SWY- 2

1795 Kata
.Rian. *** Lima belas menit berlalu, Rian masih di belakang kemudi, sudah berhenti  meski mesin mobil di biarkan tetap hidup. Mobilnya berhenti di titik yang mulai akrab belakangan ini dengannya. Pandangan matanya lurus pada sebuah ruko dua lantai yang tidak terlalu besar, toko bercat biru muda dengan desain sederhana. Silih berganti orang-orang masuk dan keluar melalui dua pintu kaca. Di depannya beberapa tanaman dan bunga sedang bermekaran, mengantung menambah cantik toko bernama Nonna Recipes, di depannya itu. Hatinya menghitung mundur, biasanya tidak lama yang di nanti akan muncul. Tapi, hitungannya suda mundur jauh, orang yang di tunggu belum datang. Rian menghela napas, harus menelan kecewa karena saat pintu itu terbuka yang melangkah orang lain. “Keberuntungan sedang nggak berpihak dengan gue rupanya.” Gumamnya, “Baiklah kita coba lain hari.” Rian sudah melihat jam di mobil menunjukkan pukul delapan lewat lima menit, jika dia tidak ada jadwal sidang maka dia akan nekat menunggu lebih lama. Gerakan Rian yang akan melajukan mobil berhenti saat matanya memandang ke tempat lain, dari arah depan seorang wanita yang di tunggu muncul dengan sepeda motor matic. Motornya berhenti di depan toko, memastikan motornya terkunci dia melepas pelindung kepala hingga perlu merapikan sedikit kain berwarna cream yang menutup mahkotanya itu. Dia mengambil beberapa belanjaan yang sebelumnya menggantung di dekat kaki, seseorang yang Rian yakin salah satu karyawan toko mendekat lalu mengambil alih bawaannya itu. Rian menunggu, mengurungkan niat perginya sedikit lebih lama. Menimang tindakan jika langsung turun dan menemui wanita itu, tapi, tindakan itu terlalu akan mengejutkan dan terlihat tidak sabar. Bukannya malah bisa membuatnya dekat, bisa-bisa wanita itu menjauh dan takut padanya. Rian harus bersabar dan mencari waktu yang pas untuk kemunculan dan awal perkenalan mereka. Jadi, Rian bergeming di dalam mobil. Dia pikir wanita itu akan masuk ke toko. Rian setia memerhatikan gerak-gerik, tatapan mata wanita itu ke bahu jalan, lalu dia melangkah pasti ke sisi jalan dekat penyeberangan. Dia menghampiri seorang nenek tua, terlihat akrab dengannya saat dia bersalaman dan nenek itu tersenyum hangat, tidak hanya di situ dia membantu nenek itu menyeberang hingga selamat lalu dia kembali ke depan toko. Rian tersenyum melihat semua perbuatan manis dan baiknya, sejauh ini penilaian Rian tidak salah. Meski katanya, hijab dan akhlak adalah dua hal berbeda, tidak bisa di kaitkan menjadi satu jika salah satunya belum baik. Tapi, wanita yang menarik dirinya hingga bertindak sejauh ini sampai jadi pengintai, Rian yakin kedua hal itu melekat padanya. Sepertinya wanita itu menyadari jika sedang di perhatikan sejak tadi, karena tahu-tahu dia berhenti di depan pintu dan menatap ke arah mobilnya. Cukup lama, dan terlihat berpikir. Rian bisa bernapas lega saat dia memilih masuk ke dalam toko. Hanya Yulia Romeesa yang bisa membuat seorang Rian Hermawan bertindak di luar batas kebiasaan seperti ini, jika biasanya ketika dia sudah suka pada seorang wanita tidak perlu berhati-hati dan ragu seperti sekarang. Namun, Lia sungguh berbeda dan Rian merasa ada sesuatu yang spesial tidak di temukan pada ketertarikan wanita lainnya. Yah, walau dia bertemu Lia tidak sengaja saat sedang bersama sahabatnya, Tara. Tanpa sepengetahuan siapa pun dengan kuasanya, Rian bisa mendapat banyak informasi tentang Lia. Wanita pemilik toko kue tradisional sederhana, wanita berhijab dan suka berpakaian longgar dengan warna kalem. Hari ini cukup untuknya, Rian melajukan mobil dan pergi dari sana. Dia pasti akan kembali tapi tidak secara diam-diam seperti sekarang. *** “Rian, coba lo pelajari kasus ini.” Sahabat sekaligus rekan kerjanya, Artara Rashid muncul di ruangannya. Rian menerima berkas-berkas salinan yang di berikan oleh Tara, tidak langsung pergi lelaki itu duduk di kursi depannya, meja membatasinya. “Kenapa lo?” tanya Rian memerhatikan Tara yang terlihat banyak pikiran. Tara mengedikan bahu acuh, bukan rahasia jika sahabatnya itu tidak suka berbagi cerita pribadinya. Tara sudah dengar soal perjodohannya dengan salah satu anak politisi terkenal, wanita itu seorang violis muda dan hebat. Beberapa kali pertemuan tidak sengaja membuat Rian tidak percaya bahwa kisah drama percintaan seperti itu benar ada. Tara yang belum move on dari luka masa lalu setelah istri pertama meninggal lalu orang tuanya coba mengobati lukanya dengan perjodohan ini. Tara tidak bisa berkutik. Rian bersyukur, meski usianya sudah kepala tiga, Melinda, ibunya hanya menuntut dengan ucapan segera di bawakan menantu, bukan tindakan kolot yang langsung menjodohkan tanpa persetujuan Rian. Dulu, Rian pernah mengajukan perjodohan pun pada wanita yang di sukainya, Tyas Larasati, adik dari Tara. Sayang, dia kalah cepat, dan Rivalnya terlalu kuat hingga Rian pilih mundur. Saat itulah, Rian paham arti dari sebuah makna bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki dan bersama. Setelah itu Rian tidak pernah serius menjalin hubungan dengan wanita mana pun. “Bukan hal penting.” Jawab Tara, see Rian sudah menduga. Lalu mereka lebih fokus membahas kasus terbaru yang akan di kerjakan. Firma hukum tempatnya bergabung ini milik Adam Rashid, yang tidak lain orang tua Tara. sebentar lagi, Rian tahu jika Tara di beri waktu satu tahun sebelum menggantikan ayahnya. Selesai membahas point-point pentingnya, waktu sudah masuk makan siang. “Lunch di luar?” ajak Rian makan siang bersama. Tara menggeleng, “lain kali aja, gue ada janji sama Mami.” Rian tahu persiapan pertunangan Tara dan Rei sudah berjalan. Tara berdiri, dia menyesap kopi yang sengaja di pesan tadi hingga tandas. “Tara, gue mau tanya sesuatu.” “Hm, soal apa?” Rian ingin sekali bertanya soal Lia, setidaknya Tara mengenalnya lebih dulu di banding Rian. “Temannya, Tyas yang pernah ketemu kita.” Tara mengerutkan kening, coba mengingat siapa yang di maksud Rian. Kemudian dia mengingatnya dan langsung terkekeh. “Yulia?” “Iya.” Tara terkekeh, “Cari wanita lain aja, Rian. Apa lagi kalau cuman mau main-main.” Ujarnya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu ruangan Rian. “lo salah, Tara. Gue jelas nggak main-main kali ini.” monolognya. *** Menjadi anak satu-satunya, Rian tidak tega meski ingin hidup mandiri di apartemen. Dia masih tinggal bersama orang tuanya. meski, rumah besar keluarga Hermawan hanya memberi Rian sebuah kesunyian, Rama, papanya selalu ada perjalanan bisnis dari satu tempat ke tempat lain. Rian bisa menghitung pertemuan mereka, dan itu sangat kaku. Ibunya, Melinda, di usianya mulai merasa sepi jadi mencari kegiatan lain di luar rumah. Mulai bisnis perhiasan dan sudah punya beberapa toko di kota besar sampai Singapura. Hingga ikuti berbagai pertemanan dengan sesama wanita sosialita seperti dirinya. Rian mendukung hal positif ibunya, dari pada terus menuntut cucu darinya. Usianya sudah tiga puluh empat tahun, sangat siap untuk berumah tangga. Tapi, Rian belum menemukan wanita yang bisa membuatnya memikirkan komitmen sebesar pernikahan. Sepi, sunyi, semua dia rasakan meski segala hal materi di miliki. Dia keluar kamar dengan pakaian santai, Sabtu pagi Rian baru selesai mandi setelah berlari di treadmil, salah satu fasilitas gym di rumah ini. Kamar Rian punya bangunan khusus berada di belakang rumah utama. Ada jalan setapak yang di tata apik, di sisi ada kolam renang besar. Dua pekerja rumah sedang membersihkan kolam menyapa sopan pada dirinya. Rian masuk ke rumah utama menuju ruang makan. Kursi-kursi berjajar kosong, Rian duduk di kursi paling ujung seperti biasa, salah satu pekerja langsung mendekat tanpa di minta mulai menyajikan makanan Rian. Kehidupannya benar-benar gambaran seorang pangeran di masa sekarang. Makanan lezat, tapi terasa hambar karena Rian bosan dengan suasana seperti ini. Langkah kaki mendekat terdengar jadi harapan Rian, jika Sabtu ini bisa sarapan pagi bersama salah satu orang tuanya. Melinda, ibunya terlihat sudah rapi. Tapi, Rian tersenyum saat wanita paruh baya itu menarik kursi di dekatnya dan bergabung. “Morning, Rian.” Sapanya hangat, ibunya sangat cantik pantas bisa memenangkan hati Rama Hermawan. Melinda pernah jadi artis terkenal di eranya sebelum vakum beberapa tahun belakangan ini dan fokus pada bisnis perhiasan. “Pagi, Mam.” “Semalam Tara datang ke toko lho, nak. sama Rei, buat pilih perhiasan tunangan mereka.” beritahu Melinda. Ibunya ikut sarapan bersamanya. “Tara tahu dong Mamah punya bisnis perhiasan?” “Iya, dia juga terkejut. Kamu nggak pernah cerita katanya.” Rian tidak suka berbagi cerita bisnis-bisnis orang tuanya, Melinda tahu jelas itu. “Tanpa aku cerita, Tara sudah tahu juga sekarang.” tanggapnya, Melinda tersenyum pada putra semata wayangnya itu. “Papa, belum pulang Ma?” “Nanti sore sampai Jakarta.” Rian tidak hafal jadwal orang tuanya sebanyak apa. bahkan, Rian lupa rasanya sarapan bersama dengan ayahnya itu. Di tambah hubungan kurang harmonis setelah Rian menentang jalur masa depan pintas di berikan Ayahnya. Dia menjadi Lawyer dari pada meneruskan bisnis keluarga. “Rian, lihat deh kayaknya enak ini.” Mamanya sejak tadi fokus pada ponsel di tangan, Rian pikir sedang membaca email atau pesan penting. Tahunya, Melinda sedang melihat-lihat Foto kue-kue tradisional. “Apa, Ma?” “Duh, Mama sudah lama sekali nggak makan kue tradisional ini. Kue mangkuk, lumpur, dadar gulung.” Rian melihat gambar-gambar tersebut. Ibunya memang aktif di media sosial untuk promosikan bisnis perhiasannya. Rian awalnya menanggapi biasa saja, tapi dia langsung dapat ide saat lihat nama toko yang dipromosikan oleh akun kuliner tersebut. “Mama mau kue seperti itu?” Anggukan Melinda jadi kunci awal sebagai akses Rian muncul di depan Lia, memperkenalkan diri tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi. *** Seperti dugaannya Lia bersikap dingin, dan tidak mudah menerima kemunculan Rian. Tapi, Rian selalu punya alasan untuk muncul di tokonya sebagai pembeli. Seperti siang ini, meja paling sudut selalu jadi pilihan Rian. Sudah hampir satu jam tapi, Lia belum muncul. Rian sudah mencari tahu jika Lia sedang keluar. Seorang wanita sempat memperhatikan dia, sebelum masuk ke ruang pribadi dan kantornya Lia. Rian yang sudah mencari tahu semua info tentang Lia, tahu bahwa wanita yang bersama dua anak-anak itu salah satu sahabat baik Lia. Wanita itu tidak menghampiri, karena memang mereka tidak saling mengenal tapi tatapan menyelidik pasti menimbulkan beragam tanya soal kehadirannya. Sialnya, teman Lia yang melihatnya itu juga teman Tyas. Pasti tahu hubungan yang sempat akan di mulai Rian dengan Tyas waktu itu. Satu gelas kopi sudah habis, Rian memesan beberapa kue tradisional untuk Melinda. Setelah pertama kali di bawakan, kue-kue di sini jadi favorit ibunya. Sebentar lagi pemiliknya akan jadi calon menantu favorit, Mama. Batin Rian. Sayang untuk mewujudkan itu Rian butuh perjuangan yang keras karena Lia benar-benar berbeda dengan wanita yang biasa dia dekati. Rian menghela napas panjang, dia menunduk sudah terlalu lama di sini. Lia mungkin tidak kembali. lalu Rian bangkit dan melangkah keluar. Dia menarik pintu, tepat di depannya orang yang sejak tadi di tunggu muncul. Rian langsung tersenyum lebar berbanding dengan Lia yang terkejut.  “Assalamualaikum, Lia.” Rian tahu Lia belum bisa menerima kehadirannya dengan mudah. “Waalaikumsallam, Ka Rian.” Dia tetap menjawab dengan suaranya yang selembut wajahnya. Rian tahu Yulia kurang nyaman dengan kehadirannya, Tapi, Rian akan membuat perlahan tapi pasti Jika Lia akan menerimanya setelah berhasil membuat Rian penasaran. Rian yakin ini bukan hanya rasa penasaran biasa tapi, mungkin satu tanda dia telah menemukan someone special yang selama ini di carinya. [to be continued]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN