Arya menoleh pada istrinya, lalu berjalan mendekat. Ia mengkungkung Ririn di kursi rodanya, wajah keduanya begitu dekat, hingga nafas keduanya bisa terhirup ke indera penciuman mereka. "A-ada apa, Pa?" tanya Ririn takut, karena wajah Arya memerah. "Lelaki itu bukannya mekanik rumah sakit? Kenapa dia bisa ada di sini juga? Tidak mungkin sebuah kebetulankan? Ada hubungan apa kamu dengan lelaki itu? Katakan!" "Mama gak t-tahu. Emangnya siapa lelaki itu?" Ririn kembali berlakon. Arya melepas kungkungannya, namun matanya tak lepas dari menatap Ririn dengan tajam. "Jika sebuah keburukan yang ditutupi, suatu saat pasti baunya akan tercium," ujar Arya dengan ketus. Ia memelilih tidak memedulikan Ririn dan semua orang yang ada di sana. Jauh di lubuk hatinya, ia yakin, istri sahnya menutupi se

