada yang membelanya. Ia sebenarnya tidak ingin membenci kakak iparnya itu, tapi gara-gara Ber ia jadi menjudge kakak iparnya mempunyai sifat yang sama.
"Kak Jhon, jaga istrinya supaya nggak bicara seenaknya ya," ucap Katrina. Ia melirik Ber yang semakin kesal.
"Sudah cukup. Papa nggak mau dengar keributan di sini," tegas Papanya.
Katrina juga tidak berniat membuat keributan, mulut Ber saja yang seperti ular berbisa.
Ibadah dimulai dan semua khusyuk berdoa. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya tiba-tiba. 4 permintaannya Aldi.
*****
Hari ini ia cukup bersemangat setelah mengisi tenaganya di hari minggu. Kemarin setelah bertemu mamanya, Katrina merasa lebih baik. Ia memandangi kartu gold atm yang diberikan mamanya. Kartu itu murni milik mamanya dengan usahanya di bidang fashion. Mamanya tidak mau Katrina bekerja dulu karena ia masih punya orang tua yang sanggup membiayainya. Penolakan diberikan Katrina, namun mamanya memaksa. Sampai saat ini, Katrina tidak ada keinginan untuk memakai kartu itu. Uangnya masih cukup untuk satu bulan ke depan.
Katrina menaruh kartu itu di laci nakas sebelum berangkat ke sekolah. Kali ini ia dijemput sahabatnya karena mereka rasa Katrina semakin hitam saja sejak naik ojek.
"Eh Kat, lo udah ngerjain fisika yang dikasih seminggu lalu?" tanya Cellyn yang sekarang sudah memegang kertas soal.
Katrina menepuk dahinya, mengapa masalah pr ia tidak pernah ingat?
"Mampus, belum lagi. Gue aja lupa soalnya di mana." Katrina merogoh tasnya, mencari kehadiran soal itu dan untunglah ia menemukannya. Masih bersih, tidak ada coretan sama sekali. Bahkan namanya saja belum ia isi.
"Santai gengs. Fisika habis istirahat kedua kan?" tanya Naya disetujui ketiganya.
"Tapi istirahat pertama kan buat ngerjain pr bahasa inggris. Terus istirahat kedua kita salat dhuhur. Terus siapa yang ngerjain?" tanya Edel.
"Oh iya ya." Naya menepuk dahinya.
"Eh kerak badak, lo belum jalanin mobilnya." Ucapan Katrina membuat mereka semua sadar kalau mereka akan telat.
"Naya!" teriak semuanya. Naya hanya tersenyum sok polos.
Mobil pun melaju meninggalkan apartemen dan membelah kemacetan ibu kota. Masing-masing dari mereka masih berpikir bagaimana caranya mengerjakan pr fisika itu. Sempat terlintas di pikiran Katrina ia akan meminta bantuan Aldi yang pasti bisa mengerjakan. Katrina buru-buru menepis pikirannya.
"Kat," panggil Naya penuh misteri.
"Mau apa lo? Nggak usah masang wajah gitu gue tau lo ada maksud tertentu." Katrina memutar bola mata malas.
Ketiga sahabatnya menatapnya dengan penuh harap.
"Kita tau kok kalau Aldi pinter. Berhubung lo yang deket sama dia, minta dia bantuin ya."
"No!" ucap Katrina keras. Ia memandang sahabatnya satu-satu dengan pandangan membunuh. "Gak mau. Gue nggak mau berhutang budi sama dia."
"Kat, please," mohon Cellyn.
"Demi kesejahteraan bersama Kat," tambah Edel.
"Mau kok pasti Aldi." Naya melepas sabuk pengamannya karena sudah sampai. "Mending mana, malu sebentar atau kita semua keluar?"
Katrina mendengus. Ia tidak mau dikeluarkan saat pelajaran Fisika karena itu pelajaran yang diajar wali kelasnya. Tapi ia juga tidak mau meminta tolong Aldi, gengsi.
"Istirahat kedua cuma lo Kat yang nggak ke masjid. Yah, please," pinta Cellyn lagi.
Katrina mengambil napas dalam. Malu sebentar demi pr tidak apa mungkin. "Oke, oke gue yang minta. Tapi nanti traktir gue makan ya."
"Siap. Makin sayang sama lo kalau gini." Ketiganya memeluk ala teletubis. Begini nih sahabat kalau ada maunya.
*****
Katrina membawa soal dengan malas ke kelas Aldi. Kalau hanya berdua dengan Aldi saja itu tidak masalah. Yang menjadi masalahnya ini, kelas Aldi di dekat masjid sekolah yang pasti akan dilihat semua orang jika Katrina masuk ke kelas kakak kelasnya. Katrina baru sadar, Aldi pasti juga salat kan? Ah kenapa baru sekarang Katrina berpikir.
Mau tidak mau ia menunggu di depan laboratorium komputer untuk menunggu siswa selesai salat. Ia iseng membuka ponselnya dan menemukan pesan baru masuk beberapa jam lalu, tepatnya saat pagi tadi.
085232991***
Save ya, Alex.
Katrina mengetikkan balasan. Merasa tidak enak karena tidak tau ada pesan itu masuk.
Katrina
Oke. Sorry gue baru bales.
Ada balasan lagi dari Alex tapi Katrina tidak sempat membuka karena ia melihat Aldi sudah keluar dari masjid.
"Aldi, tunggu!"
Merasa terpanggil, Aldi menoleh ke belakang dan menemukan Katrina sedang berlari ke arahnya. Ia mengangkat satu alisnya, bingung.
"Bantuin gue ngerjain pr fisika dong," kata Katrina terengah-engah.
"Kenapa gue harus bantuin lo?" tanya Aldi enteng. Ia sengaja tidak langsung mengiyakan.
Katrina berdecak kesal, tidak ada waktu banyak lagi sampai pelajaran fisika mulai. Ia memutuskan menarik tangan Aldi menuju perpustakaan. "Lo harus bantu gue karena lo pinter."
Sampai di perpustakaan, Katrina melepas sepatunya sebelum masuk dan disusul Aldi di belakangnya.
Perpustakaan sepi karena sebagian siswa menghabiskan istirahat kedua di kantin. "Bisa kan? Halah bisa pasti. Bentar lagi masuk nih." Gelisah Katrina melihat jam dipergelangan tangannya.
Aldi mengambil soal dan membacanya. Soal ini bisa ia jawab dengan waktu sepuluh menit. Membuat Katrina takjub sesaat.
"Udah selesai," ucap Aldi datar.
Katrina menarik soal itu dan puas dengan hasilnya. "Thanks ya. Gue cabut dulu."
Namun sebelum beranjak, Aldi menarik kerah belakang baju Katrina. "Lo nggak tau kalau guru rapat?"
"Ha?" beo Katrina. Ia terbengong masih berpikir.
"Guru-guru rapat."
Sial, ia ditipu sahabatnya berarti. Kalau begitu, buat apa Katrina menemui Aldi? Ah, malu sudah.
"Gue ditipu."
Aldi mengangkat sebelah alisnya. "Lo bisa ketipu juga? Atau jangan-jangan ini akal-akalan lo biar bisa berdua sama gue?"
"Enak aja! Ogah kali berduaan sama lo. Ngebosenin. Gue cabut. MAKASIH BUAT PRNYA," ucap Katrina penuh penekanan.
Aldi menggelengkan kepalanya. Adik kelasnya itu masih saja keras kepala. Tanpa sadar, Aldi tersenyum karena Katrina.