Niken terduduk di kursi roda menikmati pancaran matahari pagi. Tangannya menyentuh gemericik air mancur yang ada di depannya. Dia merenung meratapi nasib yang kini kembali dia terima. Bibir pucatnya dan mata yang sayu menambah haru pada setiap orang yang memandangnya. Kehilangan janin membuat dia begitu terpukul dan tak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga buah hatinya. "Maafkan mama ya sayang karena mama tak bisa menjagamu di dalam kandungan mama. Mama menyesal sayang. Mama akan selalu mendoakan kamu agar kamu selalu bahagia disana." Kata Niken sambil mengusap perutnya. "Niken!" Suara seseorang dibelakang Niken membuyarkan lamunannya kali ini. Niken hafal betul suara siapa yang memanggilnya. Namun dia enggan untuk menoleh kebelakang. Rasa sakit hati dan

