7
SEGALANYA BERJALAN laiknya slow motion dalam film – film klasik yang suka diputar oleh Mama.
Seperti perjalanan waktu yang lambat seperti tv seri yang suka diputar Papa.
Atau bak adegan anime yang bergerak dalam gambar pelan yang suka diputar saudara laki – laki aku.
Satu sekon aku berdiri laiknya gadis bodoh tatkala melihat binatang buas menyerang ke arahnya.
Satu sekon kemudian aku terkesiap tatkala hentakan angin yang kuat diikuti oleh sosok raksasa yang lebih bengis dari binatang buas di depanku menerkam dia hingga mereka saling bergulir jatuh ke tanah.
Erangan dan gerama kuat membuat seluruh tubuh aku bergetar hebat. Lolongan serigala yang mencekam seluruh atmosfer di sekitar kami membuat surai di epidermis naik ke atas. Serangan mereka memberi makan teror dan rasa takut di dalam benak, seperti kegelapan yang memakan mangsa kecilnya.
Aku terpaku di tempat, membayangkan beragam macam skenario buruk di dalam hati sembari memikirkan, apa yang akan terjadi padaku jika dua serigala itu memakan aku seperti makanan ringan yang menyedihkan?
Apa yang akan Mama dan Papa katakan jika mereka mendengar kabar bahwa anak gadis mereka yang sudah jauh – jauh sekolah menjadi pelajar asing mati mengenaskan di sebuah kota terpencil dan mengerikan, di samping hutan, karena disantap serigala terbesar yang pernah liat di hidupnya?
Memikirkan itu, hati aku mencelus begitu dalam hingga aku menemukan kekuatan agar bergerak. Saraf motorik yang kembali berfungsi membuat aku akhirnya mundur dan mundur dan mundur.
Sampai aku melihat serigala hitam tadi menahan serigala jahat yang mau menyerang aku ke tanah. Kakinya yang besar menekan leher serigala itu, dan mulutnya terbuka lebar, gigi – gigi runcing mendekat secara bahaya ke leher itu, dan erangan keras dan lantang dia berikan padanya.
Serigala berwarna cokelat terang itu merintih, berusaha melolong—mungkin ingin meminta tolong pada kawanannya—namun gagal. Pegangan serigala hitam tadi lebih kuat dari yang aku bayangkan.
Dua kaki aku yang terus mundur menginjak sebuah ranting pohon yang kecil, mengeluarkan suara c***k di tengah suasana mencekam. Rasanya seperti ada yang baru saja menjatuhkan puplen di tengah kelas yang kosong. Seperti ada yang memutar musik di pengeras suara di rumah duka.
Aku meringis, tapi mataku tidak tertutup, tetap mengobservasi dua monster di hadapanku.
Serigala hitam itu mengangkat kepalanya, dan menatap lurus ke arahku.
Sesuatu di antara kami terlewati detik itu juga. Aku tidak tahu apa. Aku tidak paham apa. Tapi sengatan listrik yang semakin hari semakin familiar di tubuh aku datang lagi. Rasa itu menekan benak dan sanubari, mengesampingkan gelap dan teror, dan menggantinya dengan rasa aman dan tenang.
Dua mata emas yang entah kenapa seperti bisa mengenal aku itu turun dan naik, balik mengobservasi aku seperti mencari tahu apa aku terluka atau tidak.
Aku menahan napas. Walau pun rasa artifisal itu menyelimuti hati, tapi insting keselamatan dan adrenalin masih kuat. Alarm bahaya masih berbunyi di kepala, dan aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayai binatang buas di depan aku atau tidak.
Baru ketika serigala hitam itu yakin kalau aku baik – baik saja, dia menginjak leher lawannya sampai aku mendengar bunyi tulang patah. Aku menutup mulut, menahan agar tidak berteriak histeris.
Serigala hitam itu menatap aku sekali lagi sebelum menghilang di balik kabut hutan yang tebal sembari menyeret rivalnya dengan gigitan di leher.
Dia menang telak.
***
“Oh my God, apa yang terjadi Shay?” suara panik Nyonya Smith langsung menyambut aku begitu aku sudah masuk ke dalam rumah dalam keadaan yang masih terguncang. Tubuh aku bergetar, dan dua tangan aku seperti sedang tremor berat. Aku tak dapat menafsirkan premis. Rasanya bibir aku sudah dijahit menjadi satu, dan tak ada suara yang bisa keluar.
Hei, aku tinggal di daerah populasi tinggi di Asia. Seumur hidupku, yang aku tahu itu jalanan yang tidak pernah sepi, gedung – gedung pencakar langit, kebisingan kota yang tidak pernah tidur, dan lampu – lampu jalan yang terang.
Satu – satunya tempat aku bisa melihat serigala hanya di kebun binatang, dan itu pun aku yakin, sekalinya aku mengungjungi tempat itu untuk rekreasi hadiah ulang tahun adik laki – laki aku sepuluh tahun yang lalu, tidak ada serigala yang sebesar tadi.
Jadi jangan salahkan aku jika aku terlihat seperti orang yang terguncang. Aku secara harafiah nyaris dimakan oleh binatang buas.
Entah jika serigala hitam tadi memang ingin melakukan yang sama . . . atau hanya ingin menyelamatkan aku.
“Shay, jawab aku,” kata Nyonya Smith. Dua tangannya memegang bahu aku, mengelusnya naik dan turun.
Aku tersenyum tipis, yang mungkin lebih terlihat seperti meringis. “Aku hampir diserang.”
“Diserang? Siapa yang mau menyerang kamu?” Nyonya Smith bertanya histeris.
“Not who, but what,” jawabku lirih. “Seekor serigala buas.”
Wanita setengah baya di depan aku mengangkat alisnya. Seketika aura dia berubah. Yang tadinya panik, menjadi gelagapan. Matanya belingsatan, setengah mungkin mencari jika aku terluka, setengah lagi karena aku tahu dia sedang menghindari tatapan mataku sendiri.
Nyonya Smith menggeleng, “Serigala?”
“Iya. Dua.”
“Dua?” wanita itu mengulang kata – kata aku dengan tidak percaya.
“Cokelat dan hitam, dan . . .” Aku menelan ludah. “Sepertinya yang hitam ingin melindungi aku. I think.”
“Melindungi kamu?”
Mendengar nada bicara Nyonya Smith, aku tahu aku terdengar seperti orang gila. Mana ada serigala liar dan buas melindungi seorang manusia? Apalagi menyerang spesies – nya sendiri? Aku tahu itu terdengar seperti omong kosong besar, tapi aku tahu insting itu tidak salah.
Serigala hitam tadi mau melindungi aku dari serangan serigala yang lain.
Panggil aku hilang akal. Panggil aku gila. Panggil aku Saoirse si gadis yang tukang mengarang dan omong kosong. Tapi aku tahu, serigala hitam tadi bukan datang untuk menyantap aku, tapi menolong aku agar tidak menjadi santapan rival – nya.
Yang menjadi pertanyaan aku, kenapa?
Kenapa dia membela aku dan mengancam dirinya sendiri?
“Shay, apa yang sebenarnya terjadi?” Nyonya Smith membawa aku pelan ke ruang tamu, lalu mendorong aku duduk dan mengelus jari – jariku lagi sebagai gestur menenangkan.
“Aku berjalan pulang,” jelasku. “Lalu, ketika sampai di jalan sebelah hutan, tahu – tahu saja serigala cokelat ini muncul dari dalam hutan dan menderap ke arahku. Aku mematung saking terkejutnya. Sampai akhirnya ketika aku pikir aku akan terluka, serigala lain datang. Dia masif, kuat, dan penuh determinasi. Serigala hitam itu melindungi aku dari serigala yang lain.”
Nyonya Smith mengumbang pelan. “Lalu?”
“Dia menang. Dia menang dan . . . dan melihat aku. Setelah puas, dia pergi membawa serigala itu.”
Tidak ada jawaban darinya. Hanya dua mata yang mengobservasi aku lekat. “Aku tidak berbohong, aku janji.”
“Aku tidak berpikir begitu, Shay.” Nyonya Smith memeluk aku dari samping. “Aku tahu kau tidak berbohong.”
“Kau percaya padaku?”
“Tentu saja.”
“Nyonya Smtih, apa sebenarnya yang ada di kota ini?”
Wanita itu terdiam lama. Mataya menerawang ke luar jendela rumahnya yang terbuka lebar. Hilir angin menyerbak masuk, membawakan wangi bunga – bunga yang bercampur menjadi satu dari taman di depan rumah Nyonya Smith. Lalu dia tersenyum tipis. Garis kurva yang penuh arti dan makna.
Seperti ada hal lain yang dipikirkan oleh Nyonya Smith yang tidak akan pernah aku mengerti. Dulu sekali, aku pikir dunia aku hanya sekedar lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Beberapa kali aku pernah main ke jarak yang lebih jauh dari sana, tapi hanya itu saja.
Aku bukan gadis yang suka bermain ke luar, menjelajah kota, dan sebagianya. Aku bukan gadis yang suka main ke alam, atau gadis yang suka berkumpul dengan banyak teman. Aku gadis yang hanya suka buku, tiduran di rumah, dan memiliih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar tidur aku. Jadi, dunia yang aku tahu hanya sekedar itu saja.
Lagi pula, memangnya apa yang aku kejar di hidup ini? Tidak ada. Tidak ada satu hal yang membuat aku merasa seperti harus aku perjuangkan. Tidak pernah ada satu hal yang membuat aku seperti orang paling penting di dunia. Tidak ada satu hal yang bisa membuat aku keluar dari kamar, dan meninggalkan zona aman yang sudah aku buat sejak dini. Pada dasarnya, hanya ada aku dan dunia yang begitu kecil.
Tapi tak lama, aku sadar kalau dunia tidak hanya sekedar itu saja. Bukan hanya sekitar perempatan dari rumah ke sekolah, atau taman bawah kota yang selalu sepi pengunjung. Bukan hanya sekitr dapur rumah aku, dan kota persegi empat yang aku sebut kamar tidur. Belakangan aku sadar kalau dunia itu sangat besar dan masif. Aku hanya satu titik debu dibandingkan semesta, dan itu yang membuat aku akhirnya mendaftar pertukaran pelajar ini. Aku ingin melihat dunia. Itu mutlak.
Dan dari sorot mata Nyonya Smith, rasanya seperti wanita setengah baya yang sangat cantik ini tahu betul seperti apa dunia luas di luar sana. Aku yakin kalau dia punya satu hal yang tak bisa dia katakan, dan aku tidak akan memaksa wanita itu. Aku hanya berharap itu bukan hal yang berbahaya.
Apa yang sebenarnya ada di kota ini? Itu pertanyaan yang bagus.
Dunia macam apa yang ada di kota ini? Itu pertanyaan yang ada di kepala aku.
Aku ikut menatap ke sana, tapi dua korteks visual aku tidak menemukan apa – apa. Hanya pepohonan rindang di depan rumah, dan wangi famiiar yang membuat aku tenang. Saat aku menoleh lagi, Nyonya Smith sudah memandang aku dan berkata pelan.
“Kota ini punya banyak hal, Shay. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang abu – abu, terpisah antara yang benar dan yang salah. Kota ini punya histori yang panjang dan kela. Kota ini punya pengalaman yang menarik dan indah. Kau, baru saja memasuki sesuatu yang menurut aku lebih dari indah. Sebuah takdir. Tenang saja, Shay. Serigala hitam – mu akan memastikan kau tidak akan pernah melihat bagian salah dan jahat dari New Cresthill.”
Entah apa maksud dari kata – kata Nyonya Smith. Tapi yang aku tahu, semenjak hari itu, kata takdir tidak lagi hanya sebuah rangkaian huruf yang tidak bermakna di hidup aku. Kata takdir sekarang berubah menjadi pengikat. Pembawa aku dan dia.
Serigala hitamku.