72

2135 Kata

Devan sampai di kediaman keluarga Johanson, sayup-sayup dia mendengar suara Marlina tertawa, setelah sekian lama baru ini dia mendengar suara Neneknya tertawa begitu bahagia. Dia yakin Sean membuat Neneknya tertawa bahagia seperti sekarang. "Wah yang lagi asyik," ujar Devan. "Tuh Papimu datang Sean." Marlina tersenyum melihat kedatangan Devan. "Papi...," ucap Sean pelan. Devan mendekati Sean, dia memeluk putranya dengan erat. Air mata terjatuh di pipinya, dia sangat bersyukur putranya masih hidup. "Maafkan Papi yang terlambat tahu tentangmu, Sean," ujar Devan dengan lembut. Sean menangis dalam pelukan Devan. Walau dia juga dekat dengan Kevandra, tapi rasanya mengetahui tentang ayah kandungnya tetap berbeda. "Apa kamu marah sama Papi, Nak?" tanya Sean. "Ga Papi, aku ga marah, tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN