BAB 9- Malam Sidang

1203 Kata
Aku menangis tanpa suara. Sakit sekali rasanya. Rasa marahku seakan sudah sampai batas. Bang Roni benar-benar sudah tak bisa diselamatkan lagi. Padahal sebelum ia pergi, aku sudah memberi pilihan dan kesempatan padanya untuk mengakhirinya hubungan dengan Riya. Meski secara tersirat, seharusnya dia mengerti. Tapi kini aku mengetahui kalau ia masih saja menggoda Riya lewat chat. Kepalaku sakit berdenyut karena membaca chat mesra mereka yang masuk di ponselku. Bayangkan saja, mereka chat an sejak jam 9 malam tadi sampai kini hampir jam 2 pagi. Bang Roni sempat meneleponku, meminta izin untuk pulang larut malam, karena katanya ia sedang lembur tempat Mas Indra. Ternyata itu hanya alasan, agar ia bisa lebih leluasa chat an dengan Riya. [ Sayank tahu nggak, kalau sebenarnya Sayank itu jodoh aku, tapi untuk di akhirat nanti ] Itu adalah salah satu kalimat godaan yang dilontarkan Bang Roni untuk Riya, membuat hatiku sedih bukan kepalang. [ Iya, Cuma sayangnya kita malah nikah sama orang lain ] [ Tapi bagiku, asal sudah melihat wajahmu setiap hari sudah cukup. Bahagiaku ke mana-mana ] [ Kan udah sering lihat, dari sejak aku pindah rumah di samping rumahmu. Tapi kalau kulihat, kamu hidup bahagia kok sama istrimu ] [ Itu dulu. Sekarang nggak lagi. Apalagi sejak dekat denganmu ] [ Apa iya? Sekarang aja bilang kayak gitu. Tapi pulang ke rumah nanti pasti bergumul sama istrinya juga ] [ Nggak ah, lagi nggak mood. Kalaupun iya, paling-paling aku sambil membayangkan kamu ] [ Awas nanti pas lagi enak-enaknya, malah nama Riya yang Ayank panggil ] Ingin rasanya aku berteriak sekuat-kuatnya. Sungguh, mereka sangat jahat dan keterlaluan. Sekarang sudah saatnya aku mengambil tindakan. Tak ada lagi toleransi bagi mereka berdua. Bagiku, kalaupun aku harus hancur, setidaknya mereka juga merasakan sakit. Kalau aku jatuh, mereka harus tenggelam. Kini aku sudah punya banyak bukti screenshot chat mesra mereka sejak kemarin. Bang Roni tak akan bisa lagi mengelak. Saat ini, dia masih asyik chat an dengan perempuan itu. Akan kubuat ini menjadi chat mesra terakhir mereka. Ku telfon nomor Bang Roni. Awalnya ia berada dalam panggilan lain, namun tak lama ia mengangkat panggilan telepon dariku. “Iya Sayank, aku masih lembur nih.” “Pulanglah. Ini udah jam 2 pagi. Belum puas kah bermesraan dengan Riya? Kalau memang kau begitu menyukainya, pulang sekarang. Jatuhkan talak dulu untukku, siapkan uang untuk aku besok pulang kampung. Setelah itu, ayo kuantar kau ke rumahnya. Biar aku yang meminta Riya langsung pada suaminya untuk dijadikan istrimu.” Kataku dengan nada menahan amarah. Tak lagi ada panggilan ‘Sayank’. Sekarang aku memanggilnya dengan sebutan ‘Kau’. “Apa maksud Sayank? Aku nggak ngerti?” Bang Roni bertanya dengan suara bergetar. Kutebak di sana ia sudah ketakutan setengah mati. “Tolong! Jangan lagi panggil aku Sayank! Aku tak sudi dipanggil seperti kau memanggil perempuan murahan itu!” “Tapi....” “Dan kalau kau masih mau mengelak, buka chat yang aku kirim. Sekarang! Dan ingat, jangan beri tahu Riya apa pun. Aku tunggu kepulanganmu sekarang!” Kumatikan telefon. Dan aku menumpahkan segala rasa sakit ini dengan menangis. Aku harus mengeluarkan semua sebelum laki-laki b******k itu pulang. Aku tak mau ia melihatku dalam keadaan menyedihkan. Aku tak mau ia melihatku menangis. Aku harus terlihat kuat dan tegar di hadapannya, agar ia tak meremehkan ku. Semua screenshot telah kukirim dan sudah ia baca. