“Sartika, sini dulu....” Bi Rabiah memanggilku yang sedang menimba air sumur di depan rumah. Sementara ia melambaikan tangan dari jendela dapurnya. Aku mendekat dan bertanya,” kenapa Bi?” “Roni mana?” tanyanya setengah berbisik. “Masih tidur kali, di kamar depan.” Jawabku malas. Aku sungguh tak mau tahu lagi soal lelaki itu. “Eh sini deh...” ia melambai lagi, menyuruhku untuk lebih mendekat. Sepertinya transfer data akan dimulai. Dia mulai menggosip. “Ada apa lagi Bi? Apa ini tentang semalam?” tebakku. “Iya. Kamu tahu nggak, tadi pagi Riya dilabrak sama Bibinya sendiri.” Aku mengerutkan kening. “Bibi yang mana?” tanyaku lagi. Karena Bang Roni memang punya banyak Bibi. Mama mertuaku punya empat saudara perempuan. “Si Yati yang ngelabrak.” “Ngapain Bi Yati ngelabrak Riya?” “Semal

