Rea menangkup kedua pipi Mike dan menatap dalam sorot mata Mike yang seolah sanggup menghanyutkannya. Dengan senyuman yang manis tak lupa ia sematkan di wajahnya yang cantik.
“Gue nggak akan kemana-mana, kecuali lo sendiri yang minta gue pergi. Kita sama-sama belajar untuk mengenal satu sama lainnya. Mengenal sifat-sifatnya Okey?” tegas Rea dengan raut seriusnya.
Mike menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan Rea. Meskipun ia bukan tipe orang yang suka dengan hal-hal seperti ini.
Karena Mike lebih suka to the point, tanpa berbelit seperti ini. Akan tetapi, demi Rea, ia akan mengikuti apa yang gadis tersebut inginkan.
“Baiklah. Asalkan, lo yang minta, gue setuju aja, sih,” sahut Mike sembari tersenyum.
Keduanya berpelukan sejenak, lalu Rea turun dari mobil dan melambaikan tangannya saat mobil Mike pergi menjauh.
Rea masuk ke dalam rumahnya. Bergegas menuju ke loteng, tempatnya menumpahkan segala hal yang ia rasakan selama ini. Seakan-akan ada seseorang yang selalu setia mendengarkan setiap keluh kesahnya setiap harinya.
Senyumannya tak pudar, sejak kepulangannya bersama Mike tadi. Rea duduk di samping jendela yang menampilkan pemandangan malam hari. Sembari memeluk boneka kesayangannya ia tergelak, mengingat apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Mike.
Di mana laki-laki tersebut secara langsung menyatakan perasaannya kepada Rea. Dan mengajaknya untuk berpacaran.
Namun, keraguan itu mengganjal hatinya. Hingga ia meminta Mike untuk terlebih dahulu saling mengenal satu sama lainnya.
Sebab keduanya juga belum lama saling mengenal satu sama lain. Bahkan tak terlalu sering pula perdebatan di antara mereka terjadi.
“Bony, apa Mike serius dengan ucapannya?” tanya Rea kepada boneka beruang berwarna cokelat yang ia beri nama ‘Bony’ sejak masih kecil hingga ia beranjak dewasa, Bony yang tak pernah ia lupakan.
Karena Bony adalah boneka yang memiliki banyak kenangan bersamanya. Tak mungkin Rea bisa melupakannya begitu saja. Terlebih lagi kenangan terakhir saat bersamanya.
“Semoga saja, dia tidak membuatku kecewa. Iya kan, Bony? Aku harap begitu,” harapnya seraya memeluk erat Bony.
####
Sejak saat itu, hubungan antara Mike dan Rea terjalin dengan baik. Pertemuan mereka pun sangat intens terjadi.
Kadang kala, Rea yang menyempatkan datang ke studio Mike. Jika laki-laki tersebut sibuk dengan jadwal pemotretannya.
Tak jarang pula, Mike yang datang dan menginap di rumah Rea. Atau pun sebaliknya. Rea yang menginap di studio Mike.
Tak ada hal lebih yang terjadi selama waktu kurang lebih tiga bulan lamanya mereka menjadi lebih dekat.
Mike benar-benar memperlihatkan sosoknya yang berbeda di depan Rea. Sikapnya yang penyayang, dan penuh perhatian.
Nyatanya sanggup membuat Rea terbuai. Mike mampu meyakinkan keraguan Rea, bahwa ia adalah laki-laki yang tepat untuknya.
Laki-laki yang sanggup melindungi dan mengasihinya melebihi siapa pun. Bahkan kedua orang tuanya sekalipun.
Itulah kebaikan Mike menurut Rea selama ini. Dari yang ia lihat dan rasakan. Dan yakin jika laki-laki bule tersebut telah jatuh cinta padanya. Serta mengajaknya untuk berkomitmen dalam hubungan sepasang kekasih.
Rea hanya tinggal menunggu momen yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada Mike. Bahwa ia juga jatuh cinta pada laki-laki bule yang sialnya tampan itu.
Malam ini, Rea mengenakan dress yang ia beli di mall dengan harga diskon. Entah apa sebabnya dulu ia membeli dress tersebut. Meski tahu bahwasanya ia tak pernah sekalipun mengenakannya.
Karena yang Rea lakukan, hanya menyibukkan dirinya dengan bekerja dan bekerja. Tak ada hal lainnya. Serta mengunjungi berbagai tempat wisata yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
Melakukan hal-hal yang dulunya sangat di larang oleh kedua orang tuanya. Dan setelah ia bisa tinggal dan hidup sendiri. Ia bebas melakukannya. Walaupun bukan hal yang mengarah kepada menyakiti diri sendiri.
Itu juga termasuk salah satu saran yang dokter pribadinya katakan. Yakni membahagiakan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Rea telah siap dengan dress tanpa lengan yang panjangnya sebatas lutut berwarna hitam. Simpel dan sederhana memang. Mengingat harganya yang tidak mahal.
Namun, akan lain ceritanya jika yang memakai adalah perempuan secantik Rea. Tubuhnya yang proporsional dan selalu ia tutupi dengan kemeja dan celana jeans. Tak memperlihatkan keindahan tubuhnya.
Kini, dengan dress yang ia kenakan malam ini. Setiap lekuk tubuhnya yang seksi dan indah. Sudah mampu membuat mata Mike tak bisa berkedip sedikit pun.
Bahkan ekspresi wajahnya yang terpesona akan kecantikan Rea malam ini. Meski hanya dengan make up natural. Mampu membuat dirinya terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Mike berdehem sejenak untuk mengurangi rasa dalam dirinya yang mengaung, meminta pelepasannya saat ini juga. Bagaimana pun, Mike bukan laki-laki polos yang tidak tahu ada barang sebagus ini sebelumnya.
“Lo, cantik banget, Re, malam ini,” puji Mike sambil tersenyum dan menghampiri Rea yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Rea hanya tersipu malu, mendengar pujian Mike. Kedua tangannya di genggam oleh Mike yang kini sudah berdiri di hadapannya.
“Rasanya gue nggak rela bawa Lo keluar malam ini?” keluh Mike dengan nada menyesal.
Rea mengerutkan keningnya, tak tahu apa maksud dari perkataan Mike barusan. “Kok gitu? Ya, sia-sia dong, gue udah dandan segala begini?” gerutu Rea kesal.
Melihat wajah merajuk Rea yang lucu menurutnya, Mike tergelak. “Iya, dong. Lo sia-sia dandan secantik ini supaya bisa di lihat sama banyak orang. Seharusnya itu, Lo dandan cantik hanya di depan gue aja, tahu?” jelas Mike sambil mencubit hidung Rea yang mancung.
Rea memutar bola matanya, “Hadeh, kirain kenapa? Dasar Lo playboy cap kardus! Emang paling pinter deh, bikin hati para cewek deg-degan,” balas Rea seraya mencubit kedua pipi Mike gemas.
“Sakit, Re,” Mike memegangi kedua pipinya, bekas cubitan Rea. Lantas sedikit memajukan wajahnya ke arah Rea yang terdiam di tempatnya.
“Memangnya, Lo nggak berdebar, gitu?” tanya Mike dengan wajah seriusnya.
Rea tertegun sesaat, setelahnya memilih untuk beranjak pergi dari hadapan Mike. “Nggak tuh, biasa aja,” sahutnya sambil melangkah keluar dari rumah.
Meninggalkan Mike yang tersenyum sembari menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat tingkah Rea yang lucu.
Rea memegangi kedua pipinya yang terasa panas saat ini. Ia yakin jika pipinya pasti memerah sekarang.
“Dasar bodoh! Mana mungkin gue nggak berdebar? Memangnya gue bukan perempuan, gitu? Mentang-mentang gue selalu tampil tomboi, huh, dasar nyebelin!” gerundel Rea seraya berjalan menuju ke mobil.
Mike yang berjalan di belakangnya, mendengar semua kata-kata yang Rea lontarkan, hanya bisa terkekeh pelan.
Benar kan, tingkahnya pasti sanggup membuat Mike tertawa. “Dasar gadis unik!” gumam Mike sambil mengunci pintu rumah Rea dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Dilihatnya wajah Rea yang kali ini tengah cemberut, sambil menatap ke luar jendela. “Kalau ngambek, kita mending batal aja deh, makan malamnya,” ujar Mike sambil menoleh ke arah Rea.
Rea sontak saja menengok ke arah Mike, ingin memprotes ucapan laki-laki bule yang menyebalkan tersebut.
Tapi,
Cup
Satu kecupan singkat di bibirnya, Rea dapatkan begitu wajahnya menoleh ke arah Mike.
Melihat raut terkejut Rea, Mike terkekeh geli dan mulai menjalankan mobilnya, menuju ke tempat makan malam romantis yang gadis di sebelahnya ini pinta.
“Mike!” teriak Rea nyaring setelah sadar bahwa ia hanya di kerjai oleh Mike.