Melihat mata indah itu telah menutup perlahan-lahan, Kean terhenyak. Ia terlihat linglung dan bingung. Tatapannya kosong, dan hanya bisa diam melihat petugas mulai membawa tubuh Rea. Laki-laki itu merasa seolah kewarasannya ikut melayang saat ini. Shock? Jelas. Dugaan yang masih ia pikirkan akan kebenarannya, kini terjawab sudah. Dan ia tahu saat semuanya sudah terlambat. Apakah ini hukuman Tuhan untuknya? Atas apa yang sering kali ia sampaikan pada Rea. Bahwa ia tidak ingin memiliki anak. Dan sekarang, sepertinya kenyataan itu benar terjadi kepadanya. Beberapa lama kemudian. Seorang laki-laki dengan pakaian yang penuh dengan bercak darah Rea. Penampilannya saat ini jauh dari Kean yang biasanya sangat menjaga kebersihan semuanya. Ia terlihat duduk di depan ruang operasi. Menekuk k