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat dia sadar kalau aku telah mengetahui soal perselingkuhannya. Kuharap ia jantungan dan kena stroke. Namun tak lama, kudengar suara sepeda motornya berhenti di depan rumah. Artinya dia baik-baik saja. Cepat kuhapus air mataku. Ku timpa dengan sedikit bedak untuk menyamarkan. Selagi ia memasukkan motor ke dalam garasi, aku keluar dan menunggunya sambil duduk di depan TV. “Sayank...” katanya begitu ia sudah sampai di depanku. “Kau nggak pelupa kan? Aku bilang jangan panggil aku seperti itu. Panggilan itu sudah kau berikan pada Riya. Jadi bagaimana? Kau sudah siap untuk meresmikan hubunganmu dengannya?” tanyaku tanpa basa-basi. Dia mendekat dengan langkah lunglai, dan langsung duduk bersimpuh di depanku. “Maafkan aku. Aku benar-benar khilaf telah melakukan ini.” Katanya mulai menangis. “Nggak usah nangis. Nggak usah mengeluarkan air mata buaya. Sekarang yang pantas menangis itu aku. Lagi pula, nggak ada orang selingkuh yang khilaf. Kau selingkuh bukan karena khilaf, tapi karena ingin. Kau selingkuh dalam keadaan sadar. Sadar akan siapa dirimu, siapa dia. Sadar akan konsekuensinya kalau sampai hubungan kalian terbongkar. Dan kalian pasti sadar kalau apa yang kalian lakukan itu sebuah kesalahan dan dosa besar. Tapi tetap saja kan, kalian melakukannya? Artinya kalian sadar, kau sadar Roni! Kau sekarang menangis dan minta maaf bukan karena menyesal, tapi karena hubungan kalian ketahuan. Kalau nggak ketahuan, lanjuuutt ituuu... Buktinya, sejak kemaren sudah ku sindir, sudah kuberi kesempatan untuk mengaku. Dan malam ini, sudah kuberi kesempatan juga kan untuk mengakhiri hubunganmu dengannya? Tapi ternyata kau masih saja lanjut menggodanya! Kau benar-benar udah nggak bisa diselamatkan Roni!" Aku mengeluarkan semua kemarahan yang telah kusimpan dan ku tahan sejak kemarin. Malam ini, tak ada ampun baginya. “Aku benar-benar minta maaf. Tolong berikan aku kesempatan.” “Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku bertahan hidup susah denganmu bertahun-tahun, tapi tak ada sedikit pun niat mengkhianatimu. Padahal kalau aku mau, ada banyak laki-laki kaya yang bisa membuatku hidup enak di luar sana. Tapi kau, hanya karena aku nggak berbedak, nggak bergincu, kau pergi keluar bersenang-senang dengan perempuan yang menurutmu cantik. Kau bahkan membandingkan aku dengan dia. Nggak salah?! Kau bandingkan aku dengan perempuan berduit yang harga bajunya selembar aja satu juta. Bandingkan aku yang memakai daster buruk robek sana-sini. Dan itu daster yang aku beli sendiri! Kau itu nggak nyadar diri Roni. Kau Cuma laki-laki kere yang masih numpang hidup sama bini! Udah miskin sok-sokan selingkuh. Sana nikahin dia, biar kau muntah darah kerja siang malam demi mencari duit buat beli celana dalamnya doang.” “Aku tahu aku salah, tapi...” “Biarkan aku selesai bicara! Kau lihat ini...!” aku menunjukkan screenshot chat dia barusan dengan Riya. “Kau lihat apa yang kau katakan tadi padanya? Kau bilang kalian sebenarnya jodoh, tapi untuk di akhirat. Sayangnya kalian terpaksa harus menikah dengan orang lain. Begitu kan?! Nggak perlu!!! Kalau kau memang benar mau dia jadi jodohmu, nggak perlu nunggu sampai di akhirat. Sekarang pun akan aku kabulkan keinginanmu! Ayo, sekarang jatuhkan dulu talak untukku! Ayo ucap! Namaku Sartika Wulansari binti Abdul Hanif. Ucapkan lah talak sekarang juga, biar kita bisa langsung datang ke rumah Riya malam ini juga untuk memintanya menjadi istrimu!” Bang Roni mengejar kakiku, berusaha untuk menciumnya. Namun kutepis dan kujauhkan ia dari diriku. Aku tak sudi ia sentuh. “Dan kau bilang, setiap kali kita berhubungan badan, kau akan membayangkan dia? Kau ini manusia atau bukan? Kalau gitu apa boleh aku melakukan hal yang sama? Bagaimana perasaanmu kalau aku membayangkan laki-laki lain saat berdua denganmu?!” Bang Roni sama sekali tak menjawab semua kata-kataku. Ia hanya tertunduk dengan mata yang memerah. “Dan apa kau tahu, kalau kau itu tak lebih dari laki-laki miskin yang Cuma modal kemaluan. Kau pikir Riya mau menikah dengan orang sepertimu? Coba kau dengarkan ini!” Aku putarkan rekaman suara Riya. Bang Roni tampak menahan marah. Genggaman tangannya membuktikan kalau ia sedang berusaha untuk menahan diri dari membunuh orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN