Chapter. 03

1092 Kata
Happy Reading ....... Pagi hari nya Aya dengan semangat menyiapkan keperluan nya untuk melamar pekerjaan, tadi malam Mbak Elva pulang pukul 2 dini hari Ayana hampir tidak mendengar ketukan pintu yang di lakukan oleh Mbak Elva. "Semoga berhasil Ay, Mbak juga mau berangkat ke tempat kerja dulu ada yang mau Mbak urus." Kata Elva, Aku menatap Mbak Elva sangat terlihat jika dia sedang kelelahan namun Mbak Elva berusaha untuk tidak memperlihatkan nya. "Hati-hati ya mbak." Kami berdua berpisah di depan gang, aku mencari angkot untuk dapat sampai ke cafe tempat ku ingin melamar pekerjaan. Aku berdoa dalam hati semoga saja hari ini semuanya berjalan dengan lancar, sungguh aku tidak ingin membuat mbak Elva terbebani dengan keberadaan ku di kosannya. "Neng turun dimana?" Aku terkejut mendengar pertanyaan itu."Di depan aja ya bang." Aku lalu mencari uang di dalam dompetku untuk membayar angkot, lalu setelah itu aku turun. Cafenya tepat di seberang sana jadi aku harus menyeberangi jalan raya lagi. ........ "Tuan Edward hari ini jadwal anda mengunjungi salah satu anak proyek yang sedang kita bangun di daerah kawasan Bandung." Kata Sekertaris James, orang-orang di kantor sering memanggilnya dengan sebutan Edward kecuali kalau keluarga nya mereka sering memanggil nya dengan nama James. "Baiklah, beritahu Roni untuk segera menghubungi saya!" Lalu setelah itu James memasang kembali Jas miliknya, hari-hari nya sangat membosankan seperti ini saja dan dia ingin sesuatu yang beda namun apa? Dia saja sampai bingung. Jika berkumpul bersama kedua temannya itu maka habislah James, dia selalu saja di sodorkan wanita oleh temannya namun James selalu menolak, ia tidak pernah mau menyentuh wanita selain istrinya kelak. Ia tidak ingin seperti ayahnya dulu, Ibunya selalu menceritakan apa yang Ayahnya lakukan di masa lalu jadi James tidak ingin mengulangi hal itu lagi. Lebih baik ia menyibukkan diri dengan berkas-berkas miliknya dari pada bermain wanita yang nantinya dapat membuat James di marahi sang ibu. James sampai di tempat pembangunan hotel miliknya di kawasan Bandung, dia turun dari dalam mobil lalu setelah itu memakai helm keselamatan untuk dapat mengecek secara langsung sampai mana pembangunan itu berlangsung. James menatap segala penjuru ruangan, hotel ini ia bangun untuk adiknya. Karena gadis kecil keluarga Smith itu sangat ingin memiliki hotel yang berada di Bandung kota yang sangat indah menurutnya. "Berikan sebuah lukisan di dinding sebelah sini, saya ingin semuanya terlihat sempurna. Jangan lupa warna pink di salah satu kamar nantinya!" "Baik Mr. Edward!" Jawab salah satu pekerjaan yang James ajak bicara. Lalu setelah itu James hendak masuk ke dalam mobilnya, dia akan ke cafe Adam karena jaraknya cukup dekat dengan tempat nya sekarang. "Awas!!" Teriak seorang wanita kepada James sambil mendorong pria itu dan membuat James terjatuh. Sedangkan wanita tadi mengalami luka di siku dan juga pergelangan kakinya. Dia menyelamatkan James dari sebuah mobil yang melaju dengan kencang. "Tuan anda tidak apa-apa? Tanyanya, James terdiam, dia masih syok. Sialan dia sampai lupa untuk membawa bodyguard tadi. "Tidak apa-apa, sepertinya kamu terluka." Kata James dengan lembut, dia tidak sadar dengan perkataan yang keluar dari dalam mulut nya. Lalu tidak beberapa lama supir James yang sempat ijin ke toilet tadi kembali. "Tu---tuan...maafkan kelalaian saya. Karena saya anda hampir kecelakaan." Ucapnya dengan takut sedangkan James tidak peduli sekarang yang ia pedulikan adalah keadaan wanita yang menyelamatkan diri nya. "Kita ke rumah sakit sekarang!" Lalu dengan cepat supir tadi membuka pintu untuk James sedangkan James membawa wanita tadi untuk ia bawa ke rumah sakit. "Oh astaga tidak tidak perlu tuan, saya baik-baik saja." Katanya sambil mencoba menolak ajakan James namun James tidak peduli ia berhutang nyawa kepada wanita ini maka dengan ia membawanya ke rumah sakit James tidak akan merasa bersalah nantinya. "Turuti saja perkataan ku, kau tidak lihat jika siku dan pergelangan kaki mu terluka!" Mendengar hal itu membuat wanita tadi terdiam dan mau tidak mau ia mengikuti perkataan James. "Siapa nama mu?" Tanya James setelah ia dan wanita tadi masuk ke dalam mobil, lalu mobil pergi meninggalkan tempat tersebut. "Aya, tuan." Jawabnya, ya wanita itu adalah Ayana dia baru saja selesai interview di cafe seberang dan tidak sengaja melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi yang hampir menabrak pria yang hendak masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di pinggir jalan. Dan sialnya Aya malah terluka, astaga coba saja tadi dia pura-pura tidak melihat maka sekarang dirinya sudah sampai di kosan dan makan mie pedas bersama Mbak Elva. Lalu setelah itu hening, Ayana menahan sakit di pergelangan kakinya, inilah dia sok jadi pahlawan dan lupa jika tadi dirinya menggunakan sepatu hak tinggi. "Kita sudah sampai." Lalu setelah itu James menggendong Ayana, beberapa orang yang melihat itu terkagum dan tidak menyangka jika pria tampan dari keluarga Smith itu tengah menggendong seorang wanita cantik. Ayana menutup wajahnya, aduh dia sangat malu sekarang. Namun dia tidak berani untuk membuka suara lebih baik seperti ini saja agar cepat selesai. "Tolong periksa pergelangan kakinya dan berikan obat juga di sikunya." Kata James kepada dokter pria yang terkejut atas kedatangan pria itu. James seperti bukan dirinya saja, sejak kapan dia secerewet ini hanya karena seorang perempuan yang menolong dirinya. Ayana berbaring di atas brangkar di dalam ruangan itu, dia hanya diam saja sambil menunggu dokter tersebut memberikan obat di siku dan memberikan perban di kaki nya. "Sudah selesai Mr. Edward, dan ini obat yang nona ini butuhkan." Dokter tersebut memberikan obat yang ia maksud, Ayana dengan cepat bangun dia harus segera pulang karena ini sudah hampir sore. "Terima kasih." Ucap James yang membuat dokter tersebut syok dan Ayana menatap nya dengan heran. "Aku bisa jalan sendiri, tidak usah di gendong." Tolak Ayana saat James hendak kembali menggendong dirinya. "Kamu yakin?" Ayana menganggu, lalu setelah itu keduanya berjalan keluar dari ruangan dokter tadi. "Terima kasih tuan, saya harus pulang sekarang." Kata Ayana, James menatap mata gadis yang ada di hadapannya. Dia terpaku sejak kapan dirinya bisa menghawatirkan orang lain selain keluarganya. "Aku akan mengantarmu pulang." Ayana kembali terdiam, dia tidak boleh sedekat ini dengan orang asing terlebih dia adalah orang baru di kota ini. "Tidak perlu tuan, saya bisa pulang sendiri." Lalu Ayana pamit pergi dari sana tanpa menatap James kembali sedangkan James menatap kepergian Ayana dengan tidak rela. "Ini bukan rasa ketertarikan dengan lawan jenis kan?" Tanya James pada dirinya sendiri, lalu setelah itu ia masuk ke dalam mobil. Dia merenung sejenak, "Ah sialan, kenapa gadis itu seperti memiliki daya tarik yang kuat!!" Maki James yang membuat supir nya terkejut namun tetap diam tanpa bertanya kepada bosnya tersebut. ....... Hello.... Aku up cerita ini pelan-pelan ya dan gak buru-buru. Baca selagi on-going dan kasih komentar atau kritik kalian disini okey. See u guys Kalimantan tengah, 13 Maret 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN