Rayhan duduk termenung di meja kerjanya sambil terus memikirkan apa yang Sena katakan. Mengira-ngira apa sebenarnya yang salah dari caranya. Sejujurnya Rayhan tidak pernah merasa menggunakan harta atau keangkuhannya dalam mendekati Sena, tapi kenapa wanita itu selalu saja mengolok-oloknya dengan hal itu. Apakah Rayhan harus jatuh miskin dan memulai dari nol segalanya agar Sena mau meliriknya kembali? Rayhan mendengus kemudian menghela napasnya lelah dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Beberapa hari ini memang sangat melelahkan untuknya, bukan hanya masalah perusahaan tapi ayahnya juga semakin menyebalkan. Mulai mengenalkan Rayhan pada wanita-wanita putri dari temannya. Berharap Rayhan cepat menikah dan memberinya cucu. Tanpa mempedulikan sedikitpun pendapat dan perasaan Rayhan

