24
TIDAK PERNAH AKU sangka sebelumnya kalau para laki – laki Hawkwolf itu ternyata bisa bergosip sebegini kuat. Aku pikir mereka itu semua pria macho dan punya hal lebih baik kecuali membicarakan orang, terlebih hanya aku, seorang gadis asing yang baru saja pindah ke rumah besar milik mereka.
Tapi ternyata aku merendahkan skill komunikasi para pria Hawkwolf, dan sekarang aku harus menerima akibatnya. Aku sendiri kala itu tidak memikirkan banyak hal tentang perkara berbicara di depan Orion, Talon, dan yang lain. Aku pikir itu bukan hal besar.
Lagi pula, aku hanya menjawab dengan santai, bukan punya maksud untuk bercerita tentang apa yang aku rasakan dan apa yang aku alami. Pada dasarnya, aku hanya berkata tanpa ada maksud apa – apa.
Jadi, bagi Orion untuk berkata seperti itu pada Damon membuat aku merasa kesal dan jengkel. Baiklah, ternyata tidak ada yang bisa aku percayai di rumah itu kecuali mungkin Cordelia Smith. Untuk gadis cantik bernama Cordelia itu pun, aku tidak yakin dia bisa menyimpan rahasia dari Hunter Hakwolf, pria yang menurut mereka adalah pasangan jiwanya.
Entahlah, aku masih tidak bisa menafsirkan premis perkara pasangan jiwa dan semua makhluk supernatural ini.
Aku rasa bahkan Bella Swan saja tidak sebingung ini. Aku menelan ludah saat Damon menatap aku penuh arti. Aku tahu tidak ada gunanya menyangkal, sebab itu hanya akan membuat aku merasa seperti orang yang bodoh, tapi tidak ada salahnya, kan mencoba?
Saat aku baru akan membuka mulut, Damon sudah lebih dulu mengangkat alisnya dan menggeleng kecil. Senyum tertahan di bibirnya. “Jangan coba – coba menyangkal, Shay. Aku tahu mereka tidak akan pernah bohong padaku.”
Aku mencibir. “Siapa bilang mereka tidak akan pernah bohong padamu? Bagaimana jika aku yang bohong pada mereka?” baiklah, itu terdengar keren. Good job, Shay. Aku menunggu dengan pasti jawaban dari Damon.
“Karena Orion bilang kau mengatakan itu tanpa berpikir panjang,” Damon tersenyum. “Karena aku tahu, aku memang terus memanggil nama kamu di setiap detik. Shay.”
Aku menutup mulut.
Baiklah. Bagus.
Jika aku bertemu dengan Orion, aku akan menghabisi pria itu.
***
WE ARE MATES.
Dia pikir dia siapa? Damon Hawkwolf pikir dia siapa bisa seenaknya memberikan titel seperti itu padaku?
Setelah hal yang dia sebut kencan kemarin, aku tidak bisa mengeluarkan kata – katanya hari itu. Itu berarti kita memang pasangan jiwa, katanya dengan penuh percaya diri.
Cih. Kalau aku bisa mencapai wajahnya yang kelewat tampan itu, mungin aku sudah akan melayangkan tangan dan memukul pipinya.
Enak sekali dia mendeklarasi hal itu, terus dan terus dan terus lagi.
Dan kenapa juga aku lama – kelamaan tidak merasakan rasa kesal dan frustasi yang selalu datang setiap kali laki – laki itu mengungkit masalah pasangan jiwa ini? Malah . . . kenapa sekarang justru aku tersenyum bodoh di depan cermin?
Aku nyaris memukul kaca besar full body di depan aku jika aku tidak punya kesabaran yang tinggi. Saoirse Lee bodoh! Ayo sadar, this is not a dream.
Kau tidak bisa main percaya dan setuju jika ada laki – laki yang main menyatakan klaim dan memberi titel pasangan jiwa, walau pun dia tinggi, tampan, gagah, dan ternyata seorang manusia serigala yang kuat.
Tidak. Fakta kalau manusia serigala itu asli saja sudah cukup berat bagi otak aku yang rusak ini. Apa lagi fakta tentang pasangan jiwa?
Aku tahu aku terus mempermasalahkan hal ini tanpa lelah. Tapi memangnya kalian tidak akan seperti itu? Ini semua terlalu baru bagi aku.
Kalau mereka pikir aku bisa menerima segalanya dengan cepat dan mudah, maka mereka salah. I can’t wait to get out of here . . . tapi kenapa setengah dari bagian hati aku malah berharap pipa air sialan milik Nyonya Smith itu tidak lekas benar?
Sial. Ini pasti gara – gara air terjun indah itu. Panorama itu pasti sudah membuat aku tertipu. Terhipnotis. Termakan dan terbuai oleh keindahan macam begitu. Mungkin Archer, Talon, dan Orien, tiga laki – laki kembar yang bodoh dan lucu itu sengaja membawa aku ke sana.
Aku berdecak di depan cermin, melihat refleksi bayangan aku yang mengenakan kaus besar dan legging hitam yang memeluk kaki aku sempurna. Aku biarkan surai hitam aku terbentang bebas di belakang, dan menggunakan bando berwarna hijau sage favorit aku.
Dengan kaus yang berwarna hijau army dan sepatu lari yang nyaman, aku mengangguk puas.
Aku tinggalkan kamar tidur besar itu dengan niat untuk kembali ke air terjun kemarin. Hipnotis atau bukan, aku ingin melihat pemandangan itu lagi. Aku bersenandung pelan sembari menuruni tangga berputar yang panjang.
Begitu aku sampai di pintu geser samping rumah yang membawa aku ke halaman belakang, langkah aku terhenti, sebab di depan aku, Knight sedang berdiri dengan empat kaki. Tubuhnya yang berbulu hitam tegak dan gagah. Gigi taringnya terlihat mematikan, namun tersembunyi saat melihat aku.
Korteks visual kami bertabrakan.
Serigala hitam itu mendekat.
Aku tidak mundur, tidak takut, tidak ragu – ragu. Aku tahu dia siapa. Dan aku yakin dia tidak akan melakukan apa – apa untuk melukai aku.
***
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya aku pelan. Sekilas, aku mungkin terlihat seperti orang bodoh. Bagaimana tidak? Siapa yang berbicara dengan serigala hitam yang menakutkan seperti ini?
Tapi ini bukan sekedar serigala biasa. Bukan hewan liar di hutan luar sana. Bukan makhluk yang berbahaya dan akan melukai aku. Dia Knight, dan dia juga Damon Hawkwolf. Wow . . . kenapa hidup aku tiba – tiba berputar menjadi sesuatu yang sangat tidak normal begini?
Knight bersengut. Hidungnya seperti mencium – cium udara, lalu dia kembali berjalan ke depan. Saat dia sudah berada di depan aku, serigala hitam itu menunduk. Aku menatapnya dari atas, melihat kepala besarnya yang sanggup melahap aku hidup – hidup turun di depan aku.
Ketika aku tidak tahu harus bagiamana, serigala hitam itu mengeluarkan suara tidak sabar. Erangan dan dengusan kesal terlepas dari mulutnya. Mata aku melebar, tapi tidak lama aku mengerti apa maksudnya.
Kepala serigala hitam itu mendesak aku, hingga aku harus mundur beberapa langkah sebab terkejut. Knight mendusel di bagian depan perut aku, memperlihatkan bagian atas kepalanya.
Apa dia . . . ingin aku usap?
Aku tidak pernah punya peliharaan seumur hidup aku. Tapi aku ingat Tuan Phai di sebelah rumah aku punya anjing Golden Retreiver yang besar. Sesekali aku sering melihat Tuan Phai bermain dengan anjing besar berwarna cokelat itu.
Dan selama aku besar, aku sudah cukup akrab dengan Gugi. Itu nama anjignnya. Setiap aku pulang sekolah, Gugi selalu berlari ke arah aku dan menawarkan kepalanya. Aku akan menggaruk belakang telinganya, mengusap kepalanya dan anjing itu akan berubah menjadi anjing paling bahagia di dunia.
Jadi dengan ragu – ragu, aku mengangkat tangan. Jari – jari aku terasa beku dan canggung, namun secara perlahan permukaan tangan aku menyentuh bulu hitam tebal milik Knight. Serigala hitam itu mengeluarkan bunyi puas.
Suara itu cukup membuat aku semakin berani. Berikutnya, aku segera mengusap kepalanya. Mungkin aku salah, mungkin aku benar, tapi aku berani bersumpah Knight, serigala hitam dan mengerikan yang menggeret seorang iblis jahat dari dalam hutan, mengeluarkan suara pekikan kecil seperti anak anjing, ekornya bergoyang tak karuan, dan dia mendusel ke arah aku.
Baiklah . . . ini terlalu aneh.
Tapi aku tetap mengusapnya. Terus dan terus dan terus sampai aku sadar ini sudah terlalu lama. Aku melepas Knight, dan tersenyum saat dia kembali berdiri tegak dan menatap aku.
“Kau bisa, er . . . berubah dulu?” tanya aku ragu – ragu. “Damon?”
Knight tidak menjawab. Baiklah, aku rasa itu artinya tidak.
Aku mengangguk dan menunjuk ke arah belakang dengan dagu aku. “Okay . . . er, aku akan ke air terjun di belakang. Kau ingat? Aku ke sana kemarin bersama Archer dan Talon dan Orien. Aku ingin ke sana lagi,” jelas aku panjang.
Kenapa aku membuang – buang waktu untuk menjelaskan, entahlah. Tapi aku tidak ingin Damon atau siapa pun cemas mencari aku yang tiba – tiba hilang. Jadi aku menepuk hidungnya, dengan gestur yang cukup afeksi, dan berjalan pergi.
Tapi tidak lama, serigala hitam besar menyundul tangan aku pelan dari belakang. Makhluk masif itu berjalan di samping aku, matanya ke depan seperti seorang ksatria sejati yang melindungi putrinya.
“Kau mau ikut?”
Pertanyaan macam itu? Begitu lah kira – kira arti tatapan mata cokelatnya.
“Ookayy . . .”Aku mengangkat dua tangan. “Kau mau berubah menjadi Damon?”
Kau mau aku ubah menjadi serangga kalau terus bicara? Kira – kira begitu arti dengusan kesal dari hidungnya.
“Baik, baik . . . tidak berubah menjadi Damon. Aku lebih suka Knight,” kata aku sembari mengelus sisi samping tubuhnya. Serigala hitam itu segera mendengkur puas. “Lagi pula, Damon itu sedikit menyebalkan. Dia tidak bisa diam.”
Knight mengdekur lagi.
“Jadi, Knight,” aku menepuk – nepuk dia. “Kalau aku melempar ranting, apa kau akan mengejar dan mengambilnya seperti anjing pintar?”
Knight mendegus dan menatap aku seperti dia sedang menghakimi apa yang baru saja aku katakan. Dengan senyum tanpa bersalah, aku melempar ranting dan mengangkat alis. Knight merenyuk seperti manusia, dan tanpa bisa menahan dirinya sendiri, tubuh serigala itu sudah bergerak dengan sendirinya dan mengambil ranting yang baru saja aku lempar.
Yep. Like a good puppy.
***
“Whoo!” aku berteriak keras, suara aku meresonasi walau pun suara besar air terjun yang jatuh ke danau kecil di bawahnya begitu keras. Sembari bertepuk tangan, aku mengacungkan jari jempol ke arah figur Knight yang sedang belari ke arah aku, membawa ranting di antara gigi nya.
Great, ini lebih menyenangkan. Ini lebih baik dari pada Gugi anjing Golden Retreiever milik Tuan Phai. Knight sudah jelas lebih cepat, lebih kuat, dan lebih pintar.
Aku melompat girang saat dia menjatuhkan ranting di depan kaki aku. Serigala htam itu melirik aku dari bawah bulu mata nya yang tebal.
