*** Setelah Linzi masuk kamar dan mengabaikan kakaknya yang masih bersungut-sungut. Tapi dia tidak peduli. Linzi membersihkan tubuh, kemudian duduk di hadapan meja rias miliknya untuk ritual malam. Entah kenapa pria yang dijodohkan dengan dia terasa tidak asing setelah menatapnya lama-lama. Apalagi melihat bahasa tubuh calon tunangannya yang seperti tidak nyaman. Atau lebih tepatnya gugup ketika dia menatap datar. Dia juga bertanya-tanya. Kenapa wangi parfumenya bisa sama dengan cowok bassement yang dia harapkan bertemu lagi. "Sudahlah, lebih baik aku tidur dulu," lirih Linzi sembari beranjak dari duduknya. Sore hari... Tidak terasa waktu cepat berlalu sekarang sudah sore. Saat ini Linzi kedatangan tamu, siapa lagi kalau bukan sahabatnya Debbina. Mereka sedang di kamar setelah Li

