Happy Reading
.......
James mengantar Ayana ke kosan dimana gadis itu tinggal, mata James menatap ke segala arah di sekitar kosan tersebut tidak menyangka jika gadis secantik Ayana mau tinggal di sini.
"Terima kasih karena sudah mengantar ku pulang." Ucap Ayana kepada James yang masih terheran-heran dengan tempat tinggal seperti ini. Ayana hanya bisa memakluminya saja karena bisa dia tebak bawah pria ini adalah orang yang berada dan mungkin tidak pernah tinggal di kosan.
"Tidak masalah, ehmm kamu tinggal sendirian di sini?!" Tanya James, beberapa penghuni kosan menatap ke arah Ayana dan James dengan sangat penasaran. Ayana tidak nyaman di lihat oleh perempuan-perempuan itu seakan-akan dirinya berbuat salah, James menyadari hal tersebut dan langsung bertindak.
"Apakah kalian tidak memiliki pekerjaan yang lain selain memantau kami?!" Tanya James dengan jengkel, membuat Ayana terkejut karena suara James yang begitu maskulin di pendengarannya.
Semua orang langsung pergi dari sana, kemudian tidak lama Elva datang menghampiri Ayana dan Juga James. Mata Elva membulat ketika melihat James, dia sangat terkejut dengan kedatang yang sangat tiba-tiba dari Bosnya. Begitupun dengan James, dia cukup terkejut dengan Karyawan nya yang berada di tempat yang sama dengan gadis yang ia cintai.
"Pak Edward?!" Tanya Elva dengan heran melihat Bosnya yang pulang bersama dengan Ayana. Sebenarnya Edward adalah bosnya saat di perusahaan yang tempatnya bekerja dulu.
Mata Edwar menatap ke arah wanita yang memanggilnya, dia tidak terlalu mengenal wanita ini namun saat dia melihatnya dan mengingat siapa wanita ini dia cukup terkejut sebab wanita ini adalah salah satu karyawan nya yang di fitnah karena menggelapkan dana. James tidak ada niat untuk memecat wanita ini karena memang dia tidak bersalah dan ternyata dia di jebak oleh temannya di satu perusahan. Namun dia memilih untuk berhenti dan tidak lagi kembali ke perusahaan James di daerah bandung.
"Ayana? kamu datang bersama Pak Edward?" Tanya Elva dengan heran ketika Ayana teman adiknya datang bersama dengan Edward.
"Aku khawatir sejak semalam kamu tidak pulang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya nya lagi dengan nada khawatir membuat Ayana tersenyum.
"Aku baik-baik saja mbak, hanya saja ada sedikit masalah saat aku bekerja namun untungnya James menolongku." Jelas Ayana membuat Elva tersenyum lega. James kebingungan melihat keakraban antara Ayana dan juga mantan Karyawannya ini.
"Kalian saling mengenal?" Tanya James pada akhirnya.
"Tentu saja, Ayana adalah teman adik ku dia baru beberapa hari di bandung dan mencari pekerjaan disini." Jelas mbak Elva membuat James mengerti.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya hmm....jika kamu membutuhkan pekerjaan aku bisa memberi mu pekerjaan."
"Ah itu...aku sudah mendapatkannya, aku bekerja di sebuah Cafe dekat sini besok."
"Sepertinya obrolan kita akan lama, kalau begitu Pak Edward apa anda ingin mampir sejenak?" Tawar Elva membuat James tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan Ayana.
"Tentu saja, jika kalian tidak keberatan." Ucap James, kemudian dia mengikuti langkah keduanya. James terus menatap punggung Ayana, dia baru tahu tujuan gadis ini ke bandung adalah untuk mencari pekerjaan. Tapi apakah hanya itu? entahlah James akan mencari tahunya lebih jauh nanti.
.........
Di cafe milik nya Adam terus melihat jam, kemarin dia, Brayen dan juga James janjian akan pulang bersama-sama ke Bali hari ini namun seperti nya James ingkar janji. Atau dia tidak ingat dengan ibunya yang terus merindukannya.
"Bagaimana? Apakah bisa di hubungi?" Tanya Brayen sembari duduk di hadapan Adam, keduanya sudah menunggu sejak satu jam yang lalu namun James masih tidak ada tanda-tanda untuk datang.
"Tidak ada, entah kemana si bodoh itu! Sejak tadi Aunty selalu menanyakan nya." Ucap Adam dengan kesal, saking kesalnya ia bahkan hendak melempar ponsel itu ke lantai cafe namun dengan cepat Brayen menenangkan nya.
"Sudahlah jangan terbawa emosi seperti itu, mungkin dia sedang bersama wanita dan you know lah hahah." Di akhir kalimatnya Brayen tertawa ketika membayangkan bahwa James tengah bersama dengan seorang wanita di atas ranjang.
"Apakah otak mu mau di korek menggunakan garpu yang ada di cafe ini hah?! Ini sangat tidak lucu Brayen!" Sudah kesal dengan James yang tidak datang-datang di tambah lagi dengan manusia m***m yang satu ini, membuat Adam hampir meledak rasanya.
"Aww takut hahah." Rasa ingin tertawa terpingkal-pingkal Brayen muncul seketika saat melihat wajah Adam yang tidak biasa seperti itu.
"Dasar manusia gila!" Setelah mengatakan itu Adam memanggil pelayan untuk membuatkan nya kopi, dia kembali mendapatkan pesan dari Ibu James yaitu Inez. Rasanya Adam sangat berdosa karena selalu berbohong terhadap wanita baik seperti Ibu James ini. Namun James yang tak punya otak selalu saja menjadikannya tumbal agar bisa menyelesaikan masalah dengan wanita cantik tersebut.
Sampai malam tiba pun James tidak kembali, jadi hari itu mereka cancel lagi untuk kembali ke Bali karena ulah James entah kemana dia pergi. Bahkan ponsel nya satu harian tidak aktif. Bahkan Brayen dan Adam sudah menanyakan keberadaan James kepada Roni namun pria itu juga tidak mengetahuinya.
Di tempat lain James berada di sebuah kamar hotel, sejak ia pulang dari kosan Ayana dia tidak bisa melupakan gadis itu. Entah pelet apa yang Ayana gunakan sehingga dia terus memikirkan gadis yang baru ia kenal tersebut. James sampai melupakan janji nya hari ini, sampai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar hotel miliknya.
Tok Tok Tok
James bangun sembari mengancing kemejanya, kemudian dia membuka pintu kamarnya dan melihat Roni yang berdiri di depannya.
"Ada apa Roni?!" Tanya James dengan suara beratnya. Rasanya Roni sangat ingin berteriak di telinga bos nya ini. Apakah dia lupa dengan jadwal-jadwal hari ini? Sungguh tidak bisa di tebak, apakah James mulai pikun? Padahal umurnya baru dua puluh delapan tahun.
"Apakah anda lupa dengan janji bersama Pak Brayen dan juga Pak Adam?!" Astaga rasanya emosi Roni sudah sampai ke ubun-ubun melihat kepolosan dan tanpa rasa bersalah di wajah Bosnya tersebut.
"Aah iya saya lupa." Hanya itu, hanya itu kata-kata yang keluar dari dalam mulut James yang membuat Roni harus ekstra sabar.
"Dimana ponsel saya Roni?!" Tanya James dia baru sadar bahwa sejak tadi tidak memegang ponsel miliknya.
Roni mengeluarkan ponsel milik James, ponsel ini dia temukan di sebuah club.
"Terima kasih Roni, kamu bisa kembali. Saya akan menginap disini dan kembali lah besok untuk membawa baju baru saya!" Roni hanya mengangguk lalu pergi dari sana. Mau marah namun ia hanya bawahan dan James sangat berjasa untuk hidup nya jadi dia harus ekstra sabar.
.......