Hening. Keduanya sama-sama terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Rea menghembuskan napasnya panjang. Lalu mendongak, mengusap lembut sisi wajah suaminya. “Sayang, kamu tahu, ‘kan, kalau mama dan mami yang paling antusias dan terang-terangan menginginkan seorang cucu dari kita. Apa kamu nggak mau mewujudkan keinginan mereka?” tanyanya dengan hati-hati. Takut jika laki-laki tersebut marah. Kean terdiam sejenak dan menghela napasnya. “Please! Aku capek dan baru pulang. Bisa nggak kita bahas lain kali saja? Aku pulang lebih cepat karena kangen sama kamu, tapi kamu malah membahas hal yang buat kita bertengkar seperti ini,” keluhnya dengan nada sedikit tinggi. Kean turun dari ranjang dan keluar kamar sambil membanting pintunya. Membuat Rea hanya bisa menangis terisak-isak di ata