“That’s amazing!” seru aku berkali – kali. Mungkin lebih dari dua kali. Tiga kali . . . baiklah, aku sudah bermain throw and catch bersama Knight selama satu jam lebih. Kalau serigala hitam itu sudah mulai murka dan muak, dia jelas tidak protes.
Knight duduk, wajahnya datar. Malah, aku pikir, dia terlihat seperti sedang menghakimi aku.
“Okay, okay . . .” kata aku sambil ikut duduk bersial di depannya. Kepala besarnya selevel dengan tubuh aku. “Itu yang terakhir.”
Knight hanya menggoyang kepalanya membuat bulunya beterbangan.
“This is better than having a dog,” seru aku lagi.
Knight mendengus. Muka serigala hitam itu tersinggung, seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat buruk. “Atau tidak. Aku tidak membandingkan kau dengan anjing . . . pfft.” Aku menepuk d**a aku. “Aku jelas lebih memilih serigala.”
Of course you do, arti dari tatapan nya saat ini.
Aku tertawa kecil, melihat dia yang bertingkah dramatis. Sama seperti Damon. Well, secara teknis mereka orang yang sama . . . ‘kan?
Aku tidak mengerti bagaiamna sistem manusia sergiala ini. Aku harus menanyakan hal ini pada mereka nanti. Apa mereka orang yang sama, atau orang yang berbeda? Sebab menurut aku, walau aku tahu ini adalah bentuk lain dari Damon Hawkwolf, tapi Knight terasa seperti orang yang berbeda.
Serigala hitam itu mendengkur, memajukan kepalanya, dan tidak lama kepala besar itu sudah ada di atas pangkuan aku.
“Kau manja, ya?” goda aku bercanda. Knight tidak menjawab. Dia hanya menutup matanya seperti sedang menikmati momen ini.
Jadi aku ikut melakukan itu. Aku biarkan suara air terjun memenuhi sekeliling kami. Aku biarkan sinar matahari yang semakin lama semakin berganti dan menjadi senja mencium kulit kami. Aku biarkan dersik angin menghempas daun – daun, menggoyangkan ranting, dan membuat bulu Knight serta surai aku terbang.
Selama beberapa lama, hanya itu yang terjadi di antar kita berdua.
Aku dan Knight.
Aku dan serigala hitam yang besar.
Aku dan realita baru aku yang sangat aneh ini.
Tidak ada yang menghalangi kita berdua sampai akhirnya aku sesuatu yang tenang itu berubah. Momen kita terputus saat tiba – tiba serigala hitam di atas pangkuan aku itu bergerak. Telinga nya bergoyang, berdiri, seperti mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar.
Aku membeku saat erangan kecil terlepas dari bibirnya. Secara perlahan dia bangun dari atas pangkuan aku. Tubuhnya yang tiduran pelan dan pelan dan pelan naik, seolah tidak mau ada yang mendengar manuver nya itu. Aku pun ikut menahan napas, dan satu tatapn dari Knight membuat aku menggigit bibir.
Diam di tempat. Jangan begerak. Jangan melakuan apa – apa. Knight berdiri empat kaki, telinga berdiri tinggi, mata fokus mencari sesuatu yang belum aku tahu apa. Seluruh tubuh masif serigala hitam itu tegang dan siap, seolah akan menjadi komander di depan garis perang. Dia berdiri, perlahan berputar membalakangi aku, berubah menjadi defensif.
Tubuh besarnya berfungsi sebagai pelindung aku. Dan aku tahu, saat itu, ada sesuatu yang datang bergabung bersama kita. Saat aku bisa melihat kabut hitam yang gelap perlahan muncul dari balik rumput – rumput tebal, dari balik ilalang, dari balik pohon – pohon rindang. Aku tahu saat aku bisa merasakan mereka berjalan ke arah kami, menantang, membawa kerusakan dan kematian.
Aku tahu kabut itu. Aku tahu kenapa Knight berubah menjadi seperti itu. Jadi, dengan keberanian yang tersisa di dalam hati, aku mengintip dari balik tubuh Knight yang penuh waspada.
“Ingruth.”