Lunar memegangi bahu itu dengan kuat sambil menahan desahan yang tidak boleh lepas sepenuhnya. Dia yang selalu terbuai dengan sentuhan lembut Arkan tidak bisa menolak. Padahal, seharusnya mereka berada di bawah bersama sang ibu, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kamar? Lunar berusaha menyeimbangkan akal sehatnya kembali. "Ibu menunggu," ucapnya, menahan kenikmatan yang menjalar di setiap jengkal jiwanya. Arkan berhenti sebentar untuk melihat wanita yang sudah dipenuhi keringat itu berbaring di bawahnya. "Kalau begitu, apa kau ingin kita berhenti?" Dia menyeringai sambil menyentuh paha yang terbuka lebar itu. Lunar menggigit bibir dalamnya mengartikan keraguan. Di harus menemui ibu, tetapi di sisi lain sulit meninggalkan kenikmatan yang telah membuatnya tidak ingin beranjak terlalu

