2. Cale

1578 Kata
Pemuda itu menoleh ke arah Rhea, dari yang semula menatap kosong ke taman di hadapannya. Meski demikian, ia tidak langsung menindaklanjuti ucapan Rhea barusan dan hanya memasang wajah datar sok polos. Hampir saja Rhea memaki dengan mengatakan kalau cowok itu dungu hingga tidak peka begitu. Namun Rhea rasa, ia cukup mengenali wajah pemuda itu. Akhirnya sebelum Rhea bicara apa-apa lagi, pemuda itu berceletuk enteng, "Kata Agninyan, aku bisa merokok di sini." Dahi Rhea berkerut rapat dengan matanya yang memicing tak suka. Jadi Agninyan—sepupu Rhea yang lebih tua barang tiga tahun darinya sekaligus putra tunggal Ganeeta—yang menjadi akar masalah ini. Rhea pun menyahut, "Dia mungkin nggak tahu kalau ada aku di kamar ini dan mempersilakan kamu buat merokok di sini. Karena sekarang kamu udah tahu di sini ada orang yang benci asap rokok, sebaiknya kamu pergi aja. Atau kalau kamu keberatan pergi dan tetap mau merokok di sini, kamu telan sekalian asap rokoknya. Dasar polusi!" Setelah bicara dengan nada sarkas begitu, Rhea menarik diri dari jendela. Ia pun kembali duduk di kursi malas, menunggu hingga pemuda yang kehadirannya mengganggu itu cabut dari sana. Namun sepertinya Rhea salah mengira. Bukannya pergi, pemuda itu justru menghampiri Rhea dan bersandar santai di tepian jendela, tentu saja dengan sudah mematikan rokok itu. Karena kalau tidak demikian, bisa-bisa Rhea meminta pemuda itu memakan sebatang rokok hidup-hidup saking kesalnya. "Cale," kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan ke arah Rhea, "teman Agninyan." Kernyitan di dahi Rhea semakin kentara. Ia tidak berharap bahwa pemuda itu akan mengajak berkenalan. Rhea juga tahu kalau pemuda itu pastilah teman Agninyan. Sehingga Rhea rasa, ia tidak punya urusan dengan pemuda itu dan tak ingin membuang waktu untuk berbasa-basi. Jadi dengan sombongnya, Rhea mengabaikan uluran tangan Cale. Rhea justru membuang tatapan ke arah halaman rumah. Barulah saat itu, Rhea sadari kalau hujan telah berhenti—ini ia lakukan sekadar untuk mengalihkan perhatian dari keberadaan Cale di sana. "Cale Sanatana," ulang pemuda yang Rhea duga usianya sepantaran dengan Agninyan. Cale berkeras memperkenalkan diri. Tapi kali ini, ia sudah menarik uluran tangannya karena itu tak kunjung disambut oleh Rhea. Ia menambahkan, "Ingat itu, siapa tahu kamu butuh aku." Rhea tertarik dengan kalimat terakhir yang pemuda itu lontarkan. Bukan dalam artian apa-apa, tapi Rhea merasa pemuda itu konyol dan terlalu percaya diri. Dalam urusan apa Rhea membutuhkan Cale? Teman Agninyan yang satu ini sepertinya menderita narsisme atau semacam itulah. Rhea mengembuskan napas keras. "Minggir," usirnya sambil berniat menutup jendela kamar. Untuk kali ini saja, Cale menurut dan mengambil beberapa langkah mundur, menjauh dari Rhea yang tergesa-gesa menutup jendela. Sebelum jendela itu benar-benar tertutup, Cale menenggerkan senyum manis di bibir yang kata sebagian besar teman perempuannya, senyum Cale itu memikat. Tapi terlihat jelas bahwa Rhea tidak terpengaruh dengan usaha Cale yang tebar pesona kepadanya. Rhea tetap menutup jendela dengan suara keras dan menjauh dari sana untuk naik ke atas kasur. Tidak lagi menghiraukan keberadaan Cale di luar kamar, gadis itu memilih membuka laptop dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. *** Cale berjalan menghampiri Agninyan untuk berpamitan. Ia akan lanjut pergi ke suatu tempat. Pemuda itu menenteng blazer yang akan ia kenakan nanti sekadar untuk memberikan kesan formal dan menutupi kaus polos lengan pendek yang ia kenakan. “Balik dulu, Nyan,” ujar Cale sambil mendekat ke Agninyan yang sedang sibuk menyeduh kopi. “Tumben buru-buru,” balas Agninyan sambil menoleh sekilas. Dahinya berkerut karena merasa heran. “Nggak jadi ngerokok? Baru mau gue susul.” Cale mendengkus, memasang senyum asimetris, lalu mengedikkan bahu ringan. “Nggak,” kata Cale setengah mengadu, “di sana ada penunggunya.” Agninyan makin-makin dibuat bingung. “Penunggu? Apaan emang?” “Cewek, jutek, ketus, mukanya masam, dan sangat tidak suka kalau gue ngerokok di sana,” balas Cale. Agninyan justru tertawa terbahak-bahak. “Halu ya lo? Bukan juga anak indigo, sok-sokan bisa lihat hantu.” Cale menyeringai, menepuk bahu Agninyan dua kali, dan berjalan berlalu dari pantri. Sambil meninggalkan tempat itu, Cale berkelakar, “Gue bukan lagi ngomongin hantu kali, Nyan.” Namun karena Cale sudah berjarak cukup jauh dengan Agninyan, pemuda itu tidak dapat lagi mendengar gumaman lirih yang Agninyan lontarkan. Dan sebelum berjalan makin jauh meninggalkan rumah itu, Cale menyempatkan diri untuk menoleh ke sisi samping rumah Agninyan di mana Cale bertemu dengan seorang perempuan yang tak asing di matanya. “Berkesan,” gumam Cale, “ternyata orangnya kaya gitu.” Perhatian Cale baru teralihkan kala ponselnya berdering nyaring. Ia pun tergesa menerima panggilan itu. Sambil mendengarkan orang di seberang telepon berbicara, Cale berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan pendopo. Saat melewati pendopo, Cale disapa oleh beberapa anak perempuan yang sepertinya adalah murid tari di sana. Cale melambaikan tangan ramah kepada beberapa anak perempuan itu sebagai balasan. Aksi Cale sukses membuat anak-anak perempuan itu girang. Dari yang Cale dengar, anak-anak perempuan itu bahkan menjuluki Cale sebagai Om Ganteng. Cale menahan rasa geli. Apakah di umurnya yang sekarang ini, ia sudah pantas dipanggil Om? Tapi sepertinya memang begitu. Pertengahan dua puluh lima tahun memang tidak lagi terbilang muda, bukan? Sepertinya Cale sempat lupa sejenak bahwa ia sedang bicara dengan seseorang di telepon dan ia jadi tidak mendengarkan dengan baik apa yang lawan bicaranya ucapkan. Cale baru tersadar ketika lawan bicaranya itu bertanya dengan nada meninggi. "Kamu dengar apa yang Papa katakan?" Cale mengembuskan napas berat. Sambil membuka pintu mobil, Cale membalas, "Iya, saya dengar apa yang Papa katakan. Sebentar lagi saya ke sana bawa laporan yang sudah saya revisi sebisa saya. Meski hasilnya tetap tidak akan memuaskan CEO kita." Tidak ada balasan untuk ucapan Cale yang terakhir itu. Telepon justru terputus tak lama setelahnya. Cale memutar bola mata. Rahangnya tampak mengeras. Ia berusaha memaklumi perlakuan Papanya sekali lagi. Tak ingin berlarut dalam rasa kesal itu, Cale buru-buru masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Tanpa membuang lebih banyak waktu, Cale segera menjalankan mobil meninggalkan halaman rumah Agninyan. Tujuan Cale selanjutnya adalah kantor. Sebagai Chief Financial Officer, Cale harus siap datang ke kantor kapan saja. Dengan jabatan itu, Cale jelas berbeda dengan staf-staf di bawahnya yang hanya datang ke kantor sesekali jika memang sangat diperlukan pertemuan tatap muka, mengingat perusahaan tempat Cale bekerja menerapkan sistem work from home untuk sementara waktu. Jarak antara rumah Agninyan dan kantor Cale tidak terlampau jauh. Namun jalanan yang macet sesekali mengharuskan Cale untuk menghentikan laju mobilnya sejenak. Setelah macet-macetan, satu jam kemudian, Cale sudah tiba di kantor. Ia bergegas turun dari mobil dan berjalan ke lantai di mana ia harus bertemu dengan CEO perusahaan itu yang tak lain merupakan sepupunya. Meski yang akan Cale temui itu adalah sepupunya sendiri, Cale tak menganggap urusannya akan mudah. Justru karena ini sepupunya yang menganggap Cale sebagai musuh, maka sepupunya itu tak segan-segan untuk membuat Cale sengsara. "Saya sudah kirim anggaran terbaru ke surel Anda," ujar Cale dengan profesional saat sudah berdiri di depan meja kerja sepupunya. "Sudah saya tekankan, untuk produk baru ini, mau beban produksi ditekan dengan cara apapun, tetap tidak akan menghasilkan income yang menguntungkan bagi perusahaan. Karena jika beban semakin ditekan, saya ragu kualitas akan bisa menyaingi kompetitor kita yang sudah lebih dulu mengembangkan produk sejenis dan sudah memiliki pelanggan tentu saja. Untuk itu, saya tetap tidak menyarankan Anda meng-approve usulan produk ini." Denanjaya selaku Chief Executive Officer sekaligus sepupu Cale itu mendengkus keras mendengar ucapan panjang lebar yang Cale lontarkan. Di wajahnya tersungging senyum meremehkan. "Gue nggak heran kalau lo bakal ngasih laporan kaya gini. Secara, lo itu nggak punya jiwa bisnis, nggak berani ambil risiko. Kalau gue punya kuasa buat menyingkirkan lo dari jabatan lo yang sekarang ini, gue pastikan lo cabut secepatnya." Rahang Cale mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ingin sekali Cale melayangkan tinju ke wajah Denanjaya. Tapi itu hanya berakhir di angan-angan Cale saja. Ia tidak mungkin membuat keributan dengan sepupunya sebagai sesama petinggi di perusahaan itu. Apa kata karyawan di sana bila mendengar kabar atasan mereka mengambil jalan persaingan yang tidak sehat? "Apa?" tantang Denanjaya, "lo mau pukul gue? Silakan, toh ucapan gue benar. Lo itu pecundang yang cuma berani main aman. Gue nggak cocok kerja sama orang modelan lo. As soon as possible, gue bakal melengserkan Cale Sanatana dari posisi CFO." Cale memejamkan mata sejenak. "Itu nggak akan terjadi," balasnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin. Cale harus menjaga emosinya. Karena Cale tahu, jika ia terpancing sedikit saja, maka Denanjaya akan kesenangan. "Masa?" Denanjaya mencebikkan bibir. Ia pun berkata, "Cepat atau lambat, gue yakin Papa lo itu bakal meninggalkan lo." Cale memilih tidak menanggapi celotehan Denanjaya. Sebelum pergi dari ruangan itu, Cale menegaskan sekali lagi, "Terserah lo mau tetap ambil proyek itu atau ikutin saran dan analisis keuangan dari gue dan staf departemen keuangan. Silakan juga kalau lo mikir gue nggak berani ambil risiko. Karena memang itu benar adanya. Tapi itu juga bukan tanpa alasan karena gue lebih ngerti soal keuangan perusahaan ini ketimbang lo yang cuma dapat laporan dari gue. Gue berani ambil risiko kalau memang yang bakal perusahaan ini dapatkan sebanding. Kalau enggak, ya buat apa? High risk, high return. Bukan high risk, low return. Ini perusahaan didirikan buat mencari laba, bukannya berakhir jadi organisasi nirlaba! Banyak orang yang bergantung pada kelangsungan hidup perusahaan ini." Setelah bicara begitu, Cale langsung balik badan dan meninggalkan ruangan dengan hawa bak neraka. Ia pun mampir sebentar ke ruangannya untuk memastikan sesuatu sekaligus menenangkan dirinya yang mulai kalut. Barulah setelah seluruh urusan di kantor selesai, Cale kembali melajukan mobil ke rumah Agninyan. Iya, pemuda itu enggan pulang cepat-cepat ke rumah di mana ia akan bertemu dengan Papanya yang dingin dan tidak manusiawi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN