26
DAMON HAKWOLF pernah berkata padaku kalau bukan hanya ada ikatan pasangan jiwa di dunia ini. Kalau pada dasarnya, dia juga memiliki ikatan yang kuat dengan semua saudara laki – lakinya. Itu mutlak.
Damon bilang, sebagai seorang Hawkwolf, mereka ada sekumpulan kawanan manusia serigala paling terkenal, paling kuat, paling tua, dan paling dihormati di seluruh dunia. Pantas saja mereka selalu bersikap seperti mereka yang memiliki New Cresthill. Damon pernah bilang kalau secara tidak langsung, dai bisa merasakan apa yang saudara laki – lakinya rasakan seperti misalnya saat mereka sedang sakit, takut, cemas, atau sekedar sangat bahagia saja. Aku sempat tidak percaya akan hal itu, tapi satu hal yang aku pelajari adalah mereka tidak pernah bercanda tentang hal ini.
Mereka selalu serius menjelaskan tentang dunia mereka yang masih menjadi konsep asing untuk aku yang hanya seorang gadis biasa. Aku tidak tahu harus berkata apa perkara semua itu. Damon juga bilang kalau dalam perkelahian, sangat mudah bagi seekor serigala untuk memanggil bantuan dari teman – temannya.
A pack is always together, itu yang dikatakan oleh Damon suatu hari. Aku juga tahu kalau memang dari mereka semua, tidak akan ada yang berani pergi sendiri, kecuali mungkin Damon. Mereka punya semacam aturan untuk selalu pergi bersama, tidak sendirian dan membuat orang lain cemas.
Aku pikir itu hanya sebuah aturan yang berlebihan, tapi mengingat kalau ternyata masih banyak sekali makhluk supernatural dan tak kasat mata di dunia ini, jadi aku percaya saja. Mereka memang harus selalu siap membela diri, jika takut mendadak ada yang menyerang.
Aku mengangguk saat Damon menjelaskan tentang ikatan batin antara dia dan yang lain. “Jadi, seperti sebuah koneksi?” tanya aku setelah Damon selesai.
“Itu benar. Bisa juga karena aku memanggil mereka,” kata Damon.
“Dengan cara apa?”
“Dengan cara apa lagi satu seirgala memanggil serigala yang lain?” Damon mengedipkan satu mata padaku dengan penuh percaya diri.
Satu serigala ke serigala yang lain.
Apa yang akan terjadi jika mereka sedang bersama?
***
ENTAH BAGAIMANA CARANYA, tapi aku mengenali tiga serigala yang sedang mengitari figur iblis mengerikan itu. Seolah ada sesuatu yang membisikkan kata – kata, ketika mereka bertiga saling berkuda – kuda di sekeliling Ingruth, aku bisa melihat wajah – wajah familiar di balik gigi taring, bulu tebal, dan kaki empat.
Serigala masif dengan bulu putih bak salju yang turun di bulan Desember itu Archer. Aku tahu dia. Serigala putih itu besar dan mengingatkan aku akan tumpukan es dingin di ujung gunung himalaya. Bulu putih yang magnifisen itu terbang di terpa oleh angin.
Dia berdiri tegak, mematai Ingruth tanpa menoleh sedikit pun, siap untuk menyerang dia kapan saja.
Di sebelahnya, tidak jauh dari tempat di berdiri, serigala cokelat tua besar ikut berjaga bak ksatria yang kuat. Seolah menyatu dengan bentala dan alam, ranting dan batang pohon yang kokoh. Bulu cokelat tua itu naik ke atas, penuh waspada dan konsentrasi.
Jika Ingruth bergerak sedikit saja, aku tidak akan terkejut ketika Talon, salah satu dari tiga saudara laki – laki kembar yang paling tinggi di antara mereka akan menyerbu iblis itu.
Terakhir, serigala hitam yang similar dengan Knight berdiri di belakang Ingruth. Bulu hitam itu mengingatkan aku akan serigala hitam di depan aku sekarang, namun tidak seperti hitam pekat milik Damon—atau Knight, atau Damon—kalian mengerti maksud aku, serigala hitam ini memiliki tonase warna hitam yang lebih muda dan terang.
Di beberapa tempat, bahkan bulu yang aku duga sama halusnya dengan Knight itu berwarna abu gelap. Orien memperlihatkan gigi – giginya yang besar, rahangnya bergerak tajam, siap menghabisi Ingruth jika dia berani macam – macam.
Tiga serigala besar itu datang ketika mendengar panggilan dari Damon. Aku tidak tahu harus kagum atau takut. Hanya dengan satu lolongan yang bahkan menurut aku tidak panjang, kawanan dia datang.
Kepercayaan dan loyalitas itu tidak mudah di temukan di tempat lain. Manusia serigala. Jadi memang benar, ya? Aku benar – benar masuk ke dalam cerita fantasi. Berakhir menjadi salah satu karakter yang penting. Bukan hanya karakter sampingan, tapi—bukannya aku sombong—mendadak aku menjadi karakter gadis utama.
Dan pasangan jiwa.
Ah, kata itu lagi . . . pasangan jiwa. Mate.
Knight berdiri. Presensi serigala menakutkan itu justru memberikan aku rasa proteksi yang besar. Dia melirik aku, dan tanpa banyak bicara mengirimkan sinyal yang bisa aku baca segera.
“Diam di sini,” kata sorot mata emas yang menatap aku tajam.
Aku mengangguk, tidak percaya dengan diri aku sendiri kalau aku bisa mengeluarkan suara. Yah, memangnya aku mau ke mana? Mau melakukan apa? Aku tidak kapabel merasakan dua tungkai kaki, bagaimana bisa juga aku jalan atau lari?
Setelah puas, Knight mulai aksinya. Kaki depan berjalan, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, kaki belakang mengikuti tanpa jeda. Knight terlihat seperti pemilik dunia. Singa adalah raja hutan? Ini adalah hutan New Cresthill. Dan di sini, serigala adalah raja New Cresthiil.
He is power, kata aku dalam hati. Dia mengeluarkan aura yang keras dan brutal, dan tidak dapat dikalahkan. Entah karena aku pilih kasih atau apa, tapi di mata aku, bagi aku, Knight adalah yang paling kuat.
Serigala hitam itu semakin dekat dengan Ingruth, dan aku bisa melihat bahkan iblis itu pun mulai merasa terintimidasi. Siapa yang tidak? Knight kapabel merusak seluruh tubuhnya, melahap dia hidup – hidup tanpa banyak berpikir.
Saat dia berhenti di sebelah Talon, rasanya seluruh hutam menjadi diam. Tiba – tiba tidak ada suara dersik angin. Tidak ada bunyi dahan pohon, daun – daun yang bergoyang. Tidak ada kicauan burung yang datang sesekali. Tidak ada apa pun. Hening.
Pikiran aku kacau. Aku bergetar. Aku tidak dapat berpikir. Aku hanya sanggup menjadi manusia yang berdiri lemah dan mudah di dapatkan.
Suara ekhlasi napas aku sendiri pun seperti di telan oleh intensitas yang terjadi beberapa mil di depan aku itu. Di antara Archer, Talon, Orien, Damon dan Ingruth.
Bukan rahasia lagi kalau ada histori di antara Ingruth dan Damon. Ada sesuatu di antara mereka yang terjadi dan aku tidak tahu sama sekali.
Tapi bukan itu yang mnejadi pusat atensi aku sekarang.
Sekarang, fakta kalau iblis itu membuka mulut adalah masalah yang paling besar.
***
Ingruth tidak bernyanyi. Dia tidak mengeluarkan suara bisikan mengerikan itu. Bukan lantunan nada menghipnotis yang keluar dari bibirnya, melainkan sebuah suara yang kapabel membuat seluruh bulu di epidermis berdiri.
Iblis bertubuh wanita tua itu menelengkan kepala, dan tersenyum lebar. “Halo, Damon. Lama tidak berjumpa. Aku rindu denganmu. Dengan serigala ini,” lalu dia melirik semua serigala yang ada di sekelilingnya. Dan wanita tua itu mengedipkan satu mata.
Mengedipkan satu mata.
Aku bergidik ngeri.
“Oh . . . jangan cemburu,” dia mengibaskan tangan seperti sedang bercanda. “Aku juga rindu kalian!” tawa dia menyeruak, meresonasi di hutan yang hening dan kosong. “Aku rindu serigala – serigala New Cresthill.”
Damon menggeram. Dan itu saja sudah cukup membuat Ingruth menutup mulut. Tawa tadi hilang. Gelak harsa itu diganti oleh cibiran yang menjijikan.
“Damon . . . “ Ingruth melihat dia dari atas ke bawah. Dan entah karena alasan apa, manuver itu membuat aku marah. Aku tidak ingin dia melihat Knight seperti itu. Seperti merendahkan dan berpikir kalau dia membuang – buang waktu di depan presensi serigala hitam itu. “Tenang. Aku ke sini bukan untuk mengambil pasangan jiwa kecil itu dari kamu.”
Dan dia melambaikan tangan padaku.
Melambaikan tangannya. Aku membeku. Knight mendesis. Dia maju satu langkah penuh ancaman, namun iblis itu tidak terpengaruh sama sekali.
Yang ada, dia malah tersenyum santai. “Whoa . . . tunggu dulu. Kau tidak mau mendengar kenapa aku datang ke sini?’
Aku lebih memilih mendengar ajaran Profesor Jung di kelas Sosiologi dari pada harus mendengar dia berbicara lebih lama lagi.
Tapi seperti tertarik, Knight terdiam. Tidak bagi tiga serigala yang masih sibuk mengelilingi Ingruth. Mereka tidak membiarkan iblis itu menjadi ancaman sama sekali, mengobservasi dia agar makhluk itu tidak punya kesempatan untuk kabur sama sekali.
“Kau ingat tiga tahun lalu?” Ingruth menyeringai serigala hitam itu.
Tiga tahun lalu?
Knight maju lagi, terlihat jelas sudah muak dengan permainan Ingruth. “Baiklah . . .” Iblis itu mengangkat dua tangannya ke atas. “Sangat tidak sabar.”
Dia menatap aku lama, sebelum akhirnya kembali fokus pada empat serigala di sekelilingnya. Orien yang berdiri di belakangnya sudah mulai menutup jarak. “Aku ke sini karena ada yang mengirim aku.”
Semua serigala seperti menelan informasi itu dengan hati – hati.
“Mereka ingin kalian bertemu dengan mereka di atas menara tengah malam di bulan purnama berikutnya,” Ingruth mengedipkan mata lagi. “Kau tahu ‘kan menara mana yang aku maksud?”
Inkuiri itu di tujukan untuk Damon. Aku tahu itu.
Tapi serigala hitam itu tidak bergeming sama sekali.
Ingruth membuang napas panjang. “Hmh . . . kau masih sama seperti yang aku ingat dulu. Dingin dan tidak bisa diajak bercanda. Serius, Damon, sayang, kau harus lebih rileks. Nikmati dunia. Nikmati hidup—“
Knight menggeram ke arahnya. Itu justru membuat Ingruth tertawa lepas. Orien di belakangnya ikut menggeram, dan kali ini, Ingruth terdiam.
“Kalian tidak mau melukai aku,” katanya dengan seringai bodoh di wajah. “Kalau aku tidak kembali membawa berita kalau aku sudah berhasil memberikan informasi ini, maka—“ dia menunjuk aku tanpa takut. Tanpa memikirkan fakta kalau dia sedang di kelilingi oleh empat serigala mematikan. “—pasangan jiwa kecilmu itu akan lenyap.”
Aku tidak ingat siapa yang bersiap meloncat, menyerang iblis itu. Mungkin Archer sebab aku melihat putih salju sekelebat menderap. Atau mungkin Orien dari belakang, tapi satu detik kemudian aku terjatuh ke bawah dengan sakit yang membutakan mata.
Aku berteriak.
Sejadi – jadinya.
Dan itu cukup membuat Knight mengaung keras dan menghentikan semua kawanannya.
Kepala aku nyaris pecah. Semua tulang di tubuh aku terasa seakan diremuk tanpa belas kasih. Tapi satu detik begitu mereka semua terdiam dan mengambil satu langkah menjauh dari Ingruth, rasa sakit itu hilang.
Begitu saja.
“See?” Ingruth mengedikkan bahu. “Sudah aku bilang. Kalian ingin jawaban? Datang ke tempat yang aku katakan tadi. Damon, kau pasti tahu. Baiklah, sampai di sini saja tugas aku. Jika kalian ada yang ingin ikut aku, boleh saja . . .” Ingruth menoleh ke samping. “Mungkin kau yang berbulu putih? Aku suka sesuatu yang putih.”
Archer meludah ke samping. Iblis itu tertawa. Lalu, dia mundur dan mundur dan mundur. Orien memberikan jalan untuknya, karena dia tidak punya opsi lain. Jika mereka menyerang Ingruth, apa pun yang terjadi pada aku tadi akan kembali.
Aku merasa seperti orang paling lemah di dunia.
Secara perlahan, kabut gelap dan hitam menelan sosok iblis wanita menyeramkan itu. Knight bergetar. Dia berlari ke arah aku.
Dan entah kapan, tiba – tiba sosok serigala hitam itu berubah menjadi Damon Hawkwolf di depan wajah aku.
“Kau baik – baik saja?” tanya dia khawatir. Aku mengangguk. Laki – laki itu mengangkat tubuh aku dan menggendong aku penuh proteksi.
“Damon?” dia tidak menjawab, hanya melihat aku lekat. “Apa yang terjadi antara kau dan iblis itu?”