Ponsel Lola terus berdering semenjak iklan tersebut dipasang. Nomor ponsel yang tertera di iklan memang nomor ponsel Lola sebagai asisten Laura yang juga mengurusi kos-kosan milik bosnya itu. Lola sudah seperti direktur sibuk yang telinganya tidak lepas dari ponsel sama sekali. Bibirnya terus menyerocos dan berusaha ramah seperti layanan customer service di bank-bank. Bahkan hingga saat ia datang ke rumah Laura untuk mengatur jadwal sang bos pun, ponselnya masih lengket di telinga dan ia terus berbicara. “… ya, ya benar mbak. Kos-kosannya cuma untuk cewek aja. Apa? Gimana? Oh ya, mau lihat dulu lokasinya? Bisa, bisa… nanti tinggal saya kirim saja alamatnya ke whatsup mbak. Ok, ok, terima kasih ya mbak. Selamat siang…” Lola akhirnya menutup pembicaraannya. Ia tidak sadar jika Laura sedang

