Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, Dean melangkah santai bersama dokter Qirhan memasuki kafe. Sampai akhirnya Dean baru menyadari sesuatu setelah pintu masuk kafe tertutup kembali. "Dok," panggil Dean mulai panik. Dokter Qirhan menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Dean. "Dokter yang ngajak saya ke sini kan? Kalau gitu artinya Dokter traktir saya ya?" tanya Dean canggung, malu besar. Dokter Qirhan langsung tertawa mendengar pertanyaan Dean. "Tentu saya yang akan traktir, Dean tidak perlu khawatir." Dean menghela nafas lega, mulai berjalan lebih tegap, dia tak perlu lagi khawatir dengan masalah uang. Dokter Qirhan kembali tertawa kecil melihat ekspresi Dean. Selesai memesan makanan dan minuman, Dean melepas ikat rambutnya yang tadi bermodel ekor kuda, mengubahnya jadi cepa

