32. Aldo marah

1502 Kata

Skip 9 tahun kemudian *** Setelah mengikat rambutnya asal Arin berniat membangunkan anak-anaknya yang ia yakini masih terlelap di bawah selimut. Apalagi dengan cuaca mendung yang semakin mendukung untuk bermalas-malasan. Kalau bukan mengingat kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu, Arin mungkin tak ingin beranjak dari ranjangnya pagi ini. Kakinya melangkah ke kamar putra pertamanya dan membuka pintu begitu saja karena kalau ia menunggu Arsen bangun dan membukakan pintu, maka mungkin ia akan setengah harian berdiri didepan kamar anaknya itu "Ar bangun, kamu ngga masuk kuliah?" tanya Arin sambil membuka gorden kaca kamar. "Lima menit lagi bun" pinta Arsen dengan suara seraknya, ia menutupi wajahnya dengan selimut saat cahaya mulai menelusup ke matanya. "Sekarang" titah Arin. "Hoaa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN