Bab 83. Cemburu?

1932 Kata

Aroma nasi goreng yang gurih memenuhi dapur kering. Wajan sudah diturunkan dari kompor, api dimatikan, dan Alea menghela napas kecil—bukan karena lelah, tapi karena ritme pagi ini terasa… ganjil. Hangat, ramai, terlalu domestik untuk situasi yang seharusnya masih canggung. Ia mengambil beberapa piring dari rak, menyusunnya rapi di atas meja dapur. Gerakannya cekatan, terbiasa. Seolah dapur ini memang wilayahnya sejak lama. Prita yang sejak tadi berdiri agak ke samping, segera bergerak cepat begitu melihat Alea mengambil spatula. “Biar saya bantu, Mbak,” ujarnya sigap, senyum ramah tersungging. Tanpa menunggu jawaban, Prita langsung mengambil sendok besar dan membantu menuangkan nasi goreng ke piring. Gerakannya gesit, berusaha terlihat cekatan—bahkan sedikit berlebihan. Ia mencondongka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN