20. Tanda Merah di Pundak Laili

1470 Kata

"Mari, saya pamit ya, Om, Tante," pamit Suci pada Arya dan juga Ririn, setelah mereka bersalaman. Tak ada suara yang keluar dari bibir Ririn, bagai terkunci rapat. Suci dan lelaki yang bernama Salman pun berlalu dari hadapan mereka. Laili masih sempat melambaikan tangan pada Suci yang kini sudah di dalam mobil. "Ayo, masuk!" ajak Arya sambil mendorong kursi roda Ririn. "Iya, Pa. Duluan saja, saya tutup pagar dulu," sahut Laili sambil tersenyum manis dan tentu saja membuat Ririn jengah. Arya pun mendorong kursi roda Ririn masuk ke dalam, meninggalkan Laili yang masih sibuk menutup pintu pagar. "Teteeeh!" pekik Anes senang sambil menghambur ke pelukan Laili. "Aduh, adik Teteh. Kangen banget tahu gak?" Laili mencium gemmas pipi Anes. "Teteh ke mana aja? Anes juga rindu."Anes menggelayu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN