Bab 28. Gadis bergaun Maroon

1199 Kata
Nico, Rea dan Bu Naima berangkat ke Bogor dengan mobil Nico. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sekitar satu sampai satu setengah jam. Mereka tiba di sebuah rumah mewah yang telah di hias dengan sangat indah nan megah. Para tamu undangan tampaknya mulai berdatangan. Dilihat dari ramainya orang-orang berlalu-lalang di rumah Intan. Nico mengirimkan pesan pada Intan agar menjemputnya di pintu utama. Tak lama kemudian, sosok wanita cantik datang menghampiri Nico dan Mamanya serta Rea. “Hai, sayang? Sudah lama nunggunya?” sapa Intan yang langsung memeluk lengan Nico manja. Intan lalu memeluk Bu Naima dan cipika-cipiki dengan senyum bahagianya. “Apa kabar, Ma?” sapanya sopan pada calon mertuanya tersebut. “Sayang, lihat siapa yang datang bersamaku?” ujar Nico yang memperlihatkan Rea dengan gaun berwarna maroon sebatas lututnya. “Ini siapa? Rea? Ini Rea kan, sayang?” tanya Intan yang menoleh ke arah Nico yang berdiri di belakangnya. Meminta jawaban atas dugaannya. Nico mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia terkekeh melihat tatapan tajam Rea kepadanya. “Ya, ampun! Aku kira kamu bohong pas bilang mau bawa Rea. Ngga tahunya beneran? Kamu cantik banget lho, Re!” puji Intan yang langsung memeluk Rea dengan riang. Intan memang menyukai Rea dan menganggapnya sebagai adik sendiri. Intan juga tahu sejarah Rea yang pernah menolong nyawa Nico dulunya. “Nggaklah, mana ada! Kakak tuh, yang cantik banget hari ini. Minta kak Nico segera halalin tuh, kak!” goda Rea sambil memeletkah lidahnya saat mendapatkan tatapan tajam dari Nico. Intan dan Bu Naima hanya terkekeh melihat tingkah keduanya. “Iya, gantian sama kakak aku dulu. Iya kan, sayang?” sahut Intan meminta dukungan dari Nico. Pria tersebut hanya bisa mengangguk. “Kalau kak Nico bohong, panggil Ibu saja kak, biar di jewer dia,” celoteh Rea sambil terkikik. Akhirnya Intan mengajak Nico, Bu Naima dan Rea untuk masuk dan menemui keluarganya juga mempelai pengantinnya. Memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantinnya. Setelahnya, Rea pamit ke toilet. Sebab, tidak ingin mengganggu acara keluarga Intan dan Nico. Rea memilih untuk membawa beberapa kue dan segelas soda ke taman belakang. Sepertinya itu adalah tempat yang sempurna untuk menikmati camilan yang ia bawa. “Sepertinya di sini sepi,” gumam Rea yang duduk di kursi panjang. Meletakkan piringnya yang berisi aneka macam kue manis dan segelas minuman bersoda berwarna merah. “Ah, nyamannya! Hidup seperti ini memang melegakan dan terasa damai,” monolog Rea sambil merentangkan kedua tangannya sembari memejamkan matanya. Rea lalu menikmati kuenya sambil melihat keindahan taman bunga yang berada di hadapannya. Bermacam-macam jenis bunga yang di tanam di rumah Intan. Dan Rea memang sangat menyukai bunga. Apa pun jenisnya, terlebih lagi yang bisa mengeluarkan aroma yang wangi. Kue Rea masih tersisa di piringnya, tapi sepertinya ia sudah kenyang. Setelah meminum minumannya, Rea bangkit berdiri dan berjalan perlahan di antara bunga-bunga berwarna-warni yang tengah bermekaran. Rea menghirup satu persatu bunga yang ada di taman ini. Memastikan bunga mana yang wanginya enak untuk di hirup. Gadis tersebut bahkan menari-nari diantara bunga-bunga tersebut. Seolah ia tengah berada di hamparan bunga-bunga yang berwarna-warni. Hal tersebut rupanya mengundang gelak tawa seseorang yang ternyata mengamatinya dari jauh, di balik jendela rumah mewah tersebut. Ya, dia adalah Kean yang tidak mengira jika gadis yang ia tertawakan adalah orang yang ia cari. Sebab Kean hanya bisa bagian belakang gadis tersebut. Gadis yang ia tertawakan karena tingkahnya yang menurutnya konyol dan kekanakan tersebut. Kean berada di pesta ini karena ajakan Andre. Intan adalah sepupu Andre dan sahabatnya itu menculiknya dari apartemen hanya untuk menghadiri pernikahan sepupunya yang tak lain adalah kakak Intan. Kean masih saja terus mengawasi tingkah lucu Rea. Hingga sebuah tepukan di pundaknya, membuatnya menoleh sekilas. “Lo lagi lihatin apa, sih? Sampai ketawa sendiri begitu! Horor tau,” cibir Andre seraya bergidik ngeri melihat Kean tersenyum sendirian sambil melihat jendela. “Gue nggak kesurupan, yah! Sembarangan aja, lo,” sungut Kean kesal. “Ya, terus lo lagi ngetawain apaan?” desak Andre yang penasaran apa gerangan hal yang bisa membuat sahabatnya tersenyum seperti ini. “Itu, lho. Ada gadis kocak banget! Lo lihat deh. Lucu dia,” jelas Kean yang mempersilahkan Andre untuk melihat tingkah konyol seorang gadis menurut Kean. Andre yang penasaran mendekat ke arah jendela dan mencari sosok yang Kean maksud barusan. Tapi gagal, Andre tidak bisa melihat Rea. “Mana? Nggak ada siapa-siapa kok di taman,” kesal Andre yang merasa di kerja in oleh Kean. Kean ikut melongok ke jendela. Benar saja, gadis tadi entah menghilang kemana. “Eh? Iya, nggak ada. Tapi tadi ada kok, masa cepet banget jalannya,” pungkas Kean yang juga heran melihat gadis tersebut telah pergi dari taman. “Lo salah lihat paling?” tuduh Andre sebal. “Mata gue masih normal, Dre! Ya, kali gue salah lihat. Orang cewek itu pakai gaun maroon kok, rambutnya panjang sepunggung,” sangkal Kean yang tak terima dibilang salah dalam mengenali seseorang. Kean yakin sekali, Jika itu adalah seorang gadis. Di lihat dari gaun dan rambutnya. Namun, jika salah, pastinya tidak akan mungkin. Karena ia tidak mabuk saat ini. Dan lagi, matanya juga masih berfungsi dengan baik. Kean masih terus mencari ke sekeliling taman. Tempat di mana gadis aneh tersebut berada. “Sudahlah. Nggak usah Lo cari lagi. Lo pasti lagi berhalusinasi, kan? Segitunya Lo ke Amanda? Sampai mikir dia ada disini,” cibir Andre yang pergi meninggalkan Kean dengan wajah kesalnya. “Kenapa Amanda? Siapa juga yang mikirin itu cewek? Hhh, dia selalu menuduh Amanda seenaknya. Tapi kemana gadis itu?” Monolog Kean yang masih terus melihat ke arah taman. Penasaran dengan hilangnya gadis tersebut. Kean ingin memastikannya langsung. Bahwa ia benar-benar melihat seorang gadis tadi, bukan halusinasi. Seperti tuduhan Andre. Kean segera menuruni tangga dan berbelok ke arah pintu menuju ke taman. Laki-laki tersebut bergegas menuju ke taman yang berada di belakang rumah Intan. Matanya yang tajam, menelisik ke seluruh penjuru. Berharap bisa bertemu dengan gadis itu. Tapi gagal. Dan benar saja, tidak ada siapa pun di sini. Kean berbalik dan akan masuk kembali ke rumah. Sebelum ia mendengar sebuah suara yang lembut dan terdengar merdu. Kean mengikuti kemana asal suara tersebut berada. Benar saja, itu adalah suara Rea yang sedang berjongkok di sebelah kursi yang tadinya ia duduki. Rea terlihat membelakangi Kean, yang berdiri di balik pohon. Mengamatinya dari jarak lumayan jauh. Namun masih bisa mendengar kata-kata yang gadis itu ucapkan. “Kucing, kamu pasti kesepian, yah? Sama. Aku juga hidup sendirian selama ini. Apa-apa sendiri. Tapi, ada atau tidaknya mereka, juga sama saja bagiku. Nggak ada bedanya,” ujar Rea yang tak tahu jika ada yang mendengarnya berbicara kepada seekor kucing yang ia temui di taman ini. Sementara Kean menahan tawanya, melihat gadis sedang mengobrol dengan seekor kucing yang saat ini tengah asyik menikmati kue di piringnya. “Bagaimana kalau kamu ikut aku saja pulang? Tapi apa boleh yah?” tanya Rea kembali seraya mengusap lembut kucing di depannya ini. Getar di saku celananya, membuat Kean mengambil ponselnya dan mendengus kesal. Lalu pergi menjauh dari tempatnya bersembunyi. Dan menjawab panggilan telepon dari Amanda. “Kalau saja, Papa dan Mama nggak memaksakan kehendaknya padaku. Aku juga nggak akan kabur,” gumam Rea dengan tatapan sendunya. Teringat kembali dengan kenangannya sebelum memutuskan untuk pergi dan hidup mandiri. Tanpa sepeser pun uang dari orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN