Kaki Agatha rasanya tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa merasakan kakinya lagi saat melihat rumahnya ramai oleh orang-orang yang datang untuk melihat ayahnya untuk terakhir kalinya. Sepanjang perjalanan menuju Bandung, Agatha masih berharap bahwa apa yang terjadi hanya mimpi. Ayahnya tidak mungkin meningalkannya begitu saja. Ia bahkan belum banyak memiliki waktu bersama beberapa waktu belakangan ini. Tapi setelah melihat jasad ayahnya yang sudah ditutupi kain membuat Agatha seolah tidak punya harapan lagi. Ayahnya benar-benar sudah pergi. Ratih langsung menyambut kedatangan putrinya yang begitu kacau itu. Ia sudah bisa menduga bahwa Agatha akan sangat terpukul karena kepergian ayahnya. Ratih sejujurnya juga sangat terpukul, bahkan mungkin lebih terpukul lagi karena

